
Hampir beberapa menit Alena menunggu, akhirnya Alena melihat Teh Ika keluar dari ruangan.
Teh Ika pun tampak berjalan mendekati Alena, dan duduk di mejanya.
"Alena, sini!" Panggil Teh Ika, Alena pun berjalan dan duduk di depan Teh Ika.
"Lena, karena Kamu tangannya basah jadi Kamu gak bisa di tempatin di bagian produksi manapun." Teh Ika menuturkan.
Raut wajah Alena terlihat murung, Ia sudah yakin bahwa dirinya tak bisa melanjutkan training.
"Jadi Saya gak di terima, Teh?" Tanya Alena dengan lesu.
Teh Ika tersenyum tipis, Ia kembali memberitahukan sesuatu pada Alena.
"Kalau di produksi memang Kamu gak bisa di terima, baik di produkis benang jahit, bordir, maupun rajut. Tapi Kamu bisa di tempatin di gudang, disana benang-benangnya sudah di bungkus jadi sepertinya gak masalah kalau tangan Kamu basah."
Alena kembali bersemangat, "jadi gimana? Saya masih bisa training, Teh?" Tanya Alena.
Teh Ika mengangguk, "bisa. Sekarang Saya mau anterin Kamu ke gudang bnang jahit, karena di gudang benang bordir gak ada posisi kosong. Ya sudah ikut Saya!" Pinta Teh Ika.
Alena berdiri, hendak mengikuti Teh Ika menuju gudang benang jahit.
"Untuk semuanya, belajar terus! Saya ke bawah dulu!" Seru Teh Ika pada peserta training lainnya.
"Baik, Teh." Teman-teman Alena menjawab. Alena bersama Teh Ika pun turun dari lantai dua menuju gudang benang jahit yang terletak di gedung sebelah.
Teh Ika dan Alena pun masuk ke sebuah gedung di lantai bawah,disanalah gudang benang jahit.
"Bu, permisi. Ini Alena, peserta training yang mau di barter sama yang ada disini." Teh Ika menuturkan.
"Oh, iya. Sebentar!" Pinta Bu Tini, kepala gudang benang jahit.
__ADS_1
"Jule! Panggilin si Rika yang anak baru itu!" Seru Bu Tini pada Teh Jule, pengawas gudang benang jahit.
"Iya, Bu!" Sahut Teh Jule.
"Kenapa minta barter?" Tanya Bu Tini pada Teh Ika.
"Iya, Bu soalnya Alena tangannya basah. Gak bisa kalau di tempatin di produksi," jawab Teh Ika.
"Oh, iya ya. Ya udah barter aja, kebetulan anak baru yang kemarin masuk juga gak nyampai terus targetnya!" Sahut Bu Tini.
"Semoga Kamu bisa nyampai target hariannya, ya!" Lanjut Bu Tini pada Alena.
Alena pun mengangguk, tak lama Teh Jule datang bersama anak yang berseragam hitam putih sama seperti Alena.
"Bu, ini." Teh Jule berucap.
"Oh, iya. Rika, Kamu di pindahkan ke produksi benang bordir, ya. Sekarang Kamu bisa ikut sama Teh Ika!" Seru Bu Tini.
Setelah Teh Ika keluar gudang, Alena di minta untuk duduk.
Disana, Bu Tini menjelaskan alur kerja di gudang benang jahit.
"Nah, Alena. Sebelumnya Kamu udah pernah kerja?" Tanya Bu Tini.
"Pernah, Bu. Di gudang bahan baku dan aksesori, tapi di garment." Alena menjawab.
"Oh, bagus. Sedikitnya ada gambaran ya ritme kerja di gudang itu sepertu apa," ujar Bu Tini.
"Iya, Bu." Alena kembali menjawab.
"Nah, nanti Kamu di tempatin di bagian benang palet. Benang yang kecil, tahu?" Tanya Bu Tini.
__ADS_1
"Oh, iya tahu." Alena menjawab seperlunya.
"Nah, itu. Kamu nanti harus mengikat benang-benang yang udah di bungkus, satu bungkus berisi satu lusin atau 12 cones benang, di ikat jadi perikatnya itu 12 bungkus. Ngerti?" Tanya Bu Tini.
Alena mencoba memahami apa yang di jelaskan oleh Bu Tini, dan menyimpulkannya.
"Jadi di ikatnya itu Saya harus menumpuk benang sebanyak 12 bungkus?" Tanya Alena.
"Nah benar, di bungkus. Nanti Saya ajari bagaimana cara menumpuknya biar gak gampang roboh sama cara ngikatnya," ujar Bu Tini.
"Baik, Bu." Alena mulai memahami.
"Selain mengikat, Kamu juga punya tanggung jawab di rak. Jaga kerapihan rak, stok di rak sama di kertas stoker yang di tempel harus sama. Sebelumnya, benang jahit itu punya 600 warna, di mulai dari warna paling muda yaitu warna 100. Nanti Kamu bisa lihat warna-warnanya, Kita menggunakan kode warna dengan angka, soalnya kalau menyebut warnanya akan sulit karena memang sangat beragam. Nanti Kamu juga harus menyiapkan barang yang di minta oleh custemer dari berbagai kota, itu bisa belajar sembari berjalan aja ya. Sekarang Kita ke gang dimana Kamu bakal di tempatin!" Seru Bu Tini.
Mereka pun berjalan menuju gang dimana beberapa rak benang tersusun dengan rapih, gang rak benang palet terdapat di urutan ke tiga yaitu di tengah-tengah ruangan gudang.
"Nah, tempat Kamu disini. Bisa di lihat ini benang-benang palet dari warna 100 sampai 600, seiring berjalannya waktu Kamu pasti hafal sama warnanya. Nah yang di keranjang bawah ini, di kirim dari produksi, masih satuan kan, belum di ikat per 12 lusin. Sekarang Kamu lihat cara Saya menumpuk, dan mengikat!" Pinta Bu Tini.
Alena memperhatikan setiap gerakan Bu Tini, tampak mudah namun Alena tak bisa bereksperasi tinggi sebelum mencoba.
"Sekarang giliran Kamu!" Pinta Bu Tini.
"Ini contohnya, Kamu coba sampai bisa. Terus beresin semua yang ada di keranjang, sesuai warnanya! Jangan sampai ada warna lain terselip!" Seru Bu Tini.
"Baik, Bu." Alena pun mulai menumpuk satu persatu benang.
"Ya sudah Saya kembali ke depan, nanti selang satu jam Teh Jule akan kesini buat cek kerjaan Kamu!" Seru Bu Tini.
Alena mengangguk,Bu Tini pun meninggalkan Alena sendiri.
Alena kembali mencoba untuk menumpuk sesuai arahan Bu Tini, berkali-kali Alena gagal namun Ia tak menyerah begitu saja.
__ADS_1
"Gampang-gampang susah ternyata! Ayo semangat, Alena! Bismillah!" Alena mencoba untuk menyemangati dirinya dan kembali berusaha.