
Hari-hari telah berlalu, Alena telah lulus dari bangku sekolah menengah kejuruan.
Kini Ia tengah sibuk mencari-cari info lowongan kerja, bahkan untuk beberapa hari Alena sering menolak ajakan Ezra untuk bertemu.
Sudah beberapa tempat informasi lowongan kerja yang Alena dapatkan, Ia kini bermaksud untuk menyiapkan surat lamaran pekerjaan sebanya-banyaknya.
Siang itu, Alena membutuhkan sebuah kertas untuk menulis surat lamaran pekerjaan. Karena semasa tidak bersekolah, Alena tidak mendapatkan jatah uang jajan. Ia di beri uang jajan, jika memang ada sesuatu yang harus di beli seperti pulsa atau kuota internet.
Untuk memenuhi kebutuhan perlengkapan membuat surat lamaran, Alena mengambil dari warung Bibinya yang memang kebetulan menyediakan alat tulis juga.
Sebagian pelengkap, Alena beli di tepat fotokopi.
Namun saat itu, Alena berhenti membuat surat lamaran setelah mendengar perkataan Bibinya.
"Udah dong, Lena. Udah berapa banyak lamaran yang Kamu bikin, mana ngambilin dari warung terus. Udah aja, itu dapat berapa? Masuk-masukin dulu lamarannya!" Seru Bi Ai.
Setelah itu, Alena berhenti. Dan mulai memasukan surat lamaran ke beberapa pabrik di daerahnya.
Suatu hari, Alena mendapat info bahwa di kabupaten di adakan bursa kerja, dimana akan ada banyak perusahaan yang membuka lowongan.
Jarak dari rumah ke kabupaten kota cukup jauh, dan kebetulan tidak ada angkutan umum menuju tempat tersebut. Adapun ojeg yang mau, ongkosnya pun terbilang lumayan mahal.
Alena sudah pasrah, Ia tak akan bisa mengunjungi bursa kerja itu karena terkendala ongkos. Namun, informasi itu ternyata sampai ke telinga Ezra.
Ezra yang setelah lulus tak langsung mendaftar ke universitas, Ia memilih untuk menundanya satu tahun dengan beralasan ingin mencari biaya untuk kuliah dari hasil kerja sendiri.
Dan ternyata, Ezra mengajak Alena untuk mendatangi bursa kerja.
Alena senang, karena akhirnya Ia memiliki kesempatan untuk memasukan surat lamaran pekerjaan dengan mudah.
Pagi hari, Ezra sudah menjemputnya. Alena berpamitan pada Bi Ai, dan Ia pun pergi bersama Ezra.
Sepanjang jalan, Ezra banyak bercerita mengapa Ia memilih untuk bekerja lebih dulu sebelum masuk ke universitas.
__ADS_1
"Bapak Kamu emangnya gak apa-apa kalau Kamu gak langsung kuliah?" Tanya Alena.
"Gak apa-apa, sih. Ya sekalian bantuin Bapak buat cari biaya juga," jawab Ezra.
"Oh, gitu. Ini gak apa-apa Aku ikut Kamu?" Tanya Alena.
"Gak apa-apa, lah. Kan Kamu juga mau ngelamar kerja, Kita sama-sama berjuang cari kerja. Biar nanti Aku bisa ngelamar Kamu," jawab Ezra yang terdengar asal.
"Hemmm." Alena tak menanggapi ucapan Ezra dengan serius.
Sesampainya di tempat tujuan, Alena dan Ezra langsung berkeliling stand dan memasukan lamaran ke perusahaan yang memungkinkan menerima Mereka.
Ezra memasukan tujuh perusahaan, sedangkan Alena hanya lima saja. Sebenarnya Alena sangat ingin membuat banyak lamaran, namun membuat surat lamaran butuh biaya juga.
Bi Ai meminta Alena berhemat, karena Alena akan membutuhkan biaya yang lumayan ketika Ia sudah mendapat pekerjaan. Alena harus mengumpulkan uang, untuk bekal sehari-hari jika Ia mulai bekerja nantinya.
