
***
AUTHOR POV
“Ya ampun bro berhentilah tersenyum seperti itu. Merusak selera makanku saja” protes Arion saat mendapati kembarannya bukannya menghabiskan sandwich yang ada di meja makan, melainkan sibuk senyum-senyum bak orang gila.
“Arkan, kau tidak melanggar janjimu kan??” pria cantik itu menyipitkan mata penuh curiga ke kembarannya. Bukannya dijawab, pria cantik itu malah dicuekin.
“Janji yang mana si kak” si ikan mokpo David yang terlihat lebih tertarik dengan pertanyaan itu.
“Janji tidak memasukkan wanita ke rumah” jawab Arion.
Pembicaraan tentang wanita membuat telinga Edgar mendadak terpasang on, maklum pria ini memang suka dengan percakapan berbau wanita.
“Kok kakak berpikir Kak Arkan bawa wanita ke rumah???” tanyanya.
“Memangnya kalian tidak menyadari tampang puasnya Arkan apa?? Sudah mirip Hion selepas musim kawin saja. Lagipula apa kalian lupa kalau aku saudara kembarnya?? Aku bisa merasakan kepuasaannya saat ini” si Arion memberikan penjelasan panjang lebar di sela-sela kegiatannya menguyah chicken sandwichnya.
“Ohhh, Tapi kapan Kak Arkan jajannya?? Perasaan dari semalam tidak keluar dah. Kan sibuk mempersiapkan meeting??” tanya si monyet Edgar.
“Itu sebabnya aku mengira ia membawa wanita ke ranjangnya. Iyakan Arkan??”
“Tidak…” jawab Arkan singkat,
“Aku sibuk dengan persiapan meeting, mana sempat jajan” jawabnya seraya memasang ekspresi dingin yang kalau diterjemahkan mungkin berarti – berhenti – mencurigaiku- dengan- pikiran- konyol- kalian.
“Oya, Aqilla mana???” si David buru-buru mengganti topik pembicaraan.
“Tidak tau” jawab Arion.
__ADS_1
“Edric??” masih si ikan asin yang bertanya.
“Tidak tau” jawab Edgar si monyet mesum.
“Paman??” David masih bersikeras untuk mengabsen semua penghuni rumah yang tidak hadir di meja makan saat ini.
“Tidak tau…” jawab Arkan.
“Bi…” sepotong Sandwich dijejalkan Arion untuk membungkam mulut ikan asin itu sebelum ia melanjutkan kegiatan mengabsennya.
Bisa-bisa si Nemo ini bakalan menanyakan semua penghuni rumah sampai ke pelayan-pelayannya yang berjumlah belasan, mungkin si Hion juga bakal terseret dalam kegiatan mengabsen ini, kalau Arion tidak menyumpalnya memakai Sandwich.
“Nyammm…sandwichnya enak…”
***
“Setan kecil ini menyuruhku kemari hanya untuk kencan denganmu??” aku menatap sebal ke arah pelayan, yang bukannya menjawab malah sibuk menyuapkan es krim ke mulut Seva.
Yang ajaibnya lagi, entah mengapa pelayan malah mendadani Seva sehingga menyerupai bayi perempuan yang cantik.
“apa kau tidak tahu kalau kepalaku pusing” aku memijat pelan keningku.
“Aku baru saja menghadiri rapat di neraka” keluhku.
Tapi aku tidak bisa menghentikan rasa gembira di hatiku kalau mengingat kejadian tadi pagi. Saat wanita itu masih tertidur pulas, aku sebenarnya mau langsung menuju kamar mandi untuk bersiap-siap ke Blue sapphire, sayangnya otak nakalku membujukku untuk mendekati Aqilla. Alhasil, aku berakhir selama lima belas menit dengan mecicipi setiap jengkal lehernya.
Ajaibnya wanita itu bahkan tidak menggeliat untuk meresponnya. Sialan ini anak, benar-benar kebal akan pesonaku. Capek-capek bikin kissmark malah dikacangin begini, rugi aku. Kalau saja aku tidak ingat bahwa aku harus meeting di Blue Sapphire, aku bakalan asik menandai sekujur tubuhnya dengan ciumanku. Sigh...
“Tuan muda, apakah meetingnya berjalan lancar” Suara pelayan membuyarkan lamunan indahku dengan pertanyaan yang menyebalkan.
__ADS_1
Aku menggeram kesal. Kalau saja aku tidak tahu pelayan ini lebih tua dariku, atau tidak sedang menggendong bayi bertangan usil itu – yang dari tadi tangannya berusaha meraih benda terdekat, mungkin aku bakal membentaknya.
Kalau perlu macchiato latteku aku semburkan ke mukanya. Sayangnya aku tidak bisa melakukan keduanya tanpa menarik perhatian pengunjung lainnya.
“Maaf tuan, kami terpaksa menyeret tuan kemari karena tuan muda Edric dan nona Aqilla tidak bisa menemani acara jalan-jalan kami”
“Kau kan bisa jalan-jalan sendiri” omelku
“Tapi tuan muda Edric menyuruhku mengajak tuan supaya ada yang membayari acara jalan-jalan kami”
Benar juga, bagaimana aku bisa melupakan itu. Bagi mereka aku bukan hanya babu, aku juga kartu kredit berjalan.
Sigh…
“Sepertinya tuan kecil Seva sedikit rewel akibat tumbuh gigi. Makanya tuan muda Edric menyuruhku untuk mengajak tuan muda Seva jalan-jalan. Bahaya kalau tangisan tuan Seva memenuhi rumah”
“Eh sungguh??” tanyaku tidak percaya saat pelayan itu menyebut tumbuh gigi. Perasaan aku hanya melihat dua gigi terdahulunya, tidak ada gigi baru.
***
Baca juga story saya yang lainnya ya..
Hehe
> I Hate You, But
> Confession
Terimakasih^^
__ADS_1