
Tapi sepertinya semakin aku menggeliat semakin membuat tubuh pria itu panas. Aku bisa merasakan dada bidangnya yang semakin panas meskipun helaian kemeja yang dipakainya dan bajuku, masih menjadi jarak diantara kulit kami.
Sebelum aku juga semakin terlena. Gila aja, ia bermain dengan tubuhku dengan lihainya, kalau aku tidak ikut-ikutan terangsang maka aku bukanlah manusia.
Mataku membeliak kaget saat merasakan sesuatu yang datar dan panas menelusup dan mengusap lembut perutku. Seperti ulat bulu yang menggelitik setiap sarafku, sesuatu itu – yang sepertinya tangan pria mesum itu, terus merayap naik sampai…
Aku mencelos antara kaget atau terlena ketika pria itu – oh ya ampun aku bahkan tidak berani membayangkan tangannya menyentuh bagian atasku. Sebuah lidah lolos begitu saja menjajah mulutku saat aku terkesiap oleh kaget.
This is it. Ini kesempatanku…
***
ARKAN POV
s@!*%#&^%@($#)&%…….
Bahkan wanita ini bukan hanya memiliki pandangan yang tajam, lidah yang tajam, ia juga memiliki gigi yang tajam. Musnah sudah semua hasratku saat dengan galaknya ia menggigit lidahku. Adawwww…
Aku sontak termundur karenanya, aku melemparkan tatapan menggilas yang dibalasnya dengan merong. Benar-benar ini anak, sangat tidak sopan.
“Kau paman, sangat nakal, sangat mesum, dan sangat….” Ia terdiam untuk bangun dari posisinya. Aku baru tahu setelah menyentuhnya, ternyata ia memakai pakaian minim di balik jubahnya. Emmm, sepertinya aku harus melucutinya…
“Dan sangat tampan, hot, sexy and love him…” tambahku seraya memasang tampang menggoda. Ia boleh menyerang tubuhku, tapi tidak harga diriku.
Lihat saja nanti. Aku akan memastikan balas dendam yang jauh lebih menyenangkan. Ia akan jatuh ke pelukanku.
“Kau benar-benar menyebalkan yah…” sungutnya.
__ADS_1
Dan kau terlalu santai, terlalu dingin untuk ukuran wanita. Biasanya wanita yang aku serang dengan seintim ini selalu melenguh kepuasan, dan berakhir dengan bersenang-senang.
Ini, yang ada juniorku berkedut-kedut akibat tidak terpenuhi keinginannya, dan lidahku sakit sekali.
Aku harus cari es batu nih, ada banyak bagian dari tubuhku yang harus didinginkan. Lidahku bisa mengantri….
“Kau diam disini, aku belum selesai denganmu…” perintahku.
“Tapi aku sudah, sebaiknya kau keluar paman…” ia berusaha membalikkan badanku. Aku tersenyum geli, bagaimana mungkin dengan tubuh semungil itu ia berharap bisa menggeser tubuhku.
Tingginya saja tidak mendekati bahuku. Sangat mungil, tapi sangat galak – pikiran betapa galaknya ia membuat wajahku mendadak masam.
“Keluarlah paman, atau kau akan menyesal…” teriaknya sekencang mungkin.
Lebih kepada teriakan kesal karena tidak berhasil membuatku bergeming sedikitpun.
He eh, wanita yang menggemaskan. Yeah, kalau ia tidak sedang menyerangku….
“Keluar, atau aku akan memanggil sekuri…” wanita itu terdiam sejenak.
“Iya ya, kau kan penguasa disini. Ya sudahlah, kalau paman mau diam disini silahkan saja. Tapi jauhi ranjangku” ia memperingatiku dengan nada paling mengancam.
“Jika kau menyelinap, maka asetmu yang legendaris itu bakal tinggal nama”
Dan kau adalah wanita dengan mulut paling sadis yang pernah aku temui. Memangnya di kamusmu tidak ada kosakata yang lebih lembut apa??
“Mau kemana??” tanyaku saat melihat wanita itu malah melongok ke arah bawah ranjang.
__ADS_1
“Kau takut ada monster menyelinap dari bawah ranjang ya??" Ejekku.
Ia mengabaikanku, malah menjulurkan tangannya ke bawah kolong, ia baru bangkit setelah memegang sebuah benda.
Hah pena??
Buat apa pena itu??
“Paman, pernah dengar istilah, pena lebih tajam dari pedang??” Ia bertanya di balik senyum manisnya.
Aku menaikkan alisku dengan ekspresi bertanya. Wanita itu masih tersenyum, “Jika kau bermuat mesum lagi, maka kau akan tahu makna istilah tersebut. Secara harfiah….”
Aku menyeringai kepadanya, “Ini hal terkonyol yang pernah…”
Blesssssss….
Pena itu menancap tajam ke arah kasur hotel dengan mulusnya, di depan mataku.
Oh my, ia benaran.
Sadis…. pikirku sambil menelan ludah.
Senyumannya semakin ceria – sangat jauh dari kesan yang baru ia tampilkan kepadaku, “Tenang, masukkan saja tagihan kasur ini ke rekeningku…”
Glekkk
Ya ampun bagaimana aku tidak mengendusnya sebelum ini. Sosok devil di balik tubuh mungil nan rapuh itu.
__ADS_1
Syereeemmm….
***