
Setelah membaca pesan itu, Alena berubah murung. Arka menyadari perubahan sikap Alena itu, dan langsung menanyakan penyebab Alena berubah.
"Kamu kenapa?" Tanya Arka.
"Aku gak enak, gara-gara Aku Kamu sama Elin berantem kayak gini!" Seru Alena.
"Loh, kok gara-gara Kamu. Ini bukan salah Kamu, emang dasarnya Elin aja yang baper. Emang sih apa yang di lakuin Bapak sama Mamah itu salah juga, udah banding-bandingin. Tapi mungkin Bapak juga bermaksud buat membuat Elin berubah, karena memang kan selama ini sikap dan tingkah Elin udah sering bikin Bapak sama Mamah kesel. Intinya sih, ini bukan salah Kamu. Udah jangan ngerasa bersalah kayak gini!" Pinta Arka.
"Jadi gimana? Aku harus bersikap kayak gimana sama Elin nanti?" Tanya Alena.
"Untuk sekarang, gak usah berkabar dulu aja. Biarin dingin dulu situasinya!" Saran dari Arka.
Alena mengangguk, Ia berharap hubungannya dengan Elin bisa kembali baik.
__ADS_1
"Udah sore, Aku pulang, ya!" Seru Arka.
"Kamu pulang ke rumah? Gak capek bolak balik ciwidey?" Tanya Alena.
"Capek sih, tapi kan seneng juga bisa bawa Kamu main ke rumah ketemu keluarga. Hehe, lagian masih pengen nginep di rumah. Besok kan kerja, lama lagi diem di mes." Arka menuturkan.
"Emm, ya udah. Kamu hati-hati di jalannya, jangan ngebut! Terus kalau..."
"Kalau udah sampe, Aku kabarin langsung!" Sela Arka.
Arka pun pulang, selama di perjalanan mood Arka masih rusak akibat dari perdebatannya dengan Elin.
Sementara itu, Elin pergi dari rumah dan berdiam diri di rumah adik dari ayahnya.
__ADS_1
Namun siapa sangka, bukan mendapat pembelaan, Elin malah kembali harus terkena omelan dari sang bibi.
Pasalnya, saat di jalan pulang. Arka menepi untuk menenangkan dirinya, Ia memutuskan untuk menceritakan masalahya itu kepada keponakan yang dimana adalah anak dari bibi Arka. Keponakan Arka bernama Lusi, Arka menceritakan semuanya pada Lusi dan Lusi menceritakan kembali masalah itu pada Ibunya.
"Lin. Kamu kenapa? Ada masalah sama Arka? Sama Bapak Kamu juga?" Tanya Bi Imas pada Elin.
"Bibi tahu darimana?" Tanya Elin.
"Aa Kamu udah cerita, katanya Kamu juga selama ini sering bersikap dingin, ketus, sama Alena. Kenapa sih, Lin? Gak boleh gitu loh," ujar Bi Imas.
Elin pun mengungkapkan rasa cemburunya, Ia juga menjelaskan mengapa Ia begitu ketus pada Alena.
"Ya tapi kan Arka juga gak bisa setiap saat merhatiin Kamu! Arka juga udah dewasa, udah punya kehidupan pribadi. Lagian kalau Kami bersikap gini terus, bahkan ke setiap perempuan yang deket sama Arka, bisa-bisa Arka gak mau pacaran karena takut pacarnya di ketusin sama Kamu terus. Kalau gitu ceritanya, Arka gak akan nikah-nikah, dan Kamu juga gak akan cepet nikah! Mau Kamu?" Bi Imas terus menasihati Elin.
__ADS_1
"Iya, Lin. Kamu itu harus udah mulai dewasa, bisa nerima orang-orang baru di hidupnya Arka. Dia juga mau kali punya pasangan, kayak Kamu aja. Kamu juga pengennya kan Arka selalu akrab ke setiap cowok yang jadi pacar Kamu, masa giliran Arka ketemu sama yang cocok Kamu malah kayak gini. Kasihan Arka!" Timpal Lusi.
Elin tak menjawab, Ia hanya terdiam mendengarkan setiap apa yang di ucapkan oleh Bi Imas dan Lusi.