
Aku menatap bingung ke arah paman, ia juga melakukan hal serupa. Matanya menunjukkan ekspresi terperangah. Lalu secara serempak kami bangkit untuk kemudian menoleh ke arah asal bantal itu dilempar, lalu...
Kyaaaaaaaaaaaaa!!
Jeritan kompak kami memenuhi ruangan saat itu juga.
“Kakek tua, siapa kau??” pekikku kaget saat mendapati seorang pria tua di kamar ini.
Sepertinya pria tua ini sepuluh tahun lebih tua dari ayahku sedang menatap tajam ke arah aku, eh bukan aku saja melainkan ke arah paman mesum itu.
Siapa dia??
Aku bahkan terlalu terkejut untuk bertanya bagaimana ia bisa menyelinap masuk ke kamar. Untungnya aku tidak menangkap kesan bahaya dari pria tua itu, sehingga aku memilih terdiam.
“Papah!!” teriak paman mesum itu. Aku melongok saat mendengar bagaimana paman mesum itu memanggil.
“Papah? Itu ayahnya paman?" Tanyaku terperanjat kaget.
“Iya, aku ayahnya orang yang kau sebut paman itu” jawab pria tua itu.
Nada bicaranya sih terdengar santai, sepertinya pria tua itu sedang membicarakan cuaca hari ini – musim gugur yang indah sedang berlangsung di luar sana, namun tatapan matanya itu membuat nyaliku menciut sampai ke kaki.
Benar-benar tatapan mata garang yang hanya dikeluarkan oleh kaum seorang ayah di saat marah kepada anaknya. Entah tatapan itu dihadiahkan ke anaknya atau ke aku juga?? Entahlah.
__ADS_1
“Papah, berapa lama lagi kami harus menunggu??”
Apa ada sebuah suara lagi??
Yang kalau didengar dari arah datangnya, sepertinya suara itu baru memasuki kamar.
“Tunggu sebentar, kalian tunggu sebentar di luar sana” perintah pria tua itu yang ajaibnya membuat suara di luar mendadak menghilang diikuti suara pintu ditutup. Aku menarik nafas lega.
***
ARKAN POV
Damn, aku tidak pernah tertangkap di kasur sebelumnya...
Genggaman tanganku memastikan tubuh mungilnya tak bergeser, tetap diranjang bersamaku, hanya saja ia menarik selimut lebih banyak untuk menutupi tubuhnya.
Untunglah, ia masih tertidur dalam pakaian lengkap, termasuk jubah jeleknya itu. Yang sedikit kusut dan berantakan, namun tidak dengan wajahnya. Ia terlihat cantik meskipun dibalut jubah berantakan serta rambut masai, benar-benar menunjukkan rupa baru bangun tidur yang memukau.
Some how itu membuat jantungku berdebar tanpa disuruh.
Aku sempat menangkap suara bertanya itu. Aku tahu itu suara adikku. Tidak pernah ada suara yang terdengar menjengkelkan selain suaranya.
Shittt, aku bisa memprediksi apa yang bakalan terjadi menit ke depannya. Pastinya si setan kecil bakalan tersenyum puas saat melihatku dimarahi papah. Penderitaanku adalah kebahagiannya.
__ADS_1
“Papah membawa rombongan?" tanyaku tidak percaya.
Di dalam hati, mau tidak mau mendadak aku bertanya apakah Edric saja yang dibawa papah, atau ada rombongan lainnya??
Semoga saja kembaranku, juga anak waliku si David dan Edgar tidak ikut serta dengan rombongan papah. doaku pelan.
“Saudaramu, keduanya, juga anak walimu, aku meminta mereka untuk mengantarku kemari”
Sudah aku duga, doa seorang playboy sepertiku tidak pernah manjur,
“Papah.. masa kau membutuhkan segitu banyak rombongan untuk mengantarmu kemari?? cukup supir saja kan?”
“Tadinya aku pikir butuh banyak anak muda untuk membantuku, sepertinya aku berubah pikiran sekarang”
“Apa maksudnya pah"?
“Edgar sudah mengatakan kalau kau mengantarkan…, Ia menyebutnya sebuah paket berbentuk wanita ke hotel ini karena ada yang memesannya. Kau menyuruh Edgar pulang sementara kau tetap disini. Aku pikir seseorang berusaha mencemari reputasi hotel ini, dan kau kembali kemari untuk membersihkannya”
“Oh itu, yaa itu tujuan awalku”
“Sungguh? Terus mengapa kau berakhir di ranjang dengannya? Apa ia adalah si paket?” tanya papah tajam.
***
__ADS_1