
“Somebody please explain to me what really happened, pleaseeeee” tanya kakakku bingung.
Benar juga, bagaimana kami bisa melupakan bahwa Kak Arkan satu-satunya orang di ruangan ini yang tidak tahu duduk perkaranya. Penjelasan-penjelasan barusan tidak akan tercerna oleh otaknya tanpa penjelasan awal masalah.
“Kakak ingat ceritanya Aqilla saat papah menemukan kalian berdua di hotel??”
“Paman, itu tidak seperti dugaanmu” potong Aqilla, aku geli juga melihatnya panik begitu. Mungkin ia takut pamannya salah paham.
“Tidak apa-apa sayang, justru kehadiran pria ini yang menyelamatkan nyawamu” saat melihat tatapan bingung diantara aku, Kak Arkan, Aqilla, pria berkepala besar Inspektur Kim John itupun menjelaskan,
“Setelah mereka berhasil melacak persembunyianmu di The Insomnia…”
“Apa?? Jadi cerita kau dijual pamanmu itu bohong??” jerit Kak Arlan memotong perkataan paman John.
“Yakk kapan aku bilang paman menjualku?? Memang ada orang yang mengaku sebagai pamanku yang mendatangiku setelah kematian ayah. Dan memang aku dibawa paman ke rumah dewasa itu, bukan dijual. Aku dibawa kesana supaya aku bisa disembunyikan dari para penjahat itu. Aku adalah satu-satunya orang yang selamat saat ayah dan…” untuk sejenak Aqilla terdiam,
“Mereka dibantai…” ucap Aqilla lirih.
Sahabatku yang malang, belum sembuh lukanya akibat kenangan ayahnya, sekarang ia harus menanggung rasa bersalah karena Stella disandera penjahat.
Damn, kalau aku berhasil menemukan mereka, aku akan menghajar mereka dengan jurus lemparan PSP maut andalanku. Dijamin kepala jahat mereka bakal tak hantam sampai remuk pakai PSP. Toh, aku sudah melatih lemparanku semenjak kecil, dimulai dengan melempar remote ke arah kedua kakakku.
“Tapi aku memang pamannya” ucap inspektur John menjelaskan sekaligus mengalihkan pembicaraan yang sensitif bagi temanku ini.
“Mereka juga berhasil mengetahui kau menginap disini sepupuku. Namun saat mengetahui ada putra dari pemilik Hyundai corporation bermalam denganmu maka mereka tidak bisa menyentuhmu. Akan menjadi masalah besar bagi mereka kalau ada putra orang berpengaruh terlibat didalamnya. Itu juga yang membuat mereka geram karena tidak bisa menyentuhmu Aqilla, sampai saat ini” tambah Jerome seraya tersenyum.
Kak Arkan menyenggol Aqilla, “Kau hutang budi kepadaku. Bagaimana kalau hutang budi dibayar body??”
Entah kakakku menggoda atau mengutarakan niatnya. Yang pasti sejumlah bantal melayang ke arah kepalanya. Dasar kakak mesum, untung mereka bertiga tidak meremuk tubuhmu.
__ADS_1
“Dasar paman mesummm” teriak Aqilla kesal.
***
AQILLA POV
Jam enam pagi, di kamarku….
Semalaman aku tidak bisa tidur karena memikirkan nasib Stella sehingga aku terbangun dengan mata panda.
Meskipun paman John meyakinkan aku bahwa mereka tidak akan menyakiti Stella selama aku bersikap menuruti keinginan mereka – atau dalam bahasa penjahat-penjahat brengsek aku diharuskan bungkam. Tetap saja aku mencemaskan Stella.
Setidaknya setelah mendiskusikan beberapa hal untuk mencegah para penjahat itu menyentuh aku, Seva serta keluarganya Edric, hatiku bisa lebih tenang.
Sebenarnya paman John ingin menjadikan sepupuku Jerome sebagai penjagaku – yang tanpa aku ketahui ternyata Jerome sudah menjadi bayangan untuk menjaga keselamatanku selama ini – juga pamanku selalu secara diam-diam memata-mataiku untuk memastikan keamananku (Yup he is a secret guardian).
Sinar matahari yang menyelinap dari balik tirai akhirnya memaksaku untuk membuka mata.
Aku mengucek-ucek mataku beberapa kali, “Pagi sayang…”
Aku membeliak kaget saat mendengar sapaan itu. Astaga, itu suara paman mesum. Aku mendongak, “Paman apa yang??”
“Diam…” potongnya buru-buru.
“Setelah pamanmu dan sepupumu pulang, aku dan Edric memang membagi tugas semalam, aku menjagamu, ia menjaga Seva. Tapi aku tidur di sofa lho” ia menunjuk ke arah sofa yang memang terlihat berantakan seperti habis ditiduri untuk membuatku percaya .
“Lagipula setelah mengetahu bahwa kau putri mafia, aku jadi takut untuk menyentuhmu. Pantas saja kau galak begitu, dan sadis” tambahnya dalam nada menggoda. Itu terlihat dari matanya yang bersinar jahil.
Aku menggosok-gosok leherku, lalu menguap lebar. “Aku masih mengantuk, aku baru tertidur jam tiga dini hari, bagaimana aku tidak menyadari kehadiran paman??”
__ADS_1
“Itu sebabnya adikku memilih menjaga Seva, karena ia tahu kau pastinya bakalan terjaga semalaman akibat memikirkan temanmu Stella. Dia tidak mau kehadirannya malah membuatmu semakin kepikiran. Aku menunggu di luar sampai yakin kau benaran tidur. Kalau aku memaksa masuk yang ada kau bakalan mengusirku”.
“Apa itu artinya paman dan Edric juga kurang tidur??”
“Emmm, aku juga mengantuk” paman mesum itu menegaskan dengan menguap lebar.
“Terimakasih, sudah peduli pada kami”
Ia tersenyum, “Kau sepertinya sudah melakukan sesuatu kepadaku babe sampai peduli begini, apa kau merapal mantera kepadaku my pumpkin??”
Aku tergelak, “Maybe…”
“Ayo kita tidur sebentar…” ia mengangkat selimutku lalu menyusup ke dalamnya.
“Yaak paman apa yang mau kau lakukan??” bentakku.
Ini orang sempat-sempatnya mengeluarkan modus. Aku menarik selimutnya kembali. Aku sampai menggunakan kedua kakiku untuk mendorong tubuhnya menjauhi ranjang namun gagal. Yang ada kaki-kakiku didorongnya kembali.
“Jangan berpikiran macam-macam, hanya saja aku tidak nyaman tidur di sofa itu habisnya sebagian kakiku menggelantung jadinya. Kita berbagi tempat tidur saja, atau kau mengharapkan aku melakukan sesuatu kepadamu??” Jangan konyol, siapa juga yang kepikiran jorok begitu.
“Issh, hayo bobok…” perintah paman seraya menarikku ke dalam dekapannya, tidak memberiku kesempatan untuk protes. Sehingga ia bisa memelukku dengan leluasa dari arah belakang. Akupun memilih bertahan dengan posisiku ini. Mending aku membelakanginya daripada berhadapan dan membuatnya melihat pipi merahku. Bikin malu saja.
“Met bobok sayangku” katanya sambil menyingkap rambutku dan mengecup pelan bagian tengkuk leherku ku.
Nyaris saja aku membentaknya, hanya saja ia tidak melakukan apapun setelahnya. Makanya aku membiarkannya dan turut tidur.
Ternyata tangan pria ini besar ya, badannya juga hangat...
***
__ADS_1