
AQILLA POV
Masih di kamar paman mesum…
Jangan panggil aku Aqilla Embun Gunadhya kalau tidak bisa membalasmu paman mesum. Toh sesekali makhluk satu itu harus diberi pelajaran supaya ia berpikir ulang kalau mau mesum kepadaku.
Makhluk itu, sudah dikasi hati masih minta rempela. Dikasih baik sedikit, sudah main kecup. Memang perlu diberi pelajaran. Emmm, kelihatannya hadiah dari Mr Nemo bisa dipakai saat ini.
Aku sengaja bersikap semanis madu untuk membuatnya lengah, dan tidak mencurigai kegiatan nakal yang bakal aku lakukan untuk membalas perbuatannya.
Sialan paman itu, gara-gara kissmarknya, aku terpaksa memakai baju berkerah tinggi. Masa aku mau berseliweran di rumah ini dengan tanda kecupan miliknya. Tak sudi…
Dugaanku benar, paman itu mulai lengah dan tidak mempertanyakan sikapku yang memilih tidur di kamarnya dengan dalih menemani Seva tidur.
Aku juga sudah mengira paman mesum itu bakalan turut tidur denganku dan Seva – entah itu modusnya atau ia memang pingin tidur karena rasa ngantuk. Aku lebih condong pada alasan modus. Dia kan makhluk yang suka menggunakan berbagai cara untuk melancarkan serangan mesumnya.
Tapi entah mengapa aku lama-lama terbiasa dengan hal itu. Sepertinya ia sudah menjadi paman mesumku. Hanya milikku.
Aku menggeleng mengeyahkan pemikiran itu. Ya ampun sejak kapan aku punya pemikiran seperti itu. Aku tidak boleh membiarkan pria itu masuk ke pikiranku…
Sepuluh menit…
Aku masih menutup mataku, belum berani membukanya.
Lima belas menit kemudian….
Aku membuka sedikit kelopak mataku, berusaha melihat apakah ada pergerakan dari paman mesum. Emmm, ruangan ini benar-benar hening.
__ADS_1
Aku membuka mataku, benaran hening. Secara perlahan, berusaha tidak menimbulkan bunyi sekecil apapun aku bangun dari tidurku. Aku melihat ke arah samping, tuh benarkan si paman mesum ikut tidur disini.
Pria berotak kotor itu tertidur lelap di sebelah Seva. Dengkuran halusnya bersaing dengan dengkuran Seva. Paman memang terlihat manis ketika tidur. Aku tersenyum, met bobok paman. Nikmati mimpimu selagi aku beraksi.
***
AUTHOR POV
“Yakkk, ada apa dengan kalian berdua, tampangnya sudah mirip baju yang belum disetrika” omel Arion sebal.
Habisnya sikap muram si ikan dan si monyet membuat suasana di meja makan mendadak drop. Sirna sudah nafsu makan Arion akibat kemuraman kedua makhluk itu.
Edgar menyenggol David, dibalas dengan menyenggol balik oleh David. Keduanya bersikeras saling senggol, saling melempar kesempatan untuk menjawab pertanyaan Arion.
“YAKKK, KALIAN BERDUAAAA….” bentak Arion tak sabaran. Bukan menjawab, malah main sikut-sikutan begitu. Aishhh….
Untungnya sapaan hangat Aqilla yang memasuki meja makan menyelamatkan keduanya dari interogasi lanjutan, karena detik kemudian Arion, diikuti Edric menoleh ke arah Aqilla.
“Lagi menghadiri acara amal” jawab Edric.
“Oya, kenapa kembaranku tidak kelihatan dari tadi ya???” tanya Arion menyadari ketiadaan Arkan.
“Sedari siang kak tidak keluar kamar. Tidur kali karena kecapaian habis meeting di neraka. Habis ketemuan sama serigala-serigala pemegang saham di Blue Sapphire” jawab Edric santai, tanpa menyadari di seberang meja wajah Aqilla mendadak semerah tomat saat menyinggung kata “Tidur di kamar”.
“Kak Arkan jadi hombreng…” pasang-pasang mata yang memenuhi meja makan itu, pada kaget karena jeritan tiba-tiba David, mana pakai mendadak berdiri, yang membuat kursinya tersentak sampai jatuh pula.
“Apaa??” jerit kompak Arion, Edric, serta Aqilla.
__ADS_1
“Iyaa…” jerit Edgar turut berteriak pula, ia juga membuat tiga penghuni meja makan lainnya terkesiap kaget akibat tindakan spontannya itu.
“Aku dan Edgar melihat Kak Arkan kencan sama pelayan di Sundae lovers”
“Yakkk, jangan becanda begitu. Arkan tidak seburuk itu taukkk” Arion membela kembarannya.
Rupanya Arkan memilih timing yang tepat untuk muncul di meja makan dengan wajah barunya. Cukup tepat untuk percakapan yang sedang berlangsung.
“Kyaaaaaaa” teriak David kaget. Edgar juga menunjukkan ekpresi serupa. Si Edric hanya terperangah kaget, terlalu terkejut untuk bicara.Arion sampai mengurut dada saking jantungannya. Hanya Aqilla yang tidak menunjukkan reaksi apapun.
“Kenapa?? Ada apa?? Mengapa kalian terkejut begitu??” tanya Arkan tak kalah bingungnya.
“Yaak Arkan, kenapa wajahmu jadi seburuk itu” bentak Arion.
“Tuh kan kak salah, buktinya Kak Arkan seburuk itu tuh…” komentar David. Arion melotot tajam ke ikan asin.
“Yaak kembaranku, balik ke kamarmu sana” perintah Arion.
“Kenapa??”
“Issh, balik sana. Cuci mukamu di kamar” Arion berkata dengan ngotot.
“Hahahahahahahahahahahahahahahahahah” ketawa kompak trio Edric, David, dan Edgar bergema memenuhi ruang makan.
Sementara si Arion menunjukkan ekspresi lebih aneh lagi, antara ingin marah sekaligus ketawa terbahak-bahak. Kalau Aqilla, ia hanya menyimpan senyumnya dengan cara menundukkan kepala.
Ya iyalah semua penghuni pada ketawa, soalnya secara diam-diam – saat Arkan tertidur, Aqilla melukis wajah Arkan memakai Henna pemberian David.
__ADS_1
Tak tanggung-tanggung dengan kepandaiannya melukis ia merubah wajah Arkan yang tampan menjadi sangat hancur. Dua lingkaran hitam di masing-masing mata. Tulisan “Otak mesum” di bagian kening. Serta sapuan acak di seluruh bagian lainnya.
Poor of you Arkan….