
Alena dan Arka kini berada di tempat makan, Arka memesan dua menu makanan dan minuman, tempat makan yang di pilih Arka pun sangat mengundang nafsu makan yaitu sate maranggi.
"Enak?" Tanya Arka.
Alena mengangguk, "kenapa ngajak makan kesini? Mahal tahu!" Bisik Alena.
"Gak apa-apa, gak sering juga. Itung-itung ngerayain Kamu yang sebentar lagi bakal dapet kerjaan baru," ujar Arka.
"Kan baru training, belum tentu lulus." Alena menjawab.
"Pasti lulus, yakin deh. Udah pokoknya sekarang Kamu makan yang kenyang!" Pinta Arka. Alena tak menjawab, Ia hanya menganggukkan kepalanya karena di mulutnya penuh dengan makanan.
Beberapa menit kemudian, Alena telah selesai menghabiskan makanannya. Ia pun membersihkan tangannya lebih dulu, dan meneguk minuman yang ada di depannya.
"Oh, iya. Kamu tadi ngapain pake lari-larian terus dadah segala pas nyamperin Aku?" Tanya Alena.
Arka tampak terdiam sejenak, pertanyaan Alena memang wajar di lontarkan, sebab Arka memang tak biasa bersikap seperti itu.
"Emm, nggak apa-apa. Pengen aja," sahut Arka asal.
"Hemm?" Alena mengerutkan alisnya.
__ADS_1
"Malu tahu, di liatin banyak orang!" Lanjut Alena.
"Ya ngapain malu, biar semua orang tahu juga kalau Kamu pacar Aku." Arka menuturkan.
Kembali Alena mengerutkan keningnya, "bukannya emang semua udah tahu, ya? Ada yang belum tahu emangnya?" Tanya Alena lagi.
Arka tampak terbatuk ketika Alena selesai bertanya, sontak Alena segera menyodorkan minuman untuk melegakan tenggorokan Arka.
"Minum!" Pinta Alena.
Arka pun menerima minuman yang di sodorkan oleh Alena, Ia pun meneguk minuman itu.
"Emm, nggak. Emang tadi tiba-tiba gatel aja tenggorokan," dalih Arka.
"Oh, gitu." Alena tak melanjutkan pembahasannya.
"Oh, iya. Kalau nanti Kamu udah keterima kerja disana, jangan lupa buat terus kabarin Aku! Pagi-pagi, pas nyampe pabrik, Kamu kabarin. Terus kalau pas mau mulai kerja, kabarin dulu juga. Terus kalau pas istirahat, Kita bisa berkabar lagi. Sama kalau pulang, Kamu juga harus kabarin. Boleh?" Tanya Arka.
"Emm, iya Aku usahain. Soalnya kan hp nya juga di kumpulin, tapi sebisa-bisa sebelum hp di kumpulin Aku bakal kabarin Kamu." Alena menuturkan.
"Bagus. Kenapa Aku kayak gini, soalnya posisinya kan Kita udah ada di tempat yang beda. Aku dengan teman-teman yang mungkin semua juga udah tahu tentang hubungan Aku sama Kamu, sementara di tempat kerja Kamu kan Aku gak tahu Kamu temanan sama siapa aja, temen laki-lakinya siapa, sering bertegur sapanya sama siapa. Ya intinya komunikasi itu penting, buat ngejaga hubungan Kita juga." Arka menjelaskan alasannya yang menuntut kabar dari Alena setiap kali ada waktu senggang.
__ADS_1
"Intinya Kamu takut Aku deket sama temen cowok di tempat kerja Aku yang baru gitu?" Tebak Alena.
Arka tampak terkesiap, namun tebakan Alena juga ada benarnya.
"Ya, wajar dong kalau Aku punya rasa takut ke arah situ. Kan Aku gak bisa mantau Kamu setiap saat," jawab Arka dengan jujur.
Alena menghela nafasnya, Ia lalu meraih tangan Arka dan mencoba untuk menjelaskan apa tujuannya.
"Ka, Aku pindah kerja memang niatnya buat kerja. Cari uang, buat kebutuhan Aku, kebutuhan keluarga juga. Aku juga punya cita-cita, pengen punya tabungan. Aku gak punya pikiran untuk nyari atau tebar pesona sama temen cowok Aku disana, Aku udah punya Kamu. Aku bisa jaga hati Aku," ucap Alena.
Arka menghembuskan nafasnya, Ia mencoba untuk meyakinkan dirinya bahwa Alena tidak akan berpaling darinya.
"Janji, ya? Kamu gak akan deket sama temen cowok di tempat kerja Kamu, ya kalau cuma kenal terus berkomunikasi di tempat kerja dengan catatan cuma urusan kerjaan sih gak apa-apa. Di luar itu, bisa gak kalau gak usah berlanjut di chat misalnya?" Tanya Arka.
Alena tersenyum, lalu Ia pun menganggukkan kepalanya.
"Insya Allah, bisa. Kamu juga sama, harus bisa jaga jarak sama cewek. Jangan jadi tempat curhatnya para cewek, bisa?" Tanya Alena.
"Bisa dong!" Sahut Arka dengan yakin.
Alena berterima kasih, sebenarnya Ia lebih mengkhawatirkan Arka. Pasalnya, Arka tipikal laki-laki yang mudah membuat seseorang nyaman. Arka adalah seorang pendengar yang baik, Ia juga selalu memberi nasihat atau bahkan timbal balik yang bijaksana kepada siapapun yang sekadar bercerita padanya. Dan tak menampik, kedekatan Alena dan Arka pun di awali dengan saling bertukar pikiran.
__ADS_1