Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 22


__ADS_3

“Bukan, aku bukan paket atau apapun” jawab wanita itu berani, aku memberinya tatapan untuk menutup mulut.


Wanita itu malah memukul bahuku. Busyet, ini anak pukulan tidak pernah lembut yah,


“Paman mengapa kau berada di ranjangku hah?!" Bentaknya kepadaku. Dan tambahan,  ia tidak pernah berkata lembut.


“Siapa suruh kau semalam tidur jejeritan begitu, aku terpaksa menghampirimu, menenangkanmu tau” balasku, tanpa sadar malah berdebat dengan wanita ini di depan papah.


“Memangnya aku menjerit semalaman?? Kenapa sampai pagi masih main peluk hah?!”


“Aku ketiduran tau”


“Alah modusnya paman ini”


“Yakkk, ngapain juga aku pakai modus. Kalau aku mau kau juga bakalan jatuh ke pelukanmu semalam”


“Dasar paman mesum narsist…”


“Hentikan!” perintah papah.


Tanpa membantah, debatan kami berdua pun terhenti detik itu juga,


“Kalian boleh berdebat nantinya, sekarang aku yang menguasai percakapan. Apa kau tidak tahu, sesampainya disini aku dikejutkan oleh pengakuan salah seorang pelayan yang mengatakan kau menyeruak masuk ke kamar salah satu tamu kita, seorang wanita. Lalu aku sengaja menunggumu semalaman, tapi kau tidak keluar juga, jadinya akulah yang masuk kemari. Aku bahkan berbaik hati menunggu kalian berdua yang nampaknya tertidur pulas sampai pagi…”


“Eh, anda menunggui kami semalaman?? Di sofa itu??” tanya wanita itu kaget.


“Tidak, aku menunggu di kamar sebelah. Aku takut mengganggu keasikan putraku” sindirnya telak.


“Namun aku melihat saat kau memukul putraku, nona muda” kali ini ia menyindir si wanita itu.

__ADS_1


Sadar akan kesalahannya, wanita itu buru-buru meminta maaf, “Saya minta maaf tuan…”


“Iya, tidak masalah”


“Papah, sampai kapan kami menunggu di luar?" Kali ini suara Kak Arion yang menggema dari arah pintu.


“Masuklah…” undangan papah itu membuat aku mendengar derapan langkah lebih banyak.


Sial, papah benar-benar membawa pasukan. Entah mengapa aku justru menarik tudung wanita itu, merasa menyembunyikan wajahnya bisa menghindari bencana yang mungkin bakalan terjadi.


Untungnya untuk pertama kalinya wanita itu menurut, membiarkan aku menutupi wajahnya. Thanks God…


“Hai kak ketangkap basah niyeee…” ia bahkan tidak repot-repot untuk menyembunyikan evil smirknya.


Aku benar-benar membenci adikku sebesar aku membenci seringai khasnya itu . Kalau saja aku mendapatkan kesempatan, aku bakalan mengirim Edric itu ke Timbuktu sesegera mungkin…


“Edric!!” Aku dikejutkan oleh teriakan tiba-tiba wanita itu.


Kenapa ia malah berlari ke arah Edric??


Pakai memeluk segala, apa ini??


***


AQILLA POV


Aku sempat berpikir aku mendengar suaranya Edric. Aku kaget juga saat merasa bahwa suara yang memotong percakapan kami entah mengapa terdengar sangat seperti Edric.


Benar, Edric taman baikku, selain Stella tentunya. Saat berada di sekolah menengah, tidak banyak teman yang aku miliki, kebanyakan karena aku memang memasang tembok setinggi-tingginya. Terakhir kali aku berteman semasa sekolah dasar, aku dicampakkan saat mengetahui siapa ayahku sebenarnya. Sejak saat itu aku kapok menjalin pertemanan.

__ADS_1


Namun Edric adalah sosok yang berbeda. Awal pertemuan kami adalah saat kami bersama-sama diutus sekolah untuk mengikuti olimpiade Matematika. Kami memenangkan olimpiade tersebut, yang akhirnya mengantar kami ke sebuah persahabatan.


Stella kemudian menyusul – dengan kisahnya sendiri tentunya, sampai akhirnya kami menjadi tiga sahabat. Meskipun aku lompat kelas, dan sekarang menjadi anak kuliahan – sebenarnya Edric bisa menyamaiku dengan otak jeniusnya namun ia memilih mengikuti kelas reguler, persahabatan kami tetap terjalin sampai saat ini.


“Aqilla” pri itu juga sama kagetnya denganku saat aku menghambur ke pelukannya.


“Bagaimana bisa kau…”


“Kau tahu siapa dia Edric?” tanya paman mesum


Edric mengangguk, “Dia temanku”


"Temanmu? Apa itu artinya ia seumuran denganmu?” tanya pria mesum kembali


“Em, hanya berbeda beberapa bulan saja” jawab Edric.


“Apa?? Yaakkk Arkan!! Bisa-bisanya kau meniduri wanita di bawah umur!!” bentak seseorang. Aku tidak mengenalnya, namun ia pria yang cantik.


“Oya namaku Arion. salam kenal” ucapnya ramah. Oh pria cantik itu bernama Arion…


“Salam kenal juga…” aku mengangguk ramah.


“Aqilla, kemana saja kau selama ini? Kami tidak pernah mendengar kabar darimu, kecuali kalau rumahmu terbakar”


Eh, barusan dia bilang apa??


Rumahku kebakaran??


Apa maksudnya??

__ADS_1


***


__ADS_2