
Arka berhasil menghubungi Alena, Ia pun segera memberitahukan semuanya.
"Hey, Aku baru aja mau chat Kamu." Alena berucap.
"Oh, iya? Tumben, ada apa?" Tanya Arka.
"Ya Kamu juga tumben nelpon, ada apa hayo?" Tanya balik Alena.
"Kalau Aku emang ada yang pengen di bicarain," sahut Arka.
"Oh, soal apa?" Tanya Alena yang mulai penasaran.
"Emm, kalau besok Kamu main kesini bisa gak?" Tanya Arka.
"Emm, besok? Ada apa emangnya?" Tanya Alena lagi.
"Ya ada yang mau di obrolin sama Bapak sama Mamah," sahut Arka.
"Mau bicarain apa?" Alena masih penasaran.
"Ya soal hubungan Kita, lebih bagus kalau Nenek, Mamah, Ibu, bisa ikut." Arka menuturkan.
"Loh, tadi baru aja Nenek bahas soal itu juga. Kok bisa samaan, ya?" Alena memberitahukan apa yang di pertanyakan oleh Neneknya tadi.
"Masa sih? Emang Nenek nanya apa?" Tanya Arka.
"Emm, ya Nenek cuma pengen tahu, hubungan Kita itu mau di bawa kemana. Masa depannya mau seperti apa?" Alena meminta jawaban perihal hubungannya bersama Arka.
"Emm, ya udah kebetulan kalau gitu. Besok Kamu kesini aja, siapa tahu bisa?" Tanya Arka lagi.
"Aku sih mau, tapi Aku coba tanya ke keluarga Aku dulu. Tapi yang Aku pengen tanyain ke Kamu, emang kalau keluarga Kita udah ketemu, mau apa?" Tanya Alena.
__ADS_1
"Maksud Aku, Kamu emang udah siap kalau semisal orang tua Aku minta Kamu untuk ngasih keputusan soal hubungan Kita kedepannya?" Lanjut Alena.
"Emm, Aku udah mikirin sendiri soal hubungan Kita. Sebelum Aku kasih tahu Kamu, mungkin Aku mau diskusi dulu sama orang tua Aku. Gak apa-apa, kan?" Tanya Arka.
"Emm, iya gak apa-apa. Kalau gitu, Aku harus tanya dulu sama Nenek soal ini. Kalau bisa, Aku langsung kabari Kamu." Alena menuturkan.
"Ya udah, Kamu obrolin dulu. Nanti kabarinya ke Elin aja, biar ada sinyal." Arka meminta.
"Emm, ya udah. Udah dulu, ya." Alena menutup panggilan teleponnya sebelum Arka menjawab, Ia terlalu bersemangat untuk segera menghubungi keluarganya.
Alena pun menceritakannya pada sang Nenek juga Ibunya, keduanya setuju untuk menemui orang tua Arka namun kendalanya saat ini adalah kendaraan.
"Coba Kamu obrolin sama Wa haji, sama Ibu Kamu juga. Siapa tahu Mereka bisa nganter Kita kesana, sekalian Mereka juga harus tahu tentang rencana ini. Mereka juga kan keluarga Kamu," ujar sang Nenek.
"Iya." Alena pun menghubungi kakak dari ayahnya itu, dan juga menghubungi Ibu sambungnya untuk memutuskan hal besar dalam hidupnya.
Setelah menghubungi keluarganya, Alena bersyukur karena sang Uwa mau mengantarnya dan menawarkan untuk menggunakan mobilnya.
***
Elin membaca pesan yang di kirim oleh Alena, Ia terkejut mengetahui bahwa keluarga Alena akan datang.
"A, ini Teh Alena chat. Katanya besok mau kesini sama keluarganya," ujar Elin.
"Oh, bales aja. Iya, ditunggu gitu!" Pinta Arka.
Elin menurut, Ia membalas pesan dari Alena sesuai dengan apa yang di minta oleh Arka.
"Oh iya, Lin. Tanyain, mau berapa orang gitu?" Arka kembali meminta tolong pada Elin.
Elin menuru, Ia kembali mengirim pesan pada Alena.
__ADS_1
"Emang mau ada apa, sih?" Tanya Elin yang memang belum tahu rencana Arka.
Arka pun menjelaskan maksudnya, Elin tampak terkejut dengan berita yang di dengarnya.
"Jadi Aa udah serius sama Teh Alena?" Tanya Elin.
"Iya. Kenapa emangnya?" Tanya Arka.
Elin tampak menundukkan wajahnya, raut wajahnya pun tampak berubah.
"Kenapa? Kamu gak setuju?" Tanya Arka.
Elin sontak menggelengkan kepalanya, ada satu hal yang Ia takutkan jika Arka benar-benar serius bahkan menikah dengan Alena.
"Bukan gitu, A. Tapi..."
"Tapi apa?" Sela Arka.
"Aku cuma takut kalau nantinya Bapak sama Mamah semakin sering membandingkan Aku sama Teh Alena," ujar Elin.
Arka merasa tak percaya, bahkan saat Ia memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih serius dengan Alena, adiknya sendiri malah memikirkan hal yang tak sepatutnya.
"Lin, Alena juga selama ini gak pernah menunjukkan sisi kelebihannya di depan siapapun. Kalaupun Kamu di banding-bandingkan, itu prilaku Kamu sendiri yang gak bisa Kamu rubah. Sekarang gini deh, kalau Kamu gak setuju, Aa gak bakal nikah-nikah sama siapapun!" Seru Arka.
Elin terkeju, Ia langsung menghampiri kakaknya dan meminta maaf.
"Nggak, A bukan gitu. Aku setuju kok, Aku janji gak akan berpikiran kayak gitu lagi. Maafin Aku A," bujuk Elin yang langsung merasa bersalah pada Arka.
Arka diam, Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar. Benar kata orang, setiap ingin menjalani hubungan ke jenjang yang lebih serius, akan selalu ada masalah yang menerpa.
"A, Teh Alena bales chat. Katanya paling enam orang," ujar Elin.
__ADS_1
"Heem, gak usah di bales aja. Aa mau bicara dulu sama Bapak," ujar Arka yang pergi meninggalkan Elin yang masih merasa bersalah padanya.