
Alena tengah mengerjakan pekerjaannya, seharian itu Ia bahkan tak sempat untuk sekadar berkeliling ke lapangan produksi seperti biasanya.
Hari ini, banyak barang datang dan Alena harus mendata semua barang baru yang masuk ke gudangnya.
Kala itu, Teh Lita mendatangi gudang Alena dengan maksud meminjam barang produksi pada Alena.
"Permisi, Saya masuk, ya!" Seru Teh Lita.
Alena menatap Teh Lita yang berjalan menuju rak barang, Alena pun beranjak dan menghampiri Teh Lita.
"Ada perlu apa, Teh?" Tanya Alena yang melihat Teh Lita seperti mencari sesuatu.
"Ini, Len. Teteh butuh spons 3 mm," tutur Teh Lita.
"Oh, ini Teh barangnya masih di troli. Belum di data, makannya belum di masukin ke rak. Teteh mau pinjam berapa?" Tanya Alena.
"Oh, ini." Tanpa menjawab pertanyaan Alena, Teh Lita langsung mengambil beberapa lembar barang yang di perlukannya.
"Ini, Len. Seikat, ya!" Seru Teh Lita.
Alena menghalangi jalan Teh Lita yang hendak keluar gudang, "maaf, Teh. Barangnya mau Saya hitung dulu lembarannya, sama harus ada surat jalan keluar gudang." Alena menuturkan.
"Ih, ribet amat sih sekarang!" Gerutu Teh Lita.
"Maaf Teh, tapi memang seharusnya begitu. Barang masuk dan keluar harus ada datanya," jawab Alena.
"Waktu sama si Ucup gak seribet ini, bebas aja." Teh Lita masih bersikukuh.
Alena menghela nafasnya, Ia mencoba untuk tetap tenang.
"Sekarang gudang Saya yang pegang, Teh. Gak bisa sembarangan barang masuk dan keluar gitu aja, semua harus ada data yang jelas." Alena masih bersabar menjelaskan.
"Ya udah nanti Teteh hitung terus kasih tahu Kamu jumlahnya, buru-buru nih di tungguin!" Seru Teh Lita.
"Tapi Teh..."
"Lita. Kamu ini masuk gudang orang gak ada sopan-sopannya! Kasih barangnya ke si Alena, Dia harus itung dulu. Beda orang beda peraturan, gak bisa di sama ratakan!" Bela Pak Iyan yang tiba-tiba masuk ke dalam gudang.
__ADS_1
Dari sudut gudang, terlihat Alin dan Nur yang merasa puas karena Teh Lita di marahi oleh Pak Iyan. Ya, Teh Lita adalah senior, Dia memiliki sikap yang sedikit angkuh. Sering kali meminjam barang, tanpa memberi tahu jumlah pasti yang di ambilnya membuat Yusuf sering menerima kekurangan barang yang di akibatkan oleh Teh Lita dulu.
"Ih, si Bapak. Ya udah deh, nih barangnya hitung dulu. Di tungguin nih," ujar Teh Lita yang tak berkutik ketika Pak Iyan memergokinya.
Alena pun dengan teliti menghitung setiap lembar dalam satu ikat spons, setelah itu mencatatnya di sebuah kertas yang di sebut surat jalan barang keluar dan masuk.
"Ini, Teh udah. Teteh pinjam 60 lembar spons, dan itu hutang ya, Teh. Di kembalikan secepatnya setelah barang di gudang Teteh kumplit lagi!" Pinta Alena.
"Iya." Dengan sinis Teh Lita meraih spons yang di sodorkan Alena dan keluar gudang tanpa berpamitan.
"Hih, dasar!" Seru Pak Iyan.
Alena hanya diam, Ia sudah mengetahui sikap Teh Lita dari Yusuf. Ia juga siap untuk bersikap tegas pada siapapun, Ia tak ingin seorangpun mengacaukan pekerjaannya di gudang.
***
Jam istirahat berbunyi, Alena tengah menikmati makan siangnya di ruang makan khusus karyawan.
Alena bersama dengan Alin, juga Nur, Mereka tampak lebih akrab akhir-akhir ini.
"Eh, Len. Gimana si Topan? Masih ngejar-ngejar Kamu?" Tanya Alin.
"Kenapa gak di terima aja?" Tanya Nur.
"Belum srek, Nur. Takutnya kalau buru-buru malah gak enak jalaninnya nanti," ujar Alena.
"Oh, iya sih." Nur mengerti maksud Alena.
"Eh Aku kayaknya belum tanya ke Kalian deh. Kalian punya pacar?" Tanya Alena.
Alin dan Nur tersenyum malu, keduanya tampak saling senggol membuat Alena penasaran.
"Cerita dong, siapa pacar Kalian!" Pinta Alena.
"Kalau Aku emang udah lama sama si Iki," jawab Nur.
"Iki? Iki mana?" Tanya Alena.
__ADS_1
"Si Iki yang anak produksi Pak Iyan itu," jawab Nur.
"Oh, Kak Iki. Sejak kapan?" Tanya Alena.
"Udah jalan dua tahun lah," jawab Nur.
"Wah lama ya. Kalau Kamu Lin?" Tanya Alena.
"Kalau Aku sih belum pacaran," jawab Alin.
"Masih pendekatan gitu? Sama siapa?" Tanya Alena.
"Iya. Sama si Kak Bule itu," tunjuk Alin pada seorang pria yang tengah merokok di pojokan taman pabrik.
Alena menatap ke arah pojok taman, Ia melihat seorang pria yang di ketahuinya bukanlah pria bujang.
"Kak Bule bukannya udah punya..."
Alin mengangguk, "punya istri. Iya, emang udah punya. Tapi lagi ada masalah, malah udah mau cerai katanya." Alin menuturkan.
Alena sempat terdiam, Nur pun tampak melirik sekilas ke arah Alena.
"Kamu kenapa mau sama Kak Bule? Maksudnya kan Dia masih berstatus suami orang?" Tanya Alena dengan hati-hati.
"Kenapa, ya? Mungkin karena emang Dia perhatian aja sih, ganteng pula. Terus tiap abis magrib suka ke kontrakan juga, bawain makanan atau jajanan gitu." Alin menjawab jujur.
"Ke kontrakan? Kalian berduaan?" Tanya Alena.
"Nggak. Ada Mamah, cuma ya kalau lagi ada Kak Bule dateng, Mamah suka pura-pura ke warung dulu. Padahal nongkrong di kontrakan tetangga," jawab Alin sambil terkekeh.
Ya, Alin memang tinggal di kontrakan bersama Ibunya. Mereka bukan asli Bandung, lebih tepatnya Mereka adalah pendatang. Bule tinggal di Mes pabrik, membuat keduanya mudah untuk bertemu karena jarak antara Mes dan kontrakan rumah Alin berdekatan.
"Kalau istrinya tahu, gimana Lin?" Tanya Alena.
"Emm, gimana ya. Gak kepikiran ke arah situ sih, selama ini aman-aman aja." Alin menjawab dengan santai.
Alena termenung, dunia kerja tidak seperti yang Ia bayangkan. Banyak hal yang tak terpikir olehnya, banyak sikap orang yang lebih keras dari lingkungan terdekatnya.
__ADS_1
Dunia pabrik memiliki kehidupan berbeda dengan kehidupan di luarnya, tak jarang bahkan seseorang yang telah berumah tangga malah mengaku lajang pada sesama pekerja.