
AQILLA POV
– Alam mimpi still on –
“Ayah, apa yang kau lakukan disini??” tanyaku kaget saat mendapati ayah menyapaku di alam mimpiku.
“Aku merindukanmu putri cantikku” ucap ayah sambil tersenyum manis yang kini berdiri di depanku.
“Apakah ini mimpi atau nyata?? Jika ini memang mimpi maka aku memilih untuk tetap tertidur, karena aku benar-benar merindukanmu ayah??” ujarku bahagia.
“As you wish my Lady…” suara itu terdengar bertepatan dengan robohnya ayahku sampai terjatuh ke lantai.
Aku semakin terkesiap kaget saat mendapati sosok Mister K yang berdiri di hadapanku saat ini menggantikan ayahku.
Oh my, apakah ia berdiri di belakang ayah lalu menembaknya dan… aku menelan ludah ketika melihatnya mengacungkan pistol ke arahku…
“As you wish my Lady, kau tidak akan pernah bangun dari tidurmu sleeping beauty…” ucap Mister K sebelum akhirnya menembakku.
Dooorrrr...
Dorrr…
Dua buah tembakan mengenai bagian rusukku, benar-benar menghantam keras karena aku merasakan dua atau tiga atau mungkin empat tulang rusukku sepertinya patah. Ouchhhh….
__ADS_1
– Alam mimpi off –
Mataku langsung terbuka lebar akibat rasa sakit tersebut. Aku menahan rusukku yang berdenyut sakit.
Sakiiittt sekali.
Aku berusaha bangkit dari tidurku. Damn, mimpi ini terlihat nyata karena aku benar-benar merasakan sakit tak tertahankan ini.
“Well, kau sudah bangun princess…” aku terkesiap saat mendapati Mister K berdiri di depanku seraya tersenyum congkak.
Atau ini memang bukan mimpi. Kali ini pria itu terlihat nyata di depanku, dan mengacungkan senjata.
“Kau…” teriakku kaget. Bagaimana bisa pria ini melenggang masuk ke rumah sakit ini, ke kamar ini pula??
“Aku khusus kemari untuk menghabisimu Princess. Oh jangan terlihat cemas begitu…” ucapnya santai namun pistolnya tetap mengarah ke bagian pelipisku.
Sial, sepertinya pria ini sengaja menembakk, mungkin ia merasa aku lebih mudah ditaklukkan dengan keadaan sakit dan mengalami patah pada tulang rusuk. Pastinya ia menembakku saat aku tertidur. Arghhh…
“Apa maumu?!!” bentakku memotong perkataannya. Secara sekilas aku melirik dan melihat memang kelima pria yang diperintahkan oleh pamanku untuk menjagaku kini tersungkur di lantai, entah pingsan atau mati.
Dan pria mesumku, aku melihatnya tampak tertidur pulas. Astaga, apakah ia dibius?? sepertinya begitu. Jangan-jangan kelima penjaga lainnya yang ada di luar kamar ini juga dilukai oleh keparat ini. Damn, pastinya begitu.
“Membunuhmu tentunya, kau sama seperti ayahmu yang membuatku kesal. Semakin hari ayahmu melunak dan akhirnya mengikuti desakan temannya untuk mundur. Dia belum boleh mundur sampai ia bersedia menjadikanku sebagai penggantinya. IA MENOLAKKU. IA TIDAK MAU MENUNJUKKU SEBAGAI PEWARIS TAHTA KLAN GUNADHYA. AKU MARAH KEPADANYA SAMPAI MEMUTUSKAN UNTUK MEREBUT MAHKOTA ITU SENDIRI. JIKA IA DAN KEEMPAT PENJAGANYA TIDAK MAU MEMBERIKAN MAKA AKU YANG AKAN MENGAMBILNYA SECARA PAKSA. AKU BAHKAN BERUSAHA MELENYAPKAN KETURUNANNYA SUPAYA TIDAK ADA PEWARIS SELAIN AKU. SIALNYA KAU LOLOS, DAN KAU MENGGAGALKAN SEMUA RENCANAKU. SEKARANG DAN AKU TIDAK BISA MEREBUT APA YANG AKU INGINKAN. JIKA AKU TIDAK BISA MENDAPATKAN KEINGINANKU MAKA AKU HARUS MEMBUNUHMU. MEMBAWAMU BERSAMAKU KE NERAKA JAHANAM….” Teriak pria itu dengan penuh kebencian.
