Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Mengalah


__ADS_3

"Bu. Jangan melebar kemana-mana, dong!" Pinta Arka yang datang tiba-tiba.


"Arka. Ngapain Kamu kesini? Saya gak ada urusan sama Kamu!" Seru Bu Novi.


"Bu. Maaf kalau Saya ikut campur, tapi memang Saya yakin Alena gak salah." Arka menuturkan.


"Bu, maaf. Kenapa ini?" Tanya Bu salah satu staff bernama Pak Nanang.


Bu Novi pun menceritakan semuanya dari awal, namum ada satu hal yang menjadi kejanggalan.


"Maaf, tadi Ibu bilang Ibu bawa uang beberapa amplop, dan tersisa amplop berisi uang untuk keperluan perusahaan dan uang untuk Alena. Apa gak kemungkinan uang Ibu dan Alena tertukar?" Tanya Pak Nanang.


"Ketukar gimana? Saya yakin uang yang di terima Alena itu lebih, semua orang kalau lihat uang pasti buta!" Bu Novi masih bersikukuh.


"Bu maaf, apa yang Pak Nanang bilang itu ada benarnya. Coba ingat-ingat lagi, uang kebutuhan perusahaan itu dua puluh enam juta, sedangkan yang untuk Alena itu dua puluh juta. Ibu sudah hitung lagi uang yang untuk kebutuhan perusahaan itu ada berapa?" Tanya Yusuf.


"Ya udah dong cup, jelas nominalnya itu dua puluh juta! Kalau gak percaya, Kita ke ruangan Saya sekarang!" Pinta Bu Novi.


Seua setuju, dan semua masuk ke dalam ruangan untuk mengecek uang yang ada di dalam brankas.

__ADS_1


Bu Novi mengeluarkan uang yang di simpannya, dan menghitung di depan semura orang.


"Tuh, pas. Dua puluh juta, jadi jelas yang di Alena itu lebih. Kalian masih gak percaya?" Tanya Bu Novi.


Semua terdiam, Alena pun masih bersikukuh membela diri.


"Bu tapi Saya yakin kok kalau uang yang Saya terima itu gak ada lebih!" Seru Alena.


"Halah masih ngeles. Gini aja deh, Saya gak mau ribet soal beginian. Kalau Kamu mau ganti silahkan ganti, kalau nggak Kamu berhenti kerja dan gantungan gajinya gak bisa Saya kasihkan ke Kamu. Itu untuk ganti uang yang Kamu hilangkan!" Seru Bu Novi.


Semua terkejut, terlebih Arka.


"Loh, Bu gak bisa gitu dong! Alena belum terbukti salah," bela Arka.


Arka menyusul, sedangkan yang lain masih berusaha untuk mencari solusi.


"Len. Kamu mau kemana?" Tanya Arka ketika melihat Alena memasukan barang-barangnya ke dalam tas.


"Ka. Bu Novi udah minta Aku keluar dari kerjaan, jadi buat apa lagi? Toh Aku gak bisa buktiin kalau Aku gak salah, Aku udah gak di percaya. Dan Kamu lihat juga kan, semua orang ngelihat Aku." Alena menangis.

__ADS_1


"Tapi Kita bisa cari solusi, dan masih berusaha buat buktiin kalau Kamu gak salah." Arka memohon untuk Alena bertahan.


Saat itu Alena balik memohon pada Arka untuk membiarkannya pulang saat itu juga, Alena tidak bisa untuk tetap diam di tempat kerja dengan kondisinya saat itu.


Melihat Alena yang tertekan, pada akhirnya Arka pun mengalah. Dengan sangat berat hati, pada jam istirahat Arka mengantarkan Alena pulang.


Selama di perjalanan, Arka tak bisa menahan rasa sedihnya. Ia menggenggam erat tangan Alena, dan berharap bahwa masalah Alena segera selesai tanpa harus keluar bekerja.


"Kenapa?" Alena menyadari kekhawatiran yang di rasakan Arka.


"Nggak. Aku, gak nyangka aja. Aku gak tahu kalau Kamu sampai keluar, terus Kita gak bisa sering ketemu." Arka mengutarakan isi hatinya.


Alena tersenyum tipis, Ia menyandarkan kepalanya di punggung Arka.


"Kan masih bisa ketemu kapanpun gak perlu di tempat kerja," ujar Alena.


Tanpa sadar, Arka menitikan air matanya. Hal itu membuat Arka terheran, mengapa Ia bisa sampai sebegitu sedihnya akan masalah yang menimpa Alena.


"Tapi ini awal hubungan Kita, Aku pikir Kita bisa sering ketemu di tempat kerja, ngabisin waktu lebih banyak. Aku..."

__ADS_1


"Hey. Kamu percaya sama Aku? Walaupun Kita gak bisa ketemu setiap hari nantinya, tapi Aku bisa kok jaga hati Aku buat Kamu. Aku aja percaya sama Kamu," ujar Alena.


Arka terdiam, baru saja Mereka merasakan kebahagiaan kini hubungan keduanya harus di uji dengan jarak dan waktu yang membuat keduanya akan jarang bertemu.


__ADS_2