Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu

Antara Aku, Kamu, Dan Bayi Itu
Ep. 16


__ADS_3

Sandra mengangguk mengiyakan. Ya sudah, kalau begitu aku tinggal menunggu adik laki-lakiku.


Ya ampun, aku bakal bertemu adikku untuk pertama kalinya. Bagaimana nantinya aku bakal merespon??


Bagaimana juga dengannya??


Apakah ia akan mengulurkan tangannya untuk kakak yang tidak diketahuinya??


Aku merebahkan tubuhku yang tegang selama pelarian ini ke arah kasur. Namun, aku masih tetap memakai jubahku, mendadak aku merasa malas melepasnya.


“Mau kemana San?” tanyaku saat mendapati Sandra berjalan menuju pintu. Aku bangkit kembali dari acara rebahanku.


“Aku harus kembali nona. Oya, madam bilang kalau dugaanku nona benar. Kedua orang yang mengendap-endap itu memang kiriman orang yang menghianati ayah nona”


“Benarkah???” tanyaku, meskipun aku sudah tahu jawabannya.


“Iya, penjaga berhasil menangkap keduanya. Madam berpura-pura menyangka keduanya mengendap-endap untuk mengintip penghibur The Insomnia. Begitulah yang Madam bilang kepada keduanya”


“Mengapa begitu???” tanyaku bingung.


“Kata madam, paman nona yang menyarankan demikian melalui telepon supayaThe Insomnia lepas dari kecurigaan mereka. Itu sebabnya mulai malam ini, Madam dan paman nona harus menghentikan semua komunikasi dengan nona, karena pastinya gerak-gerik mereka sedang diawasi”


“Ohhh begitu. Oya, bagaimana keduanya bisa mencurigai The Insomnia ya?? Padahal, Madam saja yakin kalau tempat itu tidak berada dalam daftar tempat yang akan mereka curigai”

__ADS_1


“Entahlah nona. Sepertinya orang-orang jahat itu mengetahui hubungan antara ayah nona dengan Madam, dan juga hubungan kekeluargaan nona dengan paman nona. Kata Madam, dua jam setelah nona disembunyikan, paman nona dan kekasihnya menjadi sasaran tembak orang tak dikenal”


“Hah?? Sungguh??” tanyaku kaget.


“Sepertinya mereka mengira wanita yang digandeng paman nona sebagai nona sehingga mereka menjadikannya target tembakan, mungkin mereka mengira nona lari ke paman nona”


“Hah? Apa benar yang menembak itu suruhan si pengkhianat?”


“Nyaris yakin, soalnya wanita yang digandeng pak polisi itu memang terlihat seperti nona, tapi entahlah”


“Terus bagaimana keadaan wanita itu?”


“Untungnya hanya terserempet saja di bagian lengannya. Tidak terlalu berbahaya. Sekarang mungkin sudah dirawat di rumah sakit”


“Astaga, jangan-jangan mereka juga mengintai teman-temanku?? Iya sih, si pengkhianat itu memang sudah lama mengikuti ayah, cukup lama untuk mengetahui latar belakang ayah sepertinya. Itu sebabnya, gelagat pengkhianatan itu tidak tercium baik oleh ayah atau paman-pamanku”


“Aku sendiri sebenarnya merasakan ketidakpuasan pengkhianat itu terhadap gaya kepemimpinan ayah. Ia merasa beliau mulai melunak untuk ukuran pelaku dunia hitam. Andai saja aku tidak mengabaikan kecurigaanku, mungkin….”


“Tidak, nona tidak salah, bukan salah nona kalau ia berbuat jahat…” ucap Sandra buru-buru menenangkan aku.


“Sebaiknya aku bergegas pulang. Jaga diri nona baik-baik ya”


“Oke, bye San…”

__ADS_1


***


ARKAN POV


Lobby hotel bukanlah tempat yang cocok untuk Curious monyet George alias si Edgar satu ini.


Mengganggu tauk…


“Kak ngapain balik kesini”


Aku menganggap angin lalu pertanyaan si Edgar itu. Habisnya itu adalah pertanyaan entah keberapa kalinya yang dilontarkannya semenjak aku memutar arah mobilku. Aku masih memendam rasa curiga kepada kedua wanita itu sehingga memutuskan untuk kembali ke hotel untuk menyelidikinya.


Anehnya, saat melihat sekilas ke lengan wanita berjubah itu yang tidak sengaja tersingkap saat ia mencengkeram tangan temannya, aku mendadak merasa mengenal lengan itu, hanya saja aku tidak ingat mengenalnya dimana.


Terutama entah itu tatto atau tanda lahir berwarna hitam yang ada di pergelangan tangan wanita itu – yang tidak sengaja tertangkap oleh mataku, rasanya aku pernah melihatnya. Tapi sekali lagi, dimana??


Aku juga mengabaikan pandangan sebal Edgar yang sibuk mondar-mandir di lobby. Sementara aku menghampiri meja resepsionis. Aku menuju kesana, untuk menanyakan kepada pegawaiku itu mengenai kamar yang dipesan oleh kedua wanita tersebut.


Setelah mendapatan nomor kamar yang aku inginkan, aku bergegas mendekati Edgar. Tanpa mengharapkan bantahan aku menyuruhnya pulang.


Dan ia untungnya menuruti perkataanku sepatuh anak kecil. Setelah itu, aku menuju kamar wanita itu.


Kamar 210

__ADS_1


I am coming!!!


***


__ADS_2