
Aku menoleh ke arah Seva yang sudah didudukkan oleh pelayan di atas ranjang.
“Seva, tante style…” godaku seraya menghempaskan tubuhku di hadapannya.
Bayi tujuh bulan menuju delapan bulan itu mengacuhkan panggilanku dan mulai melirik ke arah PSP, bayi itu langsung meraih PSP dengan menggunakan tangannya.. Yah, diriku dikacangin…
“Seva…” panggilku untuk kedua kalinya
Masih saja bersikap acuh kepadaku. Kayaknya PSP warisan Edric itu terlihat lebih menarik baginya. Aku tidak pernah menyangka bahwa aku akan kalah saing dengan benda hitam jelek itu.
“Seva… Seva mana wajah gemasnya???” aku masih mencoba mendapatkan perhatiannya.
Tetap saja aku diacuhkan oleh bayi itu. Seva benar-benar mengingatkan aku akan Edric yang suka mendadak autis saat bermain PSP. Ini anak ketularan penyakit gila PSPnya Edric kayaknya.
Ishhh, hey anak macam ngerti mainnya saja. Cuma dipencet-pencet gak jelas begitu.
__ADS_1
“Adik ipar…” iseng-iseng aku mencoba memanggilnya begitu.
Tahu apa yang dilakukan bayi itu saat aku memanggilnya adik ipar??
Ia melemparkan PSP itu lalu mulai memasang posisi hendak melata. Yakkk, apa maksudnya itu??
Apa kau tidak terima kalau aku jadi iparmu hah??
“Yakkk, bocah. Kau tidak mau aku jadi suami kakakmu yah??” sudah seperti orang tidak waras aku protes ke arah bayi itu.
Issshhh, kayaknya masih ada seseorang lagi yang harus aku taklukan hatinya, the baby…
***
AUTHOR POV
__ADS_1
Penyerbuan di Dark House…
Mereka benar-benar harus memperhatikan langkah dengan benar, sedikit suara mencurigakan maka penyergapan dadakan bisa terancam gagal. Inspektur John merasa lega dengan keputusannya untuk meninggalkan PSP boy di ***** (Ingat beberapa tempat memang harus dirahasiakan), karena ia bakalan kesulitan untuk mengasuh bocah sekaligus menyerang penjahat dalam waktu yang bersamaan.
Satu-satunya yang disesali empunya Dangkoma hanyalah membiarkan dirinya terbujuk oleh keponakannya Aqilla, sehingga dengan gegabahnya ia membawa serta wanita tujuh belas tahun dalam penyergapan. Semoga reputasi wanita itu bukan rumor belaka, atau aku bakal dalam masalah batin Inspektur John muram.
“Lima orang berjaga di depan gerbang paman, aku juga melihat dua orang bolak-balik seperti setrikaan di lantai dua. Sementara di lantai satunya, ada satu… oh empat penjaga paman. Kalau yang didalam, entahlah. Semua jendela yang ada tertutup tirai tebal tanpa celah pula” lapor Jerome dari balik teropong yang diarahkannya ke Dark House.
Bahkan dari balik lensa teropong, Jerome bisa mengetahui dengan jelas mengapa tempat tersebut dinamai Dark House.
Dark house benar-benar mencerminkan namanya, karena dari kejauhan saja sudah terlihat aura gelapnya. Bahkan semua jendela yang ada pun ditutupi oleh tirai tebal memastikan tidak ada orang luar yang bisa mengintip ke dalam. Letaknya pun cukup terpencil, berada di salah satu area pesisir, dengan bangunan yang hanya sejauh beberapa meter dari tebing curam dengan ombak-ombak pantai memanggil di bawahnya.
Mungkin di jaman dulunya keturunan ayahnya Aqilla menjadi kaya karena kegiatan penyelundupannya begitulah pikiran yang melintas di benak polisi muda Jerome. Rumah suram, pantai, keduanya gambaran ideal sebuah penyelundupan.
***
__ADS_1