Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 35


__ADS_3

Aku bergegas mengikutinya, kemudian pelayan mengekor dari belakang. Butuh menoleh kanan kiri beberapa kali, mengendap-endap, sampai menghindari orang yang lewat supaya bisa membawa Seva ke kamarku. Maklum kamarku lah yang paling dekat saat ini, dan dirasa paling aman karena tidak ada yang berani masuk kemari.


“Bisakah kau merapikan barang-barang Seva yang ada di kamar utara lantai dua. Supaya keberadaan Seva tidak terbongkar”” ucap wanita itu berusaha mengusir pelayan secara halus – mungkin supaya tidak ada saksi saat ia membantaiku.


Kalaupun ada saksi tertinggal palingan si Seva – yang boro-boro bisa bicara, menyebut namanya sendiri saja belum bisa, plus ia sedang tertidur pulas di ranjangku.


“Ahhh, tidak usah. Si Edric sudah membereskannya semalam” tolakku.


Toh, aku dan Edric memang sudah melakukannya. Pokoknya  kami harus memastikan tidak ada barang Seva yang yang tercecer yang bisa membongkar keberadaannya disini. Hadeuh, menyelundupkan wanita rasanya lebih mudah ketimbang bayi.


Sekadar informasi tambahan, selain dijadikan tempat laundry dadakan, kamarku juga dijadikan gudang penyimpan barang-barang Seva mulai dari susunya, setermos air panas, diapernya, sampai baju-bajunya serta selimutnya – betapa menyedihkan kamar khas bujanganku disulap jadi kamar bayi, hiks, semuanya dijejalkan ke kamarku yang untungnya luas.


Kadang mereka juga dengan teganya menyabotase ranjangku supaya bisa dipakai sebagai tempat tidur Seva sementara akunya diungsikan ke sofa – Hey aku ini pemilik kamar tauk…. Sayangnya Aqilla tidak pernah menjadi satu diantara orang-orang yang menemani Seva bobok, melainkan si setan Edric atau pelayan. Yah, kalau dua makhluk itu aku tidak berminat. Jjiaahh…


“Atau bisakah kau ambilkan aku air minum. Menunggu membuatku haus” Aqilla masih bersikeras mengusir pelayan.


“Tidak usah, disini ada air. Aqilla bisa minum itu”


“Paman, yang ada di kamar ini hanya air di termosnya Seva. Memangnya paman ingin tenggorokanku terbakar??” bantah Aqilla.


“Percayalah babe, yang ingin aku bakar bukanlah tenggorokanmu melainkan tubuhmu dengan tubuhku” aku mengedip genit ke Aqilla.


“Hey sepertinya menyuruh pelayan pergi adalah ide yang bagus, jadi aku bisa segera memanaskanmu. Baiklah, lakukan saja permintaan nona muda ini asalkan kau memberi kami privasi”


Bahaya sebenarnya membangkitkan amarah wanita ini dengan godaan mesum macam ini, namun aku suka sekali melihatnya berapi-api begini. Terlihat semakin cantik saja.

__ADS_1


He'eh…


Sementara Aqilla semakin melotot ke arahku yang aku balas dengan kedipan genit, pelayan malah bingung harus bertindak bagaimana. Apakah keluar dari kamar atau diam di kamar??


“Maaf tuan, apa aku sebaiknya pergi atau diam disini???” akhirnya pelayan itu memberanikan diri bertanya.


“Pergi” jawabku


“Tidak, diam disini”


“Pergi”


“Diam disini, ku mohon”


“Jangan dengarkan paman ini. Tolonglah diam disini”


Sementara aku adu ngotot sama wanita cantik ini, kepala pelayan bolak-balik melihat ke arah kami berdua. Mirip penonton pertandingan Wimbledon yang sibuk menoleh kanan kiri akibat terjadinya reli panjang. Terjebak diantara dilema, pelayan semakin bingung, bagaimana ini pikir benaknya.


“Baiklah aku akan keluar seperti permintaan tuan muda” Pelayan itu menderap dengan gesit meninggalkan arena perdebatan, namun ia menghentikan langkahnya di depan pintu, membalikkan badannya untuk kemudian berkata,


“Tapi saya akan menunggu di depan pintu. Kalau nona muda ada masalah, tinggal berteriak saja” Aku menjadi sebal melihat senyum penuh kemenangan yang terukir di wajah Aqilla. Sepertinya semua pihak sedang menjalin konspirasi untuk menyusahkan aku.


Damn…


“Aqilla, kau jangan berpikir untuk membalas dendam” aku memberinya warning setelah pelayan menutup pintu kamarku.

__ADS_1


Ajaibnya wajah penuh amarah wanita itu mendadak berubah menjadi ceria, lengkap dengan senyum ramah yang mengembang lebar sampai membuat wajahnya semakin cantik.


“Tidak, aku sudah melupakan itu. Apalagi kakak sudah mengajak Seva jalan-jalan jadi aku menganggapnya impas”


Kakak??


Barusan ia memanggilku kakak kan??


Aku sampai mengosok-gosok pelan telingaku untuk memastikan tidak salah dengar. Perasaanku saja atau wanita itu mendadak ramah??


“Boleh aku tidur disini?? Menemani Seva??”


Gawat, sepertinya pendengaranku benar-benar bermasalah karena aku tidak yakin atas apa yang aku dengar barusan. Benaran Aqilla bilang begitu??


Tidur disini??


Dia tidak sedang merencanakan sesuatu kan??


“Ya sudah, kau boleh tidur disini” jawabku ragu.


Dan sekarang aku meragukan penglihatanku karena wanita itu benar-benar membaringkan tubuhnya di samping Seva. Eh, dia benaran dengan ucapannya??


Aneh??


***

__ADS_1


__ADS_2