
EDRIC POV
Sepertinya dugaanku benar, mereka hanya mengenali aku sebagai pewaris Hyundai yang tidak bisa apa-apa. Kenyataannya, aku bisa melakukan banyak hal, salah satunya adalah membuka pintu yang terkunci.
Yah, aku harus berterima kasih kepada sahabat baikku Aqilla yang sudah sukses aku bujuk untuk mengajarkanku cara melakukannya.
Klik…krieett….
Finally, aku berhasil melakukannya. Pintu itu terbuka lebar buatku. Mungkin aku memang berbakat menjadi maling, karena seingatku Aqilla hanya perlu mengajarkanku sebentar, lalu aku berhasil menguasainya hanya dengan sekali mencoba.
Tidak, bukan karena aku berbakat menjadi maling, melainkan aku adalah pria tampan yang sangat pandai, hanya saja mereka tidak terlalu menyadari kepandaianku meliputi apa saja. Hehehehe…
Setelah berhasil membuka pintu itu akupun mulai berpikir, apa yang harus aku lakukan?? Namun pemikiran untuk menghubungi polisi berada dalam posisi terakhir di benakku.
Seperti yang aku bilang sebelumnya, bahwa aku adalah pria yang cerdas, jadi aku menyadari bahwa alasannya paman John mengadakan rapat rahasia di tempat ini bukanlah sekadar untuk mengganti suasana. Sepertinya pamannya Aqilla mencurigai ada tukang nguping di kantornya. Then, apa yang harus kau lakukan Edric – itu pikiranku yang bertanya.
Opsi pertama adalah, aku kembali ke hotel dan memberitahukan Kak Arkan, dan aku buru-buru mencoret ide tersebut. Seorang pria yang panik saat menyadari wanitanya dalam bahaya, lebih banyak merepotkannya daripada membantu.
Meminta bantuan papah tercetus di benakku sebagai opsi kedua. Tidak, sudah jelas kemarin papah mengatakan melalui telepon bahwa ia dan mamah bakalan mengungsi sekaligus Honeymoon di Bali selama pipa-pipa rumah dalam perbaikan.
Sejak kapan mengungsi dan honeymoon berada dalam jadwal yang sama. Papah yang aneh?? Mamah juga aneh, mau-maunya nikah dengan pria aneh begitu. But, untunglah keduanya menikah, atau si tampan Edric tidak pernah eksis di dunia ini.
Terus, apa yang harus aku lakukan??
__ADS_1
Masa aku diam saja??
Sama sekali tidak membantu dalam usaha menyelamatkan Stella.
“Ijinkan aku membantumu anak kaya…” sebuah suara menawarkan bantuan kepadaku.
***
ARKAN POV
Blue Sapphire, menuju kamar Aqilla…
Dengan senyum mengembang bak ayam jantan yang merasa puas dengan ayam betinanya, aku berjalan menuju kamar wanita itu.
Mengingat aku selalu penasaran kepadanya. Plus, ini adalah hal yang baru bagiku, sehingga aku tidak terlalu mengetahuinya dengan pasti. Namun aku mengetahui satu hal yakni, aku tidak akan membiarkan pria manapun berada di dekat Aqilla.
Emmm, sepertinya aku harus menambahkan PR bagi si monyet dan si ikan supaya mereka tidak punya waktu untuk memuja Aqilla.
Semua kata manis yang berada di ujung lidahku terpaksa aku simpan kembali saat menyadari bahwa ada seorang pelayan dan Seva di gendongannya yang menyambutku di depan pintu.
Lho kok mereka??
Aqilla mana??
__ADS_1
“Nona Aqilla dan tuan muda Edric berangkat satu jam yang lalu” ucap pelayan bahkan sebelum aku bertanya.
“Kemana??” tanyaku sementara pelayan membuka lebar pintu supaya aku bisa masuk.
“Tuan muda bilang mau mengajak nona Aqilla membeli kaset”
Berduaan??
Mengapa tidak mengajakku??
Aku lagi senggang begini, protesku kesal. Damn, sepertinya sifat cemburu posesif mulai tumbuh di dalam diriku.
Saat mataku menangkap sosok PSP yang teronggok di atas ranjangnya Aqilla, sebuah pertanyaan pun terlintas di benakku.
Kenapa PSPnya Edric ada disini??
Ya iyalah aku bertanya demikian, kan keduanya biasanya tak terpisahkan bagai sepasang kekasih. Dimana ada Edric, disitulah ada PSP.
“Terus kenapa kekasihnya Edric ada disitu??” mataku mengedik ke arah PSP.
“Itu memang PSP milik tuan muda Edric, namun diwariskan kepada tuan muda Seva. Kelihatannya tuan muda Edric senang melihat tuan muda Seva yang memiliki minat sama dengannya sehingga menghadiahkan PSP cadangannya kepada tuan muda Seva” jelas pelayan panjang lebar.
Ya ampun adikku, bisa-bisanya kau berpikir bayi semacam Seva sudah menunjukkan minat khusus terhadap sesuatu. Kasih saja Seva sebuah kantong plastik, ia juga bakalan menunjukkan minatnya karena kayaknya bayi memang seperti itu, berminat kepada apapun.
__ADS_1
Ya sudah, biarkan adik ipar dan kakak ipar itu bercengkerama. Kayaknya, kami berdua juga harus melakukannya. Aku menyuruh pelayan pergi, terserah kemana yang penting aku dan Seva bisa berduaan.