
Semakin hari, Alena dan Arka semakin akrab. Keduanya bahkan sudah bertukar nomor, dan tak jarang Mereka juga menghabiskan malam dengan berbincang lewat panggilan telepon.
"Oh, jadi cowok yang bikin Kamu gak move on itu hilang tiba-tiba gitu?" Tanya Arka ketika Alena bercerita tentang Ezra.
"Iya. Ngilang gak ada jejak sama sekali, Aku sempat kecewa. Tapi ya udahlah, toh Aku juga udah mempersiapkan diri lebih dulu." Alena menjