
Saat Alena berada di parkiran, Ia hendak mengabari Arka. Namun, Arka lebih dulu mengirimnya pesan.
"Pulang kerja, langsung tunggu depan gerbang, ya. Jangan sampai gak kesini dulu!" Isi pesan dari Arka.
Alena mengerutkan keningnya, Ia merasa Arka sedikit memaksanya untuk mampir lebih dulu.
"Tumben, gini. Ada apa, ya?" Alena tak berpikir apapun, Ia langsung menghidupkan motor dan menuju tempat kerja Arka.
Sesampainya di tempat kerja Arka, seperti biasa Alena mampir ke warung Abah untuk membeli gorengan.
Alena mengganjal perutnya dengan memakan gorengan.
Setengah jam berlalu, tampak karyawan berhamburan keluar dari gerbang pabrik.
Arka terlihat berlari menuju Alena, Alena pun tak paham mengapa Arka sesemangat itu.
"Hay," ucap Arka sembari mencium kening Alena dengan tiba-tiba.
"Heh! Kok." Alena memegang keningnya, Arka tak biasa melakukan hal itu di depan umum.
"Kenapa?" Tanya Arka sembari tertawa kecil.
"Kamu ngapain ih!" Seru Alena tangannya memukul pelan tangan Arka.
"Apa?" Arka tertawa melihat ekspresi Alena.
"Kamu ngapain cium kening, banyak orang. Malu!" Seru Alena.
"Haha, iya maaf. Abis gemes sih," ucap Arka yang masih menertawakan Alena.
Alena melihat sekelilingnya, Ia merasa malu karena Arka melakukan hal yang tak biasanya.
__ADS_1
Tanpa Alena ketahui, jauh di belakang Arka tengah ada seseorang yang menatap ke arahnya. Ya, seseorang itu adalah Ratih.
Ia kini tahu sosok Alena yang selalu di ceritakan oleh Yusuf, dan Ratih menyimpulkan bahwa Arka memang sengaja tak menggubrisnya karena telah memiliki pasangan.
"Oh, jadi itu pacarnya Arka. Hemm, pantes selama ini Dia cuek. Beruntung banget sih perempuan itu dapet pacar kaya Arka," gumam Ratih.
"Ya udah, besok kan sabtu. Kamu libur kerja, jadi sekarang Aku anterin Kamu pulang. Aku juga pulang kerja besok rencananya mau pulang dulu, gak apa-apa, kan?" Tanya Arka.
"Oh, iya minggu ini jadwal pulang, ya. Ya udah gak apa-apa kok," jawab Alena.
"Motor Aku bawa dulu, ya. Eh iya, minggu besok Kamu mau ke rumah, gak?" Tanya Arka.
Alena tampak berpikir sejenak, semenjak kejadian bersama Elin, Alena belum sempat berkunjung ke rumah Arka lagi.
"Gak tahu, kayaknya nggak dulu deh." Alena menuturkan.
Arka terdiam, Ia sedikit menebak alasan Alena menolak.
"Emm, karena Elin, ya?" Tanya Arka.
"Tapi kan Elin juga udah minta maaf, udah beres masalahnya. Jadi kenapa?" Tanya Arka lagi.
"Emm, nanti lagi aja deh. Gak apa-apa, kan?" Tanya Alena.
Arka menghela nafasnya, "ya udah, gak apa-apa."
Arka pun menyalakan motornya, dan mulai melajukannya menuju rumah Alena.
"Oh iya, tadi kenapa lari-lari?" Tanya Alena.
Arka memainkan tangan Alena, Ia bermaksud untuk menceritakan yang sebenarnya pada Alena.
__ADS_1
"Aku mau cerita, tapi janji gak marah atau salah paham!" Pinta Arka.
"Emm, iya deh janji. Kenapa sih emangnya?" Tanya Alena yang mulai penasaran.
"Sebenarnya... Ada yang caper di tempat kerja," ujar Arka.
Alena terkejut, kekhawatirannya ternyata terjadi juga.
"Yang caper gimana? Maksudnya ada yang suka sama Kamu gitu?" Tanya Alena.
"Heem. Anak baru, namanya Ratih. Dia sering banget nyari tahu tentang Aku lewat Ucup, ya si Ucup jawab jujurlah. Tapi si Ratih gak percaya kalau Aku udah punya pacar. Terus Ucup bilang, sore ini Dia bilang pengen tahu pacar Aku yang mana. Makannya Aku nyuruh Kamu ke pabrik tadi, pengen nunjukin sama Dia kalau Aku emang udah punya Kamu. Itu juga si Ratih gak tahu sih Aku sengaja ngelakuin itu," ujar Arka.
"Emm, gitu. Jadi itu alesan Kamu tadi nyium Aku juga? Mau manas-manasin perempuan itu?" Tanya Alena.
"Emm, itu salah satunya. Tapi bukan sepenuhnya pengen manas-manasin, emang gemes aja. Hehe," dalih Arka.
Alena tak menimpali, Ia memilih diam setelah mendengar apa yang di ceritakan oleh Arka.
"Loh, kenapa jadi diem. Marah, ya?" Tanya Arka.
"Hemm? Enggak," sahut Alena.
"Bohong, nih. Tenang aja, itu gak akan berlanjut kok. Aku tahu sekarang Kamu khawatir karena ada yang suka sama Aku di pabrik, tapi kan Aku juga gak ada timbal balik apapun sama Dia." Arka mencoba untuk meyakinkan Alena.
"Aku butuh bukti, bukan cuma omong kosong." Alena menimpal.
"Bukti? Mau bukti apa?" Tanya Arka.
"Ya apa aja, yang bisa bikin Aku yakin kalau Aku bukan cuma sekadar rumah singgah!" Seru Alena.
Arka terdiam, Ia tengah memikirkan cara apa yang bisa membuktikan bahwa Ia benar-benar tak akan mempermainkan Alena.
__ADS_1
"Kasih Aku waktu buat cari cara biar bisa buktiin sama Kamu," ujar Arka.
"Hemm, iya." Alena menjawab seadanya. Ucapan Alena itupun, membuat Arka merasa tertantang, Ia benar-benar ingin membuktikan pada Alena bahwa Alena memang tempat terakhir untuknya.