
“Seandainya pelayan dan mamah tidak mengatakan tidak baik membawa bayi ke rumah sakit, mungkin David sudah menyusupkan Seva kemari” jawab Arion yang kembali membaca isi benakku.
“Eh mamah?? Mereka sudah kembali??” ucapku kaget
Kakakku itu mengangguk, “Ya iyalah, orang tua mana yang tidak langsung terbang pulang saat mendengar putranya tertembak. Kemarin papah bahkan seharian disini, sekalian mengusir lalat-lalat pers yang haus berita. Oya, sepertinya hari ini keduanya sedang memamerkan Seva kesana kemari, mungkin mereka tidak bakalan menjenguk”
“Apa?!” tanyaku kaget. Ya ampun papah, ya ampun mamah. Mimpi apa aku sampai punya orang tua nyentrik macam ini.
“Tenang, ada paman John yang mengawal” kali ini Aqilla yang bicara.
“Oya, Stiltskin, apa mereka sudah selesai menginterogasimu??” tanya David. Pria asing itu mengangguk.
Hah??
Stiltskin??
“Namamu Stiltskin?? Kok kaya rumplestiltskin??” ucapku kaget.
__ADS_1
Hilang sudah rasa penasaranku. Aku tidak berminat mengetahui siapapun dia, meski ia putra mahkota sekalipun.
“Emang iya kak. Habis ia tidak mau menyebutkan nama, ya sudah aku panggil Stiltskin” imbuh Edric.
“Oya, maaf ya Stiltskin. Kejadian malam itu berlangsung cepat sampai aku melongok dan tidak bisa bergerak. Maaf ya Aqilla” David meminta maaf.
“Aku juga…” ucap Edgar tidak mau kalah.
“Iya…” jawab Stiltskin dan Aqilla kompak.
“Untunglah kejadiannya sudah berlalu” ucap Edric, namun pria itu masih asik berkutat dengan PSPnya.
“Aku juga…” si monyet Edgar ikut-ikutan.
“Sebaiknya kau tinggalkan saja kakakku itu. Toh aku jauh lebih mesum dan Hot” ucap Edgar dengan genitnya. Membuatku jadi ingin melempar sesuatu ke kepalanya. Tapi mereka membuat Aqilla tertawa geli. Ya sudahlah yang penting Aqilla senang, aku akan mengabaikan pemujaan si monyet dan si ikan ini.
***
__ADS_1
AQILLA POV
At hospital…
“Tragedi baru saja terungkap pagi ini secara tidak disengaja oleh…..” pembawa berita itu terus menyampaikan berita hangat yang baru saja didapatkannya, langsung di lokasi kejadian sepertinya karena aku melihat rumahku yang hangus menjadi latarnya. Mau tidak mau, aku menegang saat mendengarnya.
Apa?! Ternyata ayah dan paman-paman dikubur di belakang rumah?? Siapa yang menyangka.
Pembawa berita tersebut melanjutkan, “Pagi ini dua orang wanita cantik yang rencananya mengajak jalan-jalan sejumlah anjing peliharaan mereka malah secara tidak disengaja menemukan lokasi pembunuhan. Para anjing tersebut mendadak bersikap gelisah dan menyeret kedua wanita cantik majikan mereka sampai menerobos pekarangan rumah, yang diduga milik Tony Gunadhya ini. Para anjing tersebut semakin membuat majikan mereka panik, karena mereka mendadak menggali halaman belakang…” pembawa acara tersebut menggeser tubuhnya sehingga kamera dengan leluasa menampakkan halaman belakang rumahku, yang kini dipenuhi oleh polisi serta polisi line yang dipasang untuk membatasi sekaligus menandai lokasi kejadian.
Aku membekap mulutku saat pembawa berita itu melanjutkan beritanya yang menyatakan mayat ayahnya dan ke empat pamannya ditemukan disana. Mendadak, sebuah tangan merengkuh kepalaku. Berusaha mengalihkan pandanganku dari layar TV.
“Paman…” ucapku
Ia malah menggelengkan kepalanya sementara tangannya merebut remote TV yang ada di genggaman tanganku, “Sssshhh, sebaiknya kau tidak menonton ini Sweetheart…”
“Tapi??” namun paman mesum keburu mematikan TV sebelum aku sempat membantah. Ia meraih kepalaku dan membawanya ke arah dekapannya. Memelukku dengan erat, lalu menepuk-nepuk pelan pundakku seakan-akan aku adalah anak kecil yang butuh dihibur.
__ADS_1
“Sshhhh, menangislah sepuasmu Pumpkin…”
***