Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 3


__ADS_3

“Tidak, aku tidak akan menikah. Suruh mereka saja untuk memberikan papah cucu” jawabku seraya berdiri untuk kemudian menghampiri trio menyebalkanku itu.


Untungnya tanganku terbilang cekatan dalam melucuti apapun yang melekat di badan – berkat praktek rutinku kepada para wanita, sehingga dengan mudahnya aku melepas sandal tebal yang aku pakai saat ini – aku sengaja memakai sandal tebal dengan fungsi peredam suara supaya memudahkanku mengendap-endap di belakang wanita incaranku, untuk aku arahkan ke kepala ketiganya secara bergiliran.


Aku mengabaikan suara meringis ketiganya yang bercampur teriakan amarah papah ku sebelum meninggalkan ruangan. Mending keluar mencari hiburan daripada mendengar desakan papah. Yang ada nantinya disuruh buat cucu as soon as possible.


No way...


***


AQILLA POV


Tengah malam, di tempat yang tidak bisa disebutkan namanya….


“Apa kau yakin rencana ini akan berhasil Madam Kim??”


-Just Kim Not Kimi Hime-


“Iya, tuan”


“Aku bakalan berutang budi kepadamu untuk bantuan ini”

__ADS_1


“Jangan bicara begitu tuan. Aku hanya membalas kebaikan ayahnya nona ini di masa lalu”


“Dan kebaikan apa itu??? Sampai kau memberanikan diri masuk ke tempatku. Setahuku, kalian sangat alergi terhadap kami para penegak hukum, benarkan???”


“Maaf, ketika mengulurkan tangan kanan tidak sebaiknya tangan kiri mengetahuinya…”


Percakapan keduanya hanya masuk telinga kiriku lalu keluar lagi melalui telinga kananku.


Ah paman yang dipanggil Tuan itu ternyata pamanku. Demi Tuhan, aku kehilangan ayah dan empat paman kesayanganku dalam semalam, untuk kemudian mendapat ganti berupa paman dari pihak ibuku yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya.  Dan sekarang berdiri di depanku pula.


Berbicara mengenai madam cantik yang dipanggil Madam Kim, tidak banyak yang aku ketahui mengenainya kecuali ia adalah germo di tempat bordil berkedok tempat hiburan ini. Plus di masa lalu madam cantik ini pernah bersinggungan dengan ayahku. Entah persinggungan apa itu.


Dan sekarang aku berdiri di sini menyaksikan pamanku si penegak hukum yang sedang berbincang dengan santainya dengan si germo – satu dari kumpulan orang yang seharusnya menjadi musuh si lencana hukum.


“Anda sangat beruntung tuan, sepertinya wajah jelita terwarisi turun temurun dalam keluarga anda. Jika saja aku secantik keponakan anda, maka aku akan menjadi penghibur yang beruntung” ucap madam itu, entah memujiku dengan tulus atau hanya faktor kebiasaan. Secara wanita penghibur memang diharuskan bermulut semanis madu. Aku sengaja mendesah – benar-benar mendesah,


“Aku baru tahu kalau dalam kamus paman, “Melindungi keponakan tercinta” Aku sengaja memberi penekanan pada kata tercinta sebagai bentuk ironi,


“Berarti mendandani serta menyimpanku di rumah bordil maka paman kau harus mencari kamus lain” ucapku tegas kepada pamanku si kepala besar yang setahuku merupakan Inspektur polisi – hey diantara pertumpahan darah dalam perebutan kekuasaan itu kami belum mendapat kesempatan untuk berkenalan dengan layak.


Kemudian aku mengarahkan pandanganku ke madam cantik disebelahnya, “Maaf bukannya aku bermaksud berkata sekasar itu, hanya saja…”

__ADS_1


Madam cantik itu membalasku dengan senyuman, “Tidak apa-apa. Kami pernah dimaki dengan kata yang lebih buruk” balasnya kepadaku.


“Lagipula kau sudah mengalami hari yang buruk, kau berhak untuk berkata kasar” ucap madam cantik itu kembali.


Aku tersenyum – mungkin ini senyum pertamaku selepas pembantaian, “Ya, kita bisa memaki bersama madam”


Terharu mendengar aku memanggilnya dengan lembut, madam cantik itu memberiku seulas senyum manis, “Ya, kita akan menghabiskan malam ini untuk memaki sesuka hati”


“Aqilla” panggil pamanku,


“Maaf kalau selama ini paman tidak mengetahui mengenai keberadaanmu. Jujur ini juga membuat paman terkejut. Tidak setiap malam paman didatangi oleh orang semacam Madam Kim, yang lalu mengatakan bahwa aku memiliki keponakan yang harus aku selamatkan”


Aku mengangguk, ya sejauh itu hanya bentuk anggukan yang bisa aku berikan sebagai bentuk penerimaanku.


“Sungguh maaf, paman harus mengakui perkataan Madam Kim ada benarnya. Tempat persembunyian yang paling baik adalah yang berada di depan hidung mereka. Pastinya mereka sibuk mengendus di tempat lain, tanpa menyadari orang yang mereka cari berada di depan mata mereka dan aku berani bertaruh bahwa rumah bordil ini menjadi tempat terakhir dalam benak mereka. Mereka tak akan mengira aku akan menaruh keponakanku yang masih di bawah umur dan masih terlihat belianya di ini”


“Dan aku berani bertaruh ada beberapa orang lainnya di duniaku tidak akan menyakitiku paman, jadi aku tidak perlu membuat paman repot” ucapku lembut.


Aneh rasanya memanggil orang asing di depanku ini sebagai paman, namun hanya ia satu-satunya keluarga yang aku miliki sekarang. Aku harus belajar membiasakannya.


***

__ADS_1


__ADS_2