
Si ikan setengah matang David – aku menyebutnya demikian dikarenakan sikapnya yang kekanak-kanakan untuk ukuran orang dewasa – jadi mirip ikan yang belum matang sepenuhnya alias setengah matang, juga menunjukkan tatapan memuja kepada Aqilla.
Lihat saja bagaimana ia membagi semua barang kesukaannya untuk Aqilla. Jangan-jangan kalau Aqilla menginginkan sertifikat rumah ini, si ikan itu juga bakal mencuri untuknya. Woah, bahaya ini…
Aku satu-satunya orang di rumah ini yang memandang curiga kepada wanita itu, untuk sebuah alasan. Jika tidak ada orang yang mempercayaiku, maka aku harus mencari bukti terlebih dahulu, lalu memaparkannya ke mereka. Tepat di depan hidung…
Itu sebabnya aku mengendap-endap ke kamarnya. Untung aku memakai sandal tebalku, jadi wanita itu tidak bakalan menyadarinya, saat aku menyelinap. Suara-suara itu menghentikan langkahku. Aku tajamkan telingaku.
“Edric, bagaimana ini???”
“Tenang, kita akan menyelesaikan perkara ini”
“Kau yakin”
Eh???
Itukan suara adik setanku.
Oh my, ternyata adikku itu nakal juga ya, sampai berani masuk kamar wanita. Tapi, apa yang sedang mereka bicarakan???
Bahasa mana tuh???
Owe….owe….howeekkkk…
Eh itu terdengar seperti suara bayi???
Cup…cup..cup…cup…sayang. Jangan menangis ya…
Yang itu suara Edric kan??? Aku tidak salah dengar ya???
Saking penasarannya aku memberanikan diri untuk menerobos masuk. Demi semua bidadari yang molek, pemandangan di depan mataku itu membuatku terkejut setengah mati, nyaris jantungan pula….
__ADS_1
Tidak pernah sedetikpun dalam pikiranku akan terlintas bayangan semacam ini. Ya ampun, apa aku benar-benar melihatnya???
Anak usil itu sedang…. ???
Itu benaran bayi kan???
Ia menggendong bayi???
Si Evil Edric menggendong bayi????
Setahuku Edric alergi terhadap makhluk semacam bayi, hewan peliharaan, atau tumbuhan. Mustahil. Ini benar-benar mustahil bagiku.
“Cup…cup..cup…cup…” itu pemandangan si setan kecil berusaha membuat si bayi tenang.
Ok. Baiklah. Aku rasa aku butuh udara segera, karena sepertinya aku mengalami halusinasi. Demi para wanita seksi di catwalk, meskipun aku mengerjapkan mataku berkali-kali tetap saja pemandangan Edric menggendong bayi itu enggan enyah dari mataku.
Hah???
Aqilla dan Edric menoleh saat mendengar ucapanku. Dan keduanya memasang wajah kaget yang serupa.
“Kak apa yang kau lakukan disini???” tanya si setan kecil itu.
“Bayi siapa itu???” bukannya menjawab, aku malah bertanya saking kagetnya.
“Eng… itu…” Edric menoleh ke Aqilla, wanita itu balas menoleh, sehingga keduanya saling toleh menoleh. Ya ampun apa susahnya sih menjawab pertanyaanku???
“Anakmu Edric??”
“Bukan…” tolak Edric buru-buru.
Baiklah, kalau Edric tidak mau mengatakan yang sebenarnya, biar Papah saja yang mengurusnya. Kau nikmati saja omelan Papah. Aku berbalik menuju pintu.
__ADS_1
“Mau kemana???” Aqilla merentangkan kedua tangannya, juga menjadikan tubuh mungilnya sebagai penghalang, sepertinya wanita ini tidak menginginkan aku keluar dari kamarnya.
Oho, kalau saja situasinya berbeda, aku akan dengan senang hati berdiam di kamarmu my litte babe…
“Minggir” bentakku
Aqilla tetap tak bergeming, “Paman kau tidak boleh keluar sebelum berjanji tutup mulut”
“Tidak mau, aku justru mau melapor ke Papah”
“Paman kau harus melangkahi aku dulu…”
Aku tersenyum geli, ya ampun babe apa kau pikir tubuh mungilmu itu bisa menghalangiku.
“Atau paman mau melihat penaku” ancamnya.
Glekkk, ,
Wanita ini kumat lagi sikap sadismenya.
Hanya satu cara yang menurutku ampuh untuk melumpuhkan wanita ini. Mengabaikan penonton berupa setan kecil, dan seekor eh seorang bayi, aku mengangkat tubuh wanita itu.
Benar-benar seringan kapas. Sebuah jeritan kaget dari wanita itu pun tidak menghentikan langkah selanjutku. Dengan santainya serta tak merasa bersalah aku membawa wanita itu untuk kemudian aku lemparkan ke kasur.
Sebelum ia sempat bergerak, aku memerangkapnya. Mengulangi kembali pose membuat penjara alaku yang aku gunakan kepadanya sebelumnya – kedua tangan dipaku ke ranjang, kedua kakiku menekan kedua kakinya. Mmmm I am going to love this pose.
“Apa aku mau melihat penamu?? Bagaimana kalau kau melihat penaku??” sindirku. Aku dengan senang hati menunjukkannya princess.
"Terakhir kali penamu mengancam, satu tusukan menghujam ranjang hotel. Bagaimana kalau penaku yang menghujammu sekarang?? Want to try??" Aku balik mengancamnya. Dan aku akan melakukan dengan senang hati ancamanku babe….
***
__ADS_1