
Yusuf mendatangi satu persatu anak-anak produksi, Ia meminta semua mengingat kembali dan memperlihatkan struk gaji yang di bagikan oleh Alena.
"Buat apa sih, Cup?" Tanya Teh Neng.
"Alena kena tegur, katanya uang gajian minggu kemarin itu tekor. Bu Novi ngasih lebih, sedangkan Alena ngerasa kalau Dia udah bener dan gak ada uang lebih sama sekali." Yusuf menuturkan.
Mendengar pernyataan Yusuf, terlihat Arka dan Topan terkejut. Keduanya langsung menghampiri Yusuf, dan bermaksud menanyakan masalah yang menimpa Alena.
"Gimana maksudnya, Cup? Intinya Bu Novi minta Alena ganti uang perusahaan gitu?" Tanya Topan.
Untuk masalah kali ini, Arka membiarkan Topan turut ikut campur. Ia mengesampingkan dulu egonya untuk tak merasa cemburu dengan sikap Topan yang masih memperdulikam Alena, Arka juga tak yakin jika Alena berbuat kesalahan apalagi yang menyangkut dengan uang perusahaan.
"Alena dimana sekarang?" Tanya Arka pada Yusuf.
"Di gudang, nangis Dia pasti!" Seru Yusuf yang merasa kasihan pada Alena.
Tanpa berpikir lama, Arka segera menemui Alena di gudang. Di sisi lain, Topan pun sangat ingin menemui Alena untuk sekadar berempati, namun hal itu tidak mungkin Ia lakukan.
Arka berjalan dengan cepat, sementara Yusuf Ia masih memeriksa dan menanyakan slip gaji para anak produksi.
Alin dan Nur menoleh, ketika melihat Arka masuk ke dalam gudang.
__ADS_1
"Tumben Arka ke gudang, ada apa, ya?" Tanya Alin ke Nur.
"Gak tahu. Si Ucup juga kayak lagi panik gitu tadi," ujar Nur.
Sesampainya di gudang, Arka mendapati Alena yang menundukkan kepalanya di atas meja.
"Len." Arka memanggil.
Alena mengangkat kepalanya, Ia memburu Arka dan memeluknya dengan erat.
Arka mendengar isak tangis Alena, Arka langsung mengelus punggung Alena dan menenangkannya.
"Kamu tenang dulu, Kita cari solusinya bareng-bareng!" Pinta Arka.
"Aku yakin Aku gak terima uang lebih, Aku terima uang kayak biasanya. Kalaupun ada lebih, Aku pasti balikin kok." Alena menjelaskan.
"Iya, Aku percaya. Tapi Kita juga harus cari tahu kenapa sampai bisa kayak gini," ujar Arka.
"Aku takut ini akan merembet ke kontrak kerja Aku, Aku takut Bu Novi gak percaya lagi sama Aku." Alena menuturkan kekhawatirannya.
Arka mengelus puncak kepala Alena, Ia merasa kasihan melihat Alena yang tertekan seperti saat ini.
__ADS_1
Saat tengah menangis, tiba-tiba terdengar suara Ibu Novi yang berteriak memanggil Alena.
Alena terkejut, Ia pun segera berdiri dan beranjak dari tempatnya.
"Aku nemuin Bu Novi dulu!" Seru Alena.
"Aku temenin!" Seru Arka.
"Gak usah, Aku takut Kamu malah kena marah sama Bu Novi juga!" Tolak Alena.
Arka terdiam, Ia membiarkan Alena untuk menemui manager perusahaan sendirian.
"Gimana? Kemana larinya uang itu?" Bentak Bu Novi dengan nada tinggi yang sampai terdengar hingga area produksi.
"Bu, Alena yakin kok gak ada uang lebih. Kalau pun lebih, Alena pasti balikin!" Alena membela diri.
"Lena! Saya itu bawa uang beberapa amplop dengan jumlah berbeda, dan yang tersisa saat itu cuma uang yang buat ke Kamu sama simpanan perusahaan!" Seru Bu Novi.
"Kamu jangan tutupi kesalahan Kamu dengan wajah polos Kamu! Jangan berlindung di balik jilbabmu!" Kembali Bu Novi membentak.
Semua karyawan menatap Alena, Alena bahkan sampai tak dapat menatap Bu Novi saking malu dan tertekan.
__ADS_1
"Bu demi Allah, Alena gak ngambil uang perusahaan. Karena Alena yakin Alena gak salah hitung," ujar Alena.
Arka tak bisa diam saja, Ia bermaksud untuk menemui Bu Novi dan Alena. Sementara itu, beberapa staf dan terlihat Yusuf yang juga bermaksud untuk menjadi penengah antara Ibu Novi dan Alena.