
Sepanjang perjalanan pulang dari rumah Arka, Alena terus mengingat percakapan antara keluarganya bersama orang tua Arka.
Melihat cucunya yang melamun sepanjang jalan, Nenek Alena mencoba untuk membuyarkan lamunan cucunya itu.
"Len. Kenapa bengong terus?" Tanya Nenek Alena.
Alena menoleh, Ia menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Emm, nggak, Nek." Alena menutupi hal yang tengah ada di pikirannya.
"Hemm, kenapa coba? Ada yang Kamu pikirin?" Tanya Nenek Alena.
Alena terdiam, Ia menghela nafasnya dengan berat.
__ADS_1
"Kenapa? Ada yang jadi beban pikiran Kamu? Cerita aja, Len. Jangan sampai bebam itu terbawa sampai Kamu dan Arka tunangan, apalagi sampai menikah!" Seru Ibu sambung Alena.
"Bener itu, Len. Apa-apa itu harus di bicarain sekarang, apalagi kan ini menyangkut masa depan Kamu!" Timpa Ibu kandung Alena.
"Iya, Len. Ini kan keputusan besar dalam hidup Kamu juga Arka, jangan sampai ada penyesalan di kemudian hari!" Seru Wa Haji.
Alena tampak semakin terpojok, mau tak mau Ia mengutarakan apa yang mengganjal di dalam hatinya.
"Emm, gini. Alena cuma kepikiran aja, kok Ibunya Arka sampai bilang kayak gitu, ya tadi?" Alena bertanya-tanya.
Alena melirik ke arah Neneknya, meminta untuk sang Nenek yang memberitahukan kepada semuanya.
"Oh, yang di dapur tadi?" Tanya Nenek Alena untuk memastikan.
__ADS_1
Alena mengangguk pelan, rasanya perkataan Ibu Arka membuatnya sedikit tak nyaman.
"Emang yang mana?" Tanya Wa Haji, semua tampaj penasaran.
"Gini, tadikan di dapur Saya ikut bantu-bantu. Terus Kita sedikit membahas soal pernikahan, Saya sih usulnya gimana kalau gak usah ada resepsi. Maksudnya, akad ajalah. Toh Alena dan Arka juga gak keberatan, malah bagus juga kan jadi gak terlalu banyak keluar biaya. Kan lebih bagus uangnya di gunakan buat kebutuhan Alena dan Arka setelah menikah nanti, tapi jawaban Ibunya Arka sedikit bikin Alena kaget mungkin. Ibunya bilang gak mau kalau cuma akad aja, takut di bilang hamil duluan katanya!" Seru Nenek Alena.
"Astagfirulloh, kenapa sampai kepikiran ke arah situ? Emangnya Dia gak percaya sama anaknya sendiri? Harusnya kan setuju ya, toh gak ada yang salah dengan walimahan aja." Ibu sambung Alena tampak terkejut mendengar pernyataan Ibu Arka.
"Ya katanya juga kan Dia gak mau ngebeda-bedain anak, masa kedua kakaknya Arka nikahnya ada hajatan, resepsi gitu. Masa Arka nggak, kasihan katanya." Nenek Alena melanjutkan.
"Ya mungkin niat orang tuanya Arka itu cuma pengen ngasih yang terbaik aja buat anaknya, ya sudah lah yang penting dari pihak Kita itu berniat untuk tidak memberatkan Mereka, kan? Urusan di terima atau tidaknya, ikhlas saja. Demi kelancaran semuanya juga," ujar Wa Haji, beliau mencoba untuk bersikap bijaksana.
"Iya, sih Pak Haji. Tadinya juga Saya cuma kasihan sama Alena, Dia udah kerja keras ngumpulin uang. Kalau bisa berhemat kenapa tidak, gitu. Tapi ya sudah lah, toh uangnya juga di pakai untuk keperluan Alena juga." Nenek Alena menuturkan.
__ADS_1
"Ya udah, Kita ikutin aja maunya gimana. Berdoa aja, semoga rezekinya Alena di lancarkan. Alenanya sehat, biar bisa kerja, ngumpulin uang lagi. Ikhlas ya, Len!" Pinta Ibu sambung Alena.
Alena tersenyum, Ia pun menganggukkan kepalanya. Melihat kebaikan hati Ibu sambung Alena, Ibu kandung Alena merasa terharu. Selama ini, Ibu kandung Alena tak pernah bisa memiliki waktu banyak bersama Alena. Beliau tak bisa membersamai Alena ketika Ia resmi berpisah dengan ayah Alena waktu dulu, Ibu kandung Alena kehilangan banyak waktu bersama putri kandungnya dan harus merelakan putrinya menyayangi orang lain yang di anggapnya seperti ibu kandungnya sendiri.