Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 57


__ADS_3

ARKAN POV


At Hospital….


Rasanya Aqilla sudah menyiksaku dengan tindakan sadisnya, karena aku merasa kepalaku pusing sekali. Belum lagi sekujur tubuhku yang mendengingkan teriakan sakit. Oh my, apa yang dilakukan pumpkinku itu?? Mengapa aku merasa babak belur saja.


“Edric lihat!! tangannya!!”


Ya ampun Aqilla, mengapa kau berteriak di telingaku?? Keras sekali.


“Lihat!! panggil dokter cepat!!”


Hadeuh, mengapa mataku melekat satu sama lain, seperti ada yang menuang lem ke kelopak mataku. Rasanya aku ingin membukanya namun sulit sekali.


Satu…


Dua…


Tiga…


Berhasil!!


Aku memaksakan diri, sehingga akhirnya berhasil membukanya samar-samar.


“Kakak? Kau baik-baik saja??”


Aku menatap wanita itu Aqilla?? Itu benar Aqilla kan?? Mengapa ia memanggilku Kakak??


“Kak, Oh syukurlah kau sadar juga….”

__ADS_1


Apa yang terjadi??


Mengapa wanita itu terlihat berbeda??


Lebih kurus, tak terurus, dan pucat. Aku mengerjap mataku berusaha menyesuaikan dengan cahaya yang masuk, lalu…


Eh,, apa yang terjadi pada Aqilla?? Mengapa tangannya di perban begitu??? Ada beberapa goresan luka di wajahnya. Aku mengangkat tanganku berusaha menyentuh lukanya.


Aqilla tersenyum, ia menangkap tanganku dan meletakkannya di pipinya.


“Aku senang kau sudah sadar” ucapnya sambil menatapku bahagia.


Astaga, apakah aku berada di surga sekarang?? Sampai bertemu bidadari secantik ini??


“Apa yang terjadi??” tanyaku.


“Ya ampun ada penjahat di kamar itu!” jeritku sadar.


Aqilla memindahkan tanganku ke tepian ranjang, kemudian menepuknya pelan, “Orang kiriman pengkhianat itu berusaha menghabisiku. Untung alarm berbunyi kalau tidak…”


Wanita itu mengangkat pundaknya keatas, “Tapi sekarang ia sudah dipenjara, yeah dengan pundak sakit akibat tembakan. Aku tidak simpati kepadanya. Aku jahat ya??”


Aku tersenyum seraya menggeleng pelan, “Apa kau melakukan sesuatu kepadaku selama aku tertidur my sweetheart?? Mengapa kau memanggilku kakak??”


“Tidak, hanya saja aku sudah berjanji akan berhenti memanggil paman mesum kalau pam… maksudku kakak sadar”


“Jangan, tetap saja memanggilku paman mesum. Aku anggap itu panggilan kesayanganku” tolakku.


“Oke, paman mesum. Oya, sepertinya ucapan Edric benar. Katanya karena Kak Arion sudah sadar maka paman juga bakalan segera sadar. Apa memang paman dan Kak Arion benar-benar bisa saling merasa satu sama lain??”

__ADS_1


“Yah, mau bagaimana lagi. Bawaan anak kembar” jawabku santai. Sepertinya aku berhutang maaf kepada Arion. Karena aku, ia juga turut pingsan.


“Berapa lama kakakku tak sadarkan diri??” tanyaku penasaran sekaligus cemas.


“Tiga hari. Sama seperti paman. Bedanya, Kak Arion sadar satu jam yang lalu. Tahu tidak, gara-gara pingsan misteriusnya Kak Arion yang tanpa sebab, tanpa tanda-tanda penyakit, atau semacamnya para dokter disini jadi bingung” ucap Aqilla sambil terkikik. Oh ya ampun, aku benar-benar berada di surga.


Suara pintu dibuka membuatku dan Aqilla menoleh. Disana berdiri adikku bersama seorang Dokter yang berjalan mendekati ranjangku.


“Hati-hati kak, ruangan ini ada CCTV nya lho, jadi kalau kau berbuat mesum bisa ditonton satu rumah sakit” entah Edric sedang mengejekku, membohongiku, atau menggodaku. Mana ia pakai memasang wajah tengilnya pula. Sekarang aku terhempas di neraka karenanya.


“Edric…” tegur Aqilla yang dibalas Edric dengan senyum jahil, “Hey, aku kangen sama kakakku tauk, sudah lama aku tidak mengodanya”


Dasar evil, kau tetap evil seperti biasanya. Aku tersenyum melihatnya.


“Ssst, ini rumah sakit, harap tenang. Lagipula bisakah kalian minggir karena aku harus memeriksa pasienku” tegur Dokter dengan tegasnya.


“Silahkan dokter…” jawab Aqilla dan Edric serempak.


Satu jam kemudian setelah berita mengenai sadarnya aku, satu persatu makhluk tak jelas mendatangi kamarku sehingga kini kamar tempatku dirawat sudah bak pasar yang ramai saja. Ya ampun, apa di rumah sakit ini tidak diterapkan jam besuk apa.


“Percuma saja kau mengeluhkan pelanggaran ini ke para suster. Justru David dengan mata puppy eyesnya serta Edgar dengan rayuan gombalnya lah yang membuat para suster menutup mata dengan kunjungan overload ini” itu suara Kak Arion yang bicara dari arah sofa. Ia masih memakai pakaian rumah sakit sepertiku. Sekarang ia sedang asik membaca majalah remaja. Di sebelahnya aku melihat Edric dan seorang pria asing asik bermain PSP bersama. Siapa pria itu??


Lalu tatapanku beralih ke arah David dan Edgar yang duduk di sofa satuannya lagi, keduanya seperti orang kelaparan mengapit Aqilla yang duduk di bagian tengah sofa dan sedang mengupas apel. Yakkk, yang sakit aku, mengapa kedua bocah tengik ini yang dikasih makan??


Aqilla menyodorkan apelnya, menawarkannya ke Jerome yang duduk terpisah di dekat pintu masuk. Jerome menolak seraya berkata, “Sedang tugas jaga manis…”


Oh, dia sedang menjagai aku rupanya. Lho, kenapa aku tidak melihat Seva??


***

__ADS_1


__ADS_2