
“Kebakaran?? Aku tidak tahu itu” balasku lebih kaget.
Bagaimana bisa rumahku terbakar??
Ahhh aku tahu, pastinya para penjahat itu berusaha membuat pembunuhan itu sebagai kebakaran. Dasar kejam…
Edric mengangguk, “Untungnya mereka bilang kau sedang tidak ada di rumah. Aku dan Stella berusaha mencarimu kemana-mana tahu. Tapi tidak menemukanmu. Kau kemana sih?”
“Eng… itu.. aku…” Hadeuh.. bagaimana caranya aku menceritakan kebenarannya kalau banyak pasang mata melihat ke arah kami. Gimana ya??
“Bagaimana kalau kau cerita mengenai keberadaanmu di rumah bordil” itu suara paman mesum terdengar dingin di belakangku.
Aha, aku ada akal...
Bagaimana kalau aku menceritakan yang sebenarnya dengan mengedit beberapa bagian, aku menatap sahabatku.
Maaf, aku terpaksa melakukannya, tapi aku berjanji akan menceritakan versi aslinya setelah tidak kuping yang turut mendengar,
“Apakah kau tahu Edric, ternyata aku punya paman dari pihak ibuku”
“Hah??” Edric terperanjat kaget.
Aku mengangguk lemah, lalu mulai memasang ekspresi sedih, “Aku tidak tahu niat orang yang mengaku sebagai pamanku itu sampai…”
__ADS_1
Aku sengaja memasang jeda untuk menciptakan momen…
“Kenapa? Apa yang terjadi selanjutnya?” Pria berbaju putih bertanya.
“David, diamlah” tegur ayahnya paman mesum. Oh, nama pria itu David rupanya.
“Ia membawaku ke tempat pelacuran, Edric…”
Tidak ada kata yang lebih menghancurkan lagi selain kata-kata penuh pilu yang aku katakan barusan.
Hey, tidak sepenuhnya melenceng dari cerita asli kan??
Memang paman datang dan mengaku sebagai kerabatku terus membawaku ke tempatnya madam. Itu kebenaran kan??
“Semingguan rasanya” ungkap Edric. Aku melihat sekilas Edric mengepalkan tangannya. Ia marah…
“Rasanya sebegitu. Sampai semalam aku mengetahui bahwa dua utusan…”
“Siapa? Dua utusan siapa?” Pria berondong. Eh, rasanya aku kenal suara ini??
“Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanyaku saking penasaran.
“Oh, kau tidak mengenaliku?” ucapnya kecewa,
__ADS_1
“Namaku Edgar, dan aku yang menawarkanmu tumpangan ke Blue Sapphire semalam”
Oh, pantas aku merasa mengenali suaranya, “Maaf, tudungnya terlalu menutupi”
“Ehem, lanjut…” potong ayahnya paman tidak sabaran itu.
“Mereka memiliki wajah bengis. Yang pertama aku lihat adalah pria yang bertubuh tinggi serta berambut panjang. Lalu yang satuannya lagi, temannya itu merupakan kebalikannya karena tubuhnya pendek dan berkepala botak. Madam di tempat itu mengatakan keduanya bermaksud membawaku ke majikan mereka. Entah siapa majikan mereka, namun aku tahu bagaimana nasibku jika berada di tangan si majikan itu” Ini juga bukan kebohongan kan??
Aku sengaja menutup wajahku dengan kedua tanganku. Pura-puranya menahan sedih. Yah,, semoga saja aku bisa menjalani sandiwara ini dengan baik,
Aku benci melakukan ini, sayangnya aku harus memaksakan airmataku mengalir dari pipiku dengan cara mengenang kejadian malam itu. Berhasil,, dalam sekejap air mata menetes di pipiku,
“Mereka jahat Ed” ucapku pilu. Aku mengacu kepada pengkianat dan anak buahnya yang bengis. Dan aku tidak bisa menahan airmataku yang mendadak jebol.
“BOHONG…” teriak pria mesum itu tidak percaya.
“Kalian lihat, papah lihat sendiri bagaimana galaknya wanita ini. Mana mungkin ia semudah itu dipaksa” Pria mesum itu menatapku dengan tajam,
“Katakan mengapa kau bohong?” Sialan ini ahjussi, mau menggagalkan rencanaku ya??
Baiklah, hanya satu hal yang masih aku punya untuk mendukung cerita karanganku ini. Aku pura-pura menghapus air mataku, lalu berkata, “Bisakah aku meminta jubah mandi hotel atau semacamnya?”
“Hah??” diantara banyak alasan yang bisa aku ucapkan untuk menyanggah keraguan paman mesum, aku malah meminta jubah mandi, pastinya mereka semua terkejut.
__ADS_1
***