Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Bercerita


__ADS_3

Arka terdiam, Ia meraih ponsel yang tengah ada di genggaman Alena.


Arka membaca komentar seseorang yang di maksud oleh Alena, dan seseorang itu ternyata adalah mantan pacar dari Arka jauh sebelum Ia bertemu dengan Alena.


"Oh, Dia. Udahlah gak usah di gubris!" Pinta Arka.


Alena mengangguk, namun dalam hatinya Ia masih penasaran mengapa perempuan itu berkomentar dengan kalimat yang ambigu.


Melihat gelagat Alena yang berubah, membuat Arka mengerti dengan apa yang tengah di pikirkan oleh Alena.


"Ya udah, Aku jelasin. Dia namanya Alifah, mantan Aku. Putusnya udah agak lama, tapi ya gitu masih suka neror gak jelas." Arka menjelaskan.


"Oh, mantan. Pantesan kayak gitu, tapi kenapa Dia bicara kayak gitu? Emangnya Kalian... Ngapain?" Tanya Alena dengan ragu-ragu.


Arka tertawa kecil, Alena begitu polos sampai harus menanyakan hal semacam itu padanya.


"Ya sewajarnya orang pacaran aja!" Jawab Arka.


Alena menyipitkan matanya, Ia seakan ragu dengan jawaban yang di berikan oleh Arka.


"Kalau pacarannya wajar-wajar aja, kenapa sampai Dia kayak gitu? Seolah-olah Kamu tuh udah ngelakuin hal yang membuat Dia kecewa atau mungkin merasa di manfaatkan atau..."


Arka menatap Alena, membuat Alena menghentikan kalimatnya.


"Atau apa? Len, orang pacaran tuh macem-macem. Ada yang memang merasa dirinya terlalu polos, sampai-sampai ciuman aja misalnya di anggap sudah di nodai. Padahal sama-sama suka! Terus misalkan ada yang pacaran kayak orang nikah, tapi nganggapnya wajar. Ya mungkin si Alifah itu termasuk contoh orang yang pertama!" Seru Arka.

__ADS_1


Alena mencerna kalimat Arka, dan kembali menanyakan hal yang menurutnya lebih sensitif lagi.


"Tapi Kalian gak sampai begitu, kan?" Tanya Alena.


Arka terbahak-bahak, "ya nggak, lah. Len, seagresif apapun Aku sama cewek, gak mungkin Aku ngelakuin hal yang gak pantas! Dan satu lagi, Aku punya prinsip, pengen ngelakuin hal itu sama istriku nanti, jadi masa-masa pacaran sebisa mungkin ngelakuinnya hal-hal yang positif, gak harus selalu physical touch yang berlebihan untuk menunjukan rasa kasih sayang. Kamu ngerti?" Tanya Arka.


Alena mengangguk, Ia mencoba percaya dengan apa yang di ujarkan oleh Arka.


"Nah, di sosmed kan Aku nyantumin status Kita nih. Pasti beberapa hari kedepan, bakal ada yang inbox Kamu deh?" Seru Arka.


Alena mengerutkan keningnya, "ngeinbox? Siapa?" Tanya Alena.


"Ada deh pokoknya, nanti lihat aja sama Kamu. Pokoknya bakal ada yang inbox Kamu!" Seru Arka.


Alena merasa penasaran, Arka begitu sulit untuk Ia tebak. Banyak hal dan sikap Arka yang membuat Alena kagum, dan menilai bahwa Arka memang laki-laki yang bisa memegang teguh ucapannya.


"Iya gak apa-apa, di ajak kesini juga udah kejutan banget. Hehe," sahut Alena.


"Kejutan? Kenapa? Emang sebelumnya gak pernah di ajak ke rumah sama mantan?" Tanya Arka.


Alena menggelengkan kepalanya, Ia memang tak pernah melakukan hal ini sebelumnya. Arka adalah laki-laki pertama yang membawa Alena ke anggota keluarga, dan nyatanya Alena telah memiliki niat untuk mengenalkan Arka ke keluarganya juga.


"Emm, kalau nanti Kamu yang giliran main ke rumah, gimana?" Tanya Alena.


Arka sempat terdiam, Ia juga belum pernah mengunjungi rumah mantan pacarnya. Kalaupun pernah, itupun hanya sekali dan membuat Arka cukup kapok.

__ADS_1


"Boleh, sih. Tapi Aku rada takut juga," jawab Arka sembari tertawa kecil.


"Takut? Takut kenapa?" Tanya Alena.


"Dulu pernah nganterin mantan ke rumahnya, gak niat mampir sih. Cuma kondisinya hujan pas sampai, jadi di suruh neduh. Kirain gak akan di tanya yang aneh-aneh, eh ternyata bapaknya nyamperin terus nanya mau serius atau nggak katanya? Kan Aku kaget, orang waktu itu umurku juga masih belasan tahun. Mana motor masih cicilan lama, haha." Arka menceritakan masa lalunya pada Alena.


Alena tertawa kecil, "terus abis itu gimana?" Tanya Alena lagi.


"Ya jelas, abis kejadian itu. Aku gak pernah mau mampir lagi, mau ujan gedepun Aku balik. Gak lama, di putusin Akunya. Haha, parah sih. Tapi emang waktu itu belum siap aja," ujar Arka.


"Haha, kalau nanti Kamu main ke rumah Aku, tenang gak akan di samperin apalagi di tanya-tanya sama bapak!" Seru Alena.


"Wah, masa? Beneran?" Tanya Arka.


"Ya beneranlah, mau tanya-tanya gimana orang bapak Aku udah gak ada!" Sahut Alena sembari tertawa getir.


Arka sontak terkejut, Ia yang baru tahu tentang hal itu langsung terdiam bahkan raut wajahnya berubah seketika.


"Len, maaf. Aku baru tahu soal ini," ujar Arka.


Alena tersenyum, "gak apa-apa." Alena mencoba untuk terlihat tegar di hadapan Arka.


Arka mengerti dengan senyuman yang Alena tunjukkan di hadapannya, seketika Arka berhambur menarik Alena ke dalam pelukannya. Ia mengelus punggung Alena dengan lembut, dan memberi semangat pada Alena.


"Kamu sabar, ya. Kuat! Aku janji, Aku bakal selalu ada buat Kamu." Arka berucap.

__ADS_1


Di balik punggung Arka, Alena menganggukkan kepalanya. Di saat itu, entah mengapa Alena menyimpan harapan besar pada Arka. Ia merasa bahwa Arka bisa menganggikan sosok Ayah di hidupnya, sosok yang akan menjaga dan menyayanginya seperti sang ayah dulu.


__ADS_2