__ADS_1
Aku sengaja membiarkannya, itu memberiku kesempatan untuk secara diam-diam menarik selimtuku dan secara mendadak aku melempar selimutku ke arah wajahnya. Membuat penglihatannya terhalang sejenak. Aku langsung berusaha bangun dan lari dari ranjangku. Namun sebelumnya dengan sebuah gerakan, aku menepis tangannya yang masih memegang senjata sehingga akhirnya senjata tersebut jatuh ke lantai.
Sayangnya, ia menepis selimutku dengan gesit, lalu berusaha menahan gerakanku dengan mencekik leherku, dengan kuat sekali.
Akhh.. aku merasakan sakit serta jalur pernafasanku diblokir seketika. Ia semakin mencekik leherku dengan sekuat tenaga, serta penuh amarah. Aku bisa melihat itu terpancar di wajahnya sementara tanganku berusaha melepaskan cengkeraman. Sayangnya pria itu keburu mendorong tubuhku ke arah tembok terdekat.
Bugghhh, Satu kali ia mengadu tubuhku dengan tembok.
Bughhh, dua kali menghantamkan tubuhku ke tembok.
Dan itu semakin membuatku melemah. Denyut sakit di rusukku, berpadu dengan hantaman serta leher tercekik membuat kadar oksigen ditubuhku menyusut, begitu juga dengan tenagaku yang mendadak berkurang separo.
“KAU WANITA MUNGIL MENYEBALKAN. AKU AKAN MENGHABISIMU. MENGHABISIMU HAH” ucapnya penuh kemarahan.
Tidaakkk, aku tidak boleh menyerah. Namun aku tidak bisa menendangnya. Ia seakan-akan memaku aku ke tembok seperti lukisan, dan kakiku hanya bisa menggantung tidak jelas begitu meskipun sekeras apapun aku berusaha menendang.
But, tanganku masih bebas. Jadi aku mengalihkannya yang tadinya aku gunakan untuk berusaha mengendurkan cengekraman tangannya di leherku, kini aku gunakan untuk mencolok matanya. Tepat di arah kedua bola matanya. Memang tidak bisa membuatnya buta namun itu membuatnya kesakitan. Yang otomatis mengejutkannya sehingga cekikannya terlepas detik itu juga. Tubuhku merosot ke lantai.
Aku menarik nafas dalam sebanyak-banyaknya berusaha mengisi rongga-rongga tenggorokanku dengan pasokan oksigen. Oh my, aku merasa perih saat jemariku menyentuh memar di leher. Itu bekas tangannya yang berusaha mencekikku. Baru saja aku berusaha bangkit, kembali ia menghantamku ke tembok. Bugh…
Kali ini aku belum sempat berdiri, jadi ia harus berpuas diri mencekikku yang dalam posisi terduduk di lantai.
“Aku tidak akan kalah darimu. Karena aku Gunadhya…” sebelum ia menyelesaikan perkataannya aku menggunakan semua tenagaku yang masih tersisa untuk aku kirim ke bagian kakiku lalu menendangnya. Ia terpental, dan aku memanfaatkan itu untuk mengambil pistol yang dijatuhkannya. Aku bahkan sampai melempar tubuhku sampai meluncur ke arah pistol tersebut. Aku meraihnya dan detik selanjutnya membalik tubuhku seraya mengacungkan senjata. Kutarik pelatuknya saat itu juga.
__ADS_1
DORR
Itu suara terakhir yang aku dengar sebelum kesadaranku semakin memudar, dan semuanya mendadak gelap. Aku harap kau terkirim ke neraka jahanam.