Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Nasihat


__ADS_3

Alena kembali bekerja, Ia selalu datang lebih awal.


Ada seseorang yang menarik perhatian Alena, bukan merasa jatuh cinta, namun justru Alena di buat terkejut dan menangis oleh seseorang itu.


Melihat Alena terdiam, Yusuf mencoba untuk mendekati Alena dan menanyakan apa yang terjadi.


"Heh. Ngapain ngelamun disini? Liatin apa, sih?" Tanya Yusuf.


"Cup. Sini deh, lihat orang itu!" Tunjuk Alena pada orang yang tengah berjongjok sembari merokok itu.


Yusuf mengikuti telunjuk Alena, dan melihat sosok yang di maksud oleh Alena.


"Siapa? Si Komeng?" Tanya Yusuf.


"Komeng? Namanya Komeng?" Tanya Alena.


Yusuf tertawa kecil, "itu nama panggilan, nama aslinya Yanto. Kenapa emang?" Tanya Yusuf.


"Oh, Dia mirip banget sama Bapak Aku," ucap Alena apa adanya.


"Hah? Hahaha, Meng! Sini!" Yusuf berteriak memanggil Yanto.


Yanto menoleh, seketika Ia mematikan puntung rokok dan berjalan menghampiri Yusuf dan Alena.


"Apa, Cup?" Tanya Yanto.


"Sini. Kata si Alena Kamu mirip bapaknya," ucap Yusuf sambil tertawa.


Yanto mengerutkan keningnya, dan menatap ke arah Alena.


"Kamu anak baru?" Tanya Yanto.


Alena mengangguk, Alena benar-benar di buat terkesiap dengan wajah Yanto yang begitu mirip dengan mendiang ayahnya.


"Om mirip banget sama Bapak Aku," ucap Alena.


"Om, Om. Enak aja manggil Om! Emang mirip banget ya? Sampai gak berkata-kata gitu," tanya Yanto.


Alena merogoh ponsenya di dalam tas, dan mencari foto ayahnya lalu menunjukkannya pada Yanto.

__ADS_1


"Ini lihat, Om!" Alena menunjukkan foto almarhum ayahnya kepada Yanto.


Yusuf dan Yanto melihat foto ayah Alena, keduanya pun terkejut karena kemiripan antara Yanto dan ayah Alena.


"Haha ini mah Kamu kalau nanti seumuan bapaknya si Alena!" Yusuf meledek Yanto.


"Ish!" Yanto kembali menatap foto ayah Alena lagi.


"Iya, ya. Mirip," ucap Yanto.


"Iya, kan. Seneng banget bisa ketemu orang yang ketemu Bapak," ucap Alena sembari menahan tangisnya.


"Eh, kenapa malah nangis Kamu teh? Udah ih, di sangka Aku ngapa-ngapain Kamu gera!" Seru Yusuf.


"Sedih, Cup. Bapak Aku udah meninggal," ucap Alena.


Yanto dan Yusuf pun terdiam, Mereka baru saja tahu kalau Alena anak Yatim.


"Maaf, Len. Kita baru tahu," ucap Yusuf.


"Gak apa-apa, Cup. Cuma sedikit terobati aja karena bisa lihat orang yang begitu mirip sama Bapak," jawab Alena.


"Hih, kepedean!" Ledek Yusuf.


"Bodo amat! Jadi gak apa-apalah Kamu manggil Saya dengan sebutan Bapak," ujar Yanto.


Alena begitu senang, "beneran?" Tanya Alena.


"Iya. Mau manggil Ayah boleh, Papah boleh, Papih juga boleh." Yanto menuturkan.


"Bapak aja," ucap Alena.


"Oh, iya deh."


Akhirnya Alena pun memanggil Yanto dengan panggilan 'bapak' dimana pria yang telah memiliki satu putra itu tak keberatan dengan apa yang di lakukan oleh Alena.


Ketika tengah asik berbincang, tampak Topan yang berjalan menghampiri ketiganya.


Kehadiran Topan di sadari oleh Alena, entah mengapa Alena seakan tak nyaman dengan cara Topan mendekatinya.

__ADS_1


"Hey, ngobrolin apa nih. Seru banget?" Tanya Topan.


Alena hanya tersenyum tipis, sedangkan Yusuf Ia sudah tahu maksud kedatangan Topan.


"Hemm basa basi busuk!" Seru Yusuf.


"Apa sih, Cup. Sirik aja!" Balas Topan.


"Heh, kalau mau deketin si Alena izin dulu sekarang sama Bapaknya, nih!" Yusuf menepuk bahu Yanto.


Topan mengerutkan keningnya, Ia tak paham mengapa Ia harus meminta izin dulu pada Yanto untuk mendekati Alena.


"Kenapa harus minta izin sama Mang Yanto?" Tanya Topan.


"Ya karena sekarang Yanto itu berperan sebagai bapaknya Alena kalau selama di tempat kerja!" Seru Yusuf.


"Pan! Di panggil Teh Neng!" Seseorang berteriak dari dalam pabrik memanggil Topan.


Terpaksa Topan pun harus beranjak, walau sebenarnya Ia masih ingin berkumpul bersama Alena dan yang lainnya.


Alena menghela nafas, Ia seakan risih jika terus menerus di dekati oleh Topan.


"Dia suka sama Kamu?" Tanya Yanto.


"Emm gak tahu. Tapi dari gerak gerik, terus cara bersikapnya sih kayaknya iya." Alena menuturkan.


"Oh, gitu. Ya gak apa-apa, dong. Kalau nembak terima aja, Dia anaknya baik kok." Yanto menjelaskan.


Alena tampak terdiam, Ia teringat pada Ezra yang sampai saat ini belum juga memberi kepastian terhadap hubungan keduanya.


"Gak tahulah, Pak. Aku belum mau mikirin tentang pacaran dulu," ujar Alena.


"Emm, gitu. Ya kalau gitu Kamu jangan terlalu memberi harapan sama si Topan, takutnya Dia udah ngarep, kan. Kalau emang gak berminat sama Dia, tunjukin dengan sikap Kamu dari sekarang. Jangan gak enakan, nanti Kamu juga yang repot!" Seru Yanto.


"Iya, Pak." Alena senang karena ada yang mau mengingatkannya.


"Cie, bapak lagi kasih nasihat ke anaknya!" Yusuf mulai kembali meledek.


Ketiganya pun tertawa, tiba-tiba bel berbunyi tanda semua karyawan harus masuk ke dalam bagian masing-masing dan mulai bekerja.

__ADS_1


__ADS_2