Beberapa minggu berlalu, Alena seakan sudah tak betah tinggal di rumah Bi Ai lebih lama lagi. Kala itu, Alena berencana untuk mengunjungu rumah ibu kandungnya. Dimana disana, ada Nenek Alena yang merawatnya sedari bayi hingga akhirnya Alena harus ikut bersama ayahnya waktu itu.
Alena pergi ke rumah Ibu dan Neneknya, tanpa sepengetahuan Bi Ai.
Alena juga membawa beberapa potong pakaian, Ia berniat untuk pindah.
Sebelum itu, Alena menemui Ibu tirinya lebih dulu.
Sambil menangis, Alena mengatakan bahwa Ia akan pindah ke rumah neneknya.
Sejujurnya Ibu tiri Alena merasa sangat sedih, pasalnya Ia pun tak yakin bisa menghidup Alena. Maka dari itu, Ibu tiri Alena mengizinkan Alena untuk pindah karena Ia pun kasihan melihat putri sambungnya itu tertekan setiap harinya.
Setelah mendapat izin, Alena pergi ke rumah neneknya. Rumah Ibu juga Nenek Alena bersebelahan, Ibu Alena sudah menikah lagi sedangkan sang nenek tinggal sendirian di rumahnya.
Sesampainya di kampung Ibu kandung Alena, Ia berjalan menuju rumah dengan ragu. Jalan menuju rumah memasuki sebuah gang yang hanya cukup untuk satu motor, dan ketika di ujung gang, Alena melihat Nenek, Ibu, dan saudaranya yang lain tengah berbincang santai di teras rumah. Mereka semua terkejut melihat kedatangan Alena yang membawa sebuah tas, sang Nenek berlari memburu Alena.
"Lena. Ya ampun, udah lama Kamu gak kesini." Nenek Alena memeluk sembari menciumi cucunya.
__ADS_1
Alena di bawa masuk ke rumah, dan semua menanyakan mengapa Alena lama tak mengunjungi Mereka.
"Kenapa baru kesini?" Tanya Nenek Alena.
Alena menunduk, "Nek. Lena mau tinggal lagi sama Nenek, boleh?" Tanya Alena dengan suara yang berat, Ia berusaha menahan air matanya.
"Tentu. Kenapa gak boleh? Ini rumah Kamu, Nenek senang Kamu balik lagi kesini." Sang Nenek begitu bahagia menyambut kadatangan cucu pertamanya itu.
Terlihat Ibu Alena yang baru saja keluar dari rumah, Ia pun terlihat terkejut mendapati Alena yang sudah ada bersama Ibunya.
"Lena. Kamu kapan datang?" Tanya Ibu Alena.
"Barusan," jawab Alena.
Ibu Alena memeluk putrinya, Ia merasa bersalah karena tak ada di saat-saat terpuruk putrinya.
"Maaf ya, Mamah gak ada disamping Alena." Ibu Alena terlihat sedih.
"Iya, gak apa-apa, Mah." Alena mencoba berdamai dengan perasaannya terhadap sang ibu.
"Bi Ai tahu Kamu kesini?" Tanya Ibu Alena.
Alena menggelengkan kepalanya, "nggak."
"Kenapa?" Tanya Ibu Alena.
"Nanti Nenek anter Lena buat ke rumah Bi Ai, buat izin tinggal disini lagi. Kalau sama Nenek, Bi Ai pasti gak akan marah karena Lena pergi diam-diam." Alena meminta pada Neneknya.
Ibu dan Nenek Alena saling bertukar pandang, Mereka seakan tahu apa yang di alami oleh Alena.
"Ya udah besok Kita ke rumah Bi Ai," ujar Nenek Alena.
Alena merasa tenang, semoga keputusannya ini memanglah yang terbaik. Dan Alena berharap, semoga Bi Ai dapat menerima keputusannya. Di sisi lain, Alena juga begitu sedih harus berjauhan dengan ibu tirinya juga adik laki-lakinya. Namun, Alena harus memilih demi mentalnya. Demi Ia bisa merasakan kebebasan di setiap harinya, tanpa harus mendengar omongan-omongan yang menyakiti hatinya.
__ADS_1