Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 44


__ADS_3

“Aqilla…” tiba-tiba saja sebuah suara  yang memanggil wanita itu diikuti oleh derap langkah seorang pria yang memasuki kamar. What the Hell? Apa ini?


Sebuah kecemburuan mendadak merayapi perasaanku, menggantikan semua perasaan tegang yang sempat menghinggapiku tadi. Sialnya, pria yang datang terakhir itu malah mendapat sebuah pelukan. Aqilla menjatuhkan senjatanya lalu menghambur ke dekapan pria itu.


Melihat tidak ada bahaya yang mengintai, aku bergegas menghampiri Aqilla, menarik wanita itu dari pelukan pria itu. Enak saja, sudah datang terakhir malah main peluk. Antri dong…


“Siapa kau?” tanyaku.  Aku menoleh ke pria satuannya, yang pertama kali datang,


“Kau juga belum menyebut nama”


Pria itu tersenyum. Aku tidak menyukainya hanya dengan menilai dari senyumannya itu. Sebuah senyuman yang bakal memicu wanita untuk berkata,


“You are a guy who’s too cute for us” Dia adalah semacam saingan. Sebuah predator pendatang baru.


“Namaku Jerome. Maaf sudah menodongkan senjata kepadamu tuan Arkan Abhimanyu. Benarkan??”


“Baguslah, kau akhirnya mengenaliku” harga diriku yang sempat merosot kembali naik.


“Aku…”


Belum sempat pria satuannya yang memakai baju hitam memperkenalkan dirinya, sejumlah petugas keamanan menyeruak masuk dengan senjata teracung siaga.


“Tuan, ada apa??” kepala penjaga keamanan bertanya kepadaku.


“Tidak apa-apa paman, hanya saja Kak Arkan terkejut dengan kedatangan paman-pamanku” malah Aqilla yang menjawab.


Apa??

__ADS_1


Paman??


Dan mengapa kau memanggilku kakak??


Seperti sebuah mantera, senyum Aqilla membuat para penjaga luluh. Mereka pun menurunkan senjata mereka.


“Jadi tidak terjadi apapun??” tanya kepala penjaga. Ia kemudian tidak sengaja melihat pistol digeletakkan begitu saja di lantai.


Aqilla buru-buru tertawa geli, “Sungguh Kak Arkan bersikap konyol. Masa pamanku ditakut-takuti memakai pemantik berbentuk pistol. Paman, apa memang terlihat mirip ya?”


Oh my gosh, aku menggaji mahal penjagaku bukan untuk tersipu malu begitu. Sial, ini wanita memang tahu caranya menundukkan pria melalui senyumannya. Sepertinya ia memang sedarah dengan Seva. Sama-sama tahu cara menaklukan seseorang dengan senyuman.


But, I like it. Mumpung ia memanggilku kakak, sekalian saja aku manfaatkan. Aku mendekati Aqilla,


“Maaf sayang, aku tidak tahu kalau mereka pamanmu” ucapku seraya menarik pinggangnya dari arah belakang, sampai menempel di perutku. Sementara mulutku mengecup bagian belakang lehernya.


***


AQILLA POV


Oh my gosh, kamarku berubah menjadi drama percintaan….


Paman ini bukan hanya pria paling mesum yang dikenalnya, juga tukang mengambil kesempatan yang paling menyebalkan. Andaikata para penjaga tidak mengacungkan senjata, aku bakalan menghabisi pria mesum ini.


Namun sebelum mereka menurunkan senjata dan memberikan kesempatan kepada paman untuk menjelaskan identitasnya, maka aku terpaksa menahan amarahku.


Aku tidak berani menatap mereka yang menatap jengah ke arahku akibat ciuman panas paman mesum yang kini semakin ehem….

__ADS_1


“Ehem kalau begitu kami akan kembali ke pos tuan” ucap si kepala penjaga berdehem malu  yang dibalas oleh Arkan berupa gumaman.


Sekarang ia semakin mengetatkan pinggangku serta mula membalikkan badanku supaya menghadap ke mukanya, oh my…


Aku bahkan tidak bisa melirik ke arah para penjaga yang meninggalkan ruangan, juga ke arah pamanku dan pria bernama Jerome karena paman mesum itu memerangkap mukaku dengan kedua tangannya sementara ia mulai menciumi bibirku.


Hey paman mesum, apa kau mau lihat apa yang sudah aku pelajari selama ini??


Salah satu pamanku adalah ahlinya kecepatan tangan, ia bisa mengambil barang orang lain bahkan orang itu tidak menyadarinya. Untungnya aku juga diajari olehnya sampai mahir, cukup mahir untuk menelusupkan tanganku ke bagian dalam celana paman mesum ini untuk selanjutnya…


“Adaaaaawwwww” aku menyeringai puas saat melihat paman mesum melolong kesakitan akibat aku menarik celana dalamnya ke arah atas sampai kedua sisinya tiba-tiba terselip, menjepit asetnya, yah pokoknya cukup untuk membuat bagian bawahnya kesakitanlah. Kapok!!!! Siapa suruh main cium begitu…


“Yakkk kau???” pelototnya kesal.


Lima belas menit kemudian, setelah pelototan kesal paman itu memudar, begitu juga senyum geli di wajah pamanku serta namja bernama Jerome itu hilang, barulah aku menanyakan sesuatu yang penting.


“Paman, temanku Stella…”


“Baiklah” potong pamanku,


“Ketika aku bertanya kepada temanmu yang suka main PSP itu mengenai orang terdekatmu, ia menyebutkan nona Stella juga. Sayangnya, kami gagal melindunginya. Dua hari yang lalu, polisi yang menjaganya berhasil dilumpuhkan, sampai saat ini bawahanku itu masih dalam keadaan kritis” untuk sesaat paman memasang wajah muram,


“Dan temanmu berhasil mereka culik. Maaf Aqilla”


“Tunggu sebentar, siapa itu Stella?? Mengapa ia diculik?? Bawahanmu?? Apa kau polisi?? Sungguh?? Dan apa yang sebenarnya terjadi??” sederetan pertanyaan dimuntahkan begitu saja oleh paman mesum.


“Apa?? Stella diculik??” teriakan kaget Edric terdengar dari arah pintu…

__ADS_1


***


__ADS_2