Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Hari Pertama Bekerja


__ADS_3

Hari itu, Alena di antar Neneknya untuk menemui Bi Aidah. Dengan perasaan takut, Alena mencoba untuk memberanikan diri.


"Kenapa dadakan gini? Terus sejak kapan Kamu mindahin baju-baju Kamu?" Tanya Bi Ai yang terkejut ketika mendengar bahwa Alena ingin pindah ke rumah Neneknya lagi.


"Kemarin, Bi. Tadinya gak akan pindah, tapi kasihan Nenek juga sendiri di rumah." Alena beralasan.


"Hemm. Ya udahlah, gimana Kamu aja. Sekarang kan sekilah juga udah beres, tinggal nyari kerja. Yang penting Bibi udah lega karena bisa sekolahin Kamu sampai selesai," ungkit Bi Ai tentang jasanya lagi.


"Iya. Saya ngucapin terima kasih karena setelah kepergian Ayah Alena, Bu Aidah mau mengizinkan Alena tinggal disini. Dan membantu menyelesaikan biaya sekolah Alena," ujar Nenek Alena.


Alena pun terlihat beranjak dari kursi, dan masuk ke dalam kamar untuk membereskan baju-baju yang tersisa.


"Kamu yakin mau pindah?" Tanya Bu Ai lagi.


Alena menghela nafasnya," iya, Bi." Alena menjawab seadanya.


Bi Ai pun tak menghalangi, dan Alena pun berpamitan untuk pulang kembali bersama Neneknya.


"Makasih ya, Bi. Udah baik selama ini sama Alena, doain Alena biar segera kerja. Biar bisa balas jasa-jasa Bi Ai," ujar Alena.


"Iya. Bibi doain Kamu cepat dapet kerjaan," sahut Bi Ai.


***


Satu bulan setelah kepindahannya, Alena masih belum mendapat pekerjaan. Namun bersama Neneknya, Alena tak merasa tertekan lagi.


Alena bahkan bisa kembalu melamar pekerjaan, bantu oleh temannya.


Satu minggu setelah itu, Alena mendapat panggilan kerja di sebuah PT yang memproduksi baju-baju seragam seperti polisi, TNI, dan sejenisnya.


Kala itu, posisi yang dibutuhkan adalah administrasi gudang. Alena yang mempunyai kemampuan mengoperasikan komputer, dapat dengan mudah lolos tes dan di terima di PT tersebut.


Hari pertama interview, Alena bahkan langsung berhadapan manager PT tersebut juga kepala gudang yang akan menjadi rekan kerja Alena. Pasalnya di PT tersebut, baru saja di tinggal resign oleh HRD.


Alena sangat gugup, namun Ia berusaha untuk tetap tenang.


"Bisa komputer?" Tanya Kepala Gudang.


"Bisa, Pak." Alena menjawab dengan tenang.


"Bagus. Saya membutuhkan orang untuk menginput data pemasukan dan pengeluaran barang, Kamu siap?" Tanya Kepala Gudang.


"Siap, Pak." Alena kembali menjawab singkat dan padat.


"Baik, kalau begitu kapan Kamu siap untuk bekerja?" Tanya Kepala Gudang.


"Hari ini juga Saya siap, Pak." Alena ingin segera mendapat pengalaman pertamanya dalam dunia kerja.


"Saya suka dengan sikap percaya diri Kamu, tapi untuk hari ini ruangan dan komputernya belum siap. Jadi Kamu bisa bekerja besok, dan jangan sampai telat!" Pinta Kepala Gudang.


"Baik, Pak. Saya akan datang tepat waktu, bahkan di usahakan lebih awal." Alena sangat bersyukur karena akhirnya Ia mendapat pekerjaan.

__ADS_1


"Baik kalau begitu, dari Saya cukup. Sekarang Kamu masuk ke ruang manager untuk mengisi data dan kelengkapan yang lainnya!" Pinta Kepala gudang.


Alena pun berdiri, dan segera masuk ke ruang manager sesuai perintah Kepala Gudang.


Selesai dengan semua urusannya, Alena segera pulang dan mempersiapkan dirinya untuk mulai bekerja besok hari.


***


Di perjalanan pulang, Alena mendapatkan telepon dari Ezra.


Sudah beberapa hari ini, Ezra tak menghubunginya. Alina pikir, Ezra tidak akan menghubunginya lagi. Namun tak di sangka, Ezra kembali menelponnya.


"Halo." Alena menyapa.


"Halo, Len. Apa kabar? Maaf beberapa hari gak hubungin Kamu," ucap Ezra.


"Baik. Iya gak apa-apa, kalau boleh tahu, beberapa hari ke belakang Kamu kemana? Udah dapat kerja, ya?" Tebak Alena.


"Alhamdulillahnya, iya. Udah dapet kerja, dan beberapa hari ini juga Bapak ada di rumah. Bapak sakit, jadi baru bisa berangkat kerja lagi." Ezra menuturkan.


Alena terdiam, bahkan setelah Ezra lulus dan memasuki dunia kerja pun sang ayah masih belum memperbolehkannya berpacara. Namun Alena paham mengapa orang tua Ezra terutama ayahnya melarang putranya berpacaran, semua itu di lakukan atas dasar kebaikan.


"Oh, gitu. Oh iya, Aku juga baru dapat kerja. Terus besok udah mulai bisa kerja," ujar Alena dengan antusias.


"Oh, iya? Dimana?" Tanya Ezra yang ikut senang ketika mendengar Alena sudah mendapat pekerjaan.


"Di daerah Bandung barat," jawab Alena.


"Iya. Kamu juga," sahut Alena.


Panggilan telepon pun berakhir, dan Alena pun tampak turun dari angkutan umum, Ia masih harus menaiki ojeg untuk bisa sampai ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Alena menceritakan bagaimana situasi saat Ia pertama kali interview pada Neneknya.


Alena sangat antusias, dan sang Nenek pun sangat bahagia mendengar cucunya akan segera mendapat pekerjaan.


***


Tiba hari dimana Alena mulai bekerja, Ia datang lebih awal. Alena tak ingin memberi kesan kurang baik di awal-awal bekerjanya, Alena siap untuk memasuki dunia pekerjaan.


Saat bel berbunyi, semua karyawan masuk ke dalam gedung produksi. Sedangkan Alena, Ia masih menunggu untuk di panggil masuk.


Hampir lima belas menit, akhirnya Alena di minta untuk masuk ke dalam ruangan.


Suara bising di dalam ruang produksi, membuat Alena harus lebih menajamkan indera pendengarannya.


"Ini ruangan Kamu, menyatu sama gudang. Gak apa-apa, kan seadanya dulu?" Tanya Kepala gudang pada Alena.


"Iya, gak apa-apa, Pak. Saya siap kok di tempatin dimana aja," jawab Alena.


"Ya sudah kalau gitu. Oh iya, sampai lupa kalau Kita belum kenalan, ya?" Tanya kepala gudang.

__ADS_1


Alena tersenyum tipis, selama interview kemarin, Mereka belum sempat berkenalan.


"Nama Saya Rian. Panggil aja Pak Iyan!" Pinta Pak Iyan.


"Oh, baik, Pak." Alena menganggukkan kepalanya.


Pak Iyan pun menerangan apa saja yang menjadi tugas Alena, dan Pak Iyan juga memperkenalkan Alena pada karyawan lainnya.


"Sekarang Saya akan kenalkan Kamu sama partner kerja Kamu, Dia tugasnya di lapangan tapi bisa di pebantukan di gudang juga kalau Kamu sedang membutuhkan." Pak Iyan membawa Alena ke lapangan produksi.


"Sup, sini!" Panggil Pak Iyan pada salah satu karyawannya.


Tampak berjalan seorang pria yang usianya tak jauh beda dengan Alena, namun dari cara pria itu berjalan sedikit membuat Alena menahan tawanya.


"Iya, ada apa, Pak Iyan. Saya lagi riweuh itu di lapangan," jawab Yusuf, dengan sikap yang sedikit gemulay.


"Kenalin, ini admin baru di gudang. Nanti Kamu bisa koordinasi sama Dia kalau butuh sesuatu di gudang," ujar Pak Iyan.


"Oh, iya. Meni geulis," ucup berucap, begitulah panggilan akrab Yusuf di tempat kerja.


"Saya ucup, Kamu siapa namanya?" Tanya Ucup dengan ramah.


Alena sedikit terkesiap, melihat jari jemari Yusuf yang lentik juga kulit tubuhnya yang putih.


"Oh, Saya Alena." Alena dan Yusuf pun berjabat tangan.


"Oh, namanya cantik sama kaya mukanya. Haha," ujar Ucup yang membuat Alena ikut tertawa kecil.


"Nah udah kenalan, kan. Coba Kamu banyak ajarin sama kasih tahu kerjaan Kamu juga di lapangan di gudang kayak apa, ajak keliling kenalin sama yang lain juga!" Pinta Pak Iyan.


"Siap, Pak. Hayu atuh ikutin Saya!" Pinta Yusuf.


Alena mengangguk, Ia pun mengikuti langkah Yusuf juga mendengarkan setiap apa yang di jelaskan olehnya.


Saat mendekati mesin jahit yang kebanyakan di operasikan oleh karyawan laki-laki, sontak Alena menjadi bahan pembahasan.


"Wih si Ucup jalan bareng cewek, udah insaf sekarang? Udah balik haluan lagi?" Ledek salah satu teman kerja Yusuf.


"Ih, naon sih Kamu. Gak bisa lihat cewek cantik dikit aja langsung cari perhatian," ledek balik Ucup.


"Biarin atuh, Cup. Kan jarang banget ada karyawan baru, masih mudah lagi. Kebanyakan yang dateng, yang alot lagi, alot lagi!" Seru teman Yusuf yang lainnya.


Alena hanya menunduk, dan tak mempersalahkan candaan seniornya.


"Lena, hati-hati disini mah banyak buaya! Ke Aku juga gitu, banyak yang godain!" Seru Ucup yang sontak membuat Alena terkejut, pastinya membuat Alena menahan tawanya juga.


"Dih, amit-amit. Sok kecantikan si Ucup mah!" Seru teman kerja Yusuf.


"Dih, biarin emang Aku mah cantik!" Balas Ucup sambil tertawa.


Ya, begitulah situasi di pabrik, orang-orang yang telah bekerja lama akan merasakan kekeluargaan dengan sesama karyawan lainnya.

__ADS_1


Dan di hari pertamanya, Alena senang bisa mengenal Yusuf yang memperlakukannya dengan baik.


__ADS_2