
Ini pertama kalinya aku dan paman mesum bisa berbicara tanpa melibatkan unsur mesum. Dan aku menyukainya. Aku suka gesture wajahnya yang kerap berubah-ubah sesuai ucapannya. Aku juga suka wajahnya yang santai, tanpa tampilan mesum. Sehingga aku bisa mengendurkan pertahananku untuk kemudian turut tertawa bersama-sama.
Entah mengapa suasana hening mendadak tercipta. Paman mesum hanya menatapku, dan aku menatapnya balik. Ia tersenyum kepadaku, sementara tangannya diulurkan ke arah helaian poniku. Ia menjumputnya lalu menyelipkan ke belakang telingaku.
“Aneh juga kau dan Seva bisa bersaudaraan”
“Kenapa?"
“Kau punya banyak rambut, ia tidak”
“Hahahahhahahha…”
“Aku suka ini”
“Apa?” tanyaku kaget.
“Aku suka wajahmu yang santai seperti ini. Aku suka suara tawamu yang renyah. Biasanya kau suka memasang wajah siaga penuh kalau melihatku”
Aku memasang wajah yang benar saja ke paman mesum.
“Oh baiklah aku tahu. Mau bagaimana lagi mesum itu bawaan lahirku tauk” ucapnya membela diri.
"Hahahahhahahhaha…" Kembali aku tertawa.
“Stttt... Seva bisa bangun kalau kau terus ketawa seperti ini”
Aku menatap paman, ia juga menatapku, sehingga kami salin menatap.
“Jika kau tidak mesum paman, mungkin aku akan menyukaimu….” Upss, apa yang barusan aku bilang.
“Aku juga, jika kau tidak sadis aku mungkin menyukaimu” jawabnya seraya tersenyum.
Eh??
Benarkah??
***
__ADS_1
ARKAN POV
Satu persatu makhluk menyebal berdatangan memenuhi ruang kerjaku. Dimulai dari makhluk mesum bernama Edgar. Bahkan datang-datang bukannya menyapa ramah, malah main tuduh.
“Hayo kenapa bajunya pada kusut? Habis making love yah?"
Berhubung aku tidak punya sesuatu untuk dilempar ke muka hancur itu, aku hanya bisa membalas dengan bentakan, “Main sama Seva, dodol…”
Kalau makhluk pertama yang datang adalah penghuni pohon, maka makhluk selanjutnya yang mengetuk pintu ruang kerjaku adalah makhluk air alias si ikan David. Ia membawa dua kantung belanjaan yang digenggam di kedua tangannya, yang dipamerkan kepadaku.
Ya ampun ikan setengah matang ini baru merampok swalayan terdekat yah. Ia bahkan sampai membelikan cemilan kacang buat Seva.
“Eh Nemo, giginya Seva masih limited edition begitu bagaimana mau makan kacangnya?” protes Edgar.
“Oh tidak bisa ya. Bagaimana kalau buah apel, aku juga beli kok” tawar ikan setengah matang itu. Jangan-jangan ini anak otaknya setengah matang juga makanya error begini. Aishhh…
“Seva, mana wajah gemasnya” itulah yang dikatakan adikku begitu aku persilahkan masuk. Ada kakakku di belakangnya,
“Hai kak”
“Tunggu sebentar..” aku menghentikan langkah kembaranku,
“Bajunya untuk pria kan???”
Kak Arion menggeleng, “Wanita tauk…”
Ya ampun kembaranku itu bikin frustasi saja. Suka anak wanita sih boleh-boleh saja. Tapi masa Seva juga dikorbanin begitu. Sigh..
Aku menatap, eh masih ada satu pengunjung lagi. Itu pelayan.
Hah???
“Aku membawakan cuciannya Seva”
Yang benar saja, memangnya kita membutuhkannya apa.
“Popok bekasnya Seva??”
__ADS_1
"Yeakkk jijik. Tidak ada alasan yang lebih enak didengar apa???”
“He eh, bercanda tuan. Aku sebenarnya kemari membawa makanannya Seva”
Good job, memang itu yang kita butuhkan karena stok makanan Seva memang sudah habis.
“Boleh saya masuk tuan??”
Aku menggeleng, namun aku tetap membiarkannya masuk. Aku lantas menelepon sekertarisku, dan memberinya sejumlah alasan palsu tapi masuk logika mengenai kedatangan beruntun para pria tersebut. Untungnya sekertaris ku hanya mengiyakan.
Sekalian, aku memesankan kamar untuk mereka semua. Kantorku bisa hancur kalau terus-terusan dipakai menampung pengungsi-pengungsi ini.
Untungnya papah dan mamah memilih mengungsi ke Bali. Honeymoon kata mereka. Yah, pantas saja aku anaknya semesum ini, mereka yang menciptakanku saja tak kalah mesumnya. Benar-benar tidak ingat umur…
“Seva, aunty style…” perintah Edric.
“Issshhhhh…” Sontak tingkah Seva mengundang tawa pria-pria yang mengerubutinya.
Sementara Aqilla hanya menonton saja, sesekali sebuah senyum terulas di bibirnya. Aku suka dengan apa yang aku lihat ini. Aqilla, tidak tahu sejak kapan, sepertinya aku mulai terbiasa hanya denganmu saja. Hanya satu wanita.
“Eh, bagaimana kalau sekarang kita mengajarkan yang lain” usul Edric.
“Aku tahu, ajarkan manjat…” aku tersenyum mendengar usulnya Edgar.
Andaikata monyet ini tahu seberapa capeknya aku menghalangi Seva yang hendak memanjat terus. Mana tubuh kakaknya yang menjadi sasaran panjatnya.
“Jangan, ajarkan bicara saja” usul Arion.
“Benar, suruh bilang paman David ganteng”
“Jangaannn, mendingan aku saja. Seva bilang paman Edgar ganteng”
“Eh jangan mau. Seva bilang paman Arion ganteng” Edric menggeleng.
“Lihatlah kelakuan tiga kakek tua ini, sebegitu pengennya dibilang ganteng” komentar Edric dengan nada iba.
***
__ADS_1