
ARKAN POV
Aku terbangun, dan masih berada di kamar Aqilla. Diranjangnya pula, serta ia masih berada di jangkauan tanganku. Aneh, mengapa aku masih ada disini??
Aku melirik jam di meja samping, jam delapan pagi. Ini benar-benar aneh. Tidak seperti diriku yang biasanya.
Aku belum pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Biasanya setelah mendapatkan kepuasaan, beberapa jam setelahnya aku akan mengendap-endap pergi. Hanya wanita mungil ini yang bisa menahanku selama ini di ranjang. Aku bahkan tidak berniat langsung kabur saat ini.
Aku menjawil hidungnya dengan gemas – sepertinya tanpa disadari kami bergerak selama tidur sehingga posisi Aqilla berubah dari punggungnya menghadap ke arahku menjadi wajahnya yang kini menghadap ke arahku.
Andaikata ia tidak mengalami hari yang berat semalam, mungkin aku sudah mencuri kesempatan sekarang ini. Meninggalkan sejumlah tanda di tubuhnya. Anggap saja sebagai sarapan di ranjang.
Ada apa denganmu Arkan??
Tumben apa kau perhatian dengan seorang wanita??
Sebuah teguran berdenging di telingaku. Apa ini??
Apakah aku memang mulai peduli terhadap wanita ini??
“Paman…” Aqilla membuka matanya dihadapanku, bukannya memberiku senyuman sebagai sapaan di pagi hari, ia malah menarik hidungku sekuat tenaga.
“Adawwww, sakitt..” sungutku.
“Kalau begitu, arahkan senjatamu ke tempat lain paman” ancamnya.
Aku tergelak, ya ampun sungguh malang nasib pria yang menjadi suaminya nanti. Benar-benar wanita yang galak.
“Kebetulan ia memang anggota tubuhku yang paling rajin babe, selalu bangun lebih dulu”
__ADS_1
“Itu karena kau mesum luar dalam”
Aku menatap Aqilla, “Jangan bilang kau tidak tahu kalau tubuh pria memang seperti itu. Selalu barang bawahnya yang bangun duluan. Aqilla, kau tidak terlihat seperti perawan pemalu bagiku, lebih seperti wanita yang terbiasa dikelilingi pria, masa pengetahuan dasar semacam ini kau tidak tahu??”
“Memang iya, aku sedari kecil dikelilingi banyak pria, lebih banyak menyaksikan hormon testosteron yang menang dibandingkan otak” sindirnya.
“Bukan berarti aku tahu banyak tentang barang kalian” bentakknya.
Aku terperanjat kaget, “Apa ini caranya kau mengatakan bahwa kau masih….”
Wanita itu mendorong tubuhku sehingga menjauhi tubuhnya, “Itu sebabnya aku berusaha menjauhkan tangan nakalmu paman. Supaya suamiku nantinya tidak melihat jejak-jejak tangan mesummu”
Apa??
Jadi selama ini aku menggoda perawan??
Aku tersenyum lebar, “Tenang saja, setelah papah menangkap basah kita, ia memang berniat menyeret kita ke altar my pumpkin. Mungkin saja aku yang bakal menjadi suamimu besok…”
“Eh?? Sungguh??”
“Ia sedang berusaha merayuku selama ini. Bahkan menawarkan banyak hadiah bagiku supaya mau melamarmu”
Wanita itu tersenyum miris, “Yah, kalau papahnya paman tahu latar belakang keluargaku, pastinya akan membatalkan niatnya”
“Tenang saja, papah ku itu mudah luluh asalkan kita memberinya cucu sesegera mungkin”
Bukannya terhibur, wanita itu malah menarik bantal dari bawah kepalanya dan menimpukku dengan sadis.
“Dasar pria mesum, selalu mencuri kesempatan. Pakai banyak alasan padahal niatnya kan cuma mau mesum” bentaknya.
__ADS_1
Ia menimpukku kembali, “Pakai bawa nama orang tua segala, bilang mau melamar segala, ngajak buat cucu. Kalau mesum, ya mesum aja. Pakai nyari alasan segala” teriakknya kencang.
Hadeuh, sekarang ia malah mirip papahku saat sedang mengomeli aku. Apa perkataan orang memang benar adanya??
Kata orang wanita selalu mencari sosok suami yang mirip dengan ayahnya. Apa itu juga berlaku bagiku??
“Ya Aqilla!” teriakku berusaha menghentikan tindakan memukul membabi butanya itu.
“Bagaimana jika aku memang menginginkannya??”
Aqilla menatapku, “Bagaimana jika aku menginginkanmu?? Harus aku akui niat awalku hanyalah berusaha mencari tahu rahasiamu, tapi kehadiranmu lama-lama membuatku menginginkan hal yang berbeda. Apa kau percaya itu??” tanyaku
“Kau memang pandai merayu yah, paman” dengus Aqillam
“Aku tidak memungkirinya, aku memang pandai merayu. Namun aku kehilangan semua keahlianku sejak bertemu denganmu. Kau kebal terhadap pesonaku”
Aqilla tergelak, “Apakah aku wanita yang beruntung karenanya??”
Aku menggeleng, “Tidak, kau wanita yang sudah mencuri hatiku mungkin”
Ia menatapku, amat sangat lama, lalu ia pun mulai berkata, “Sudah aku bilang, aku tidak mau suamiku marah saat malam pertamanya, hanya karena melihat jejak tangan mesummu….”
Ia mengucapkan itu, namun tangannya sudah lama berhenti memukuli aku. Baguslah…
Aku kembali memasang senyum ceria, “Tenang saja, kalau aku menjadi suamimu, aku tidak bakalan mengeluhkannya. Malahan aku berniat menambah banyak jejaknya…”
Aku mendengarnya, sebuah bel pernikahan berdengung di telingaku. But, menikahi wanita ini kedengarannya tidak buruk kan…
***
__ADS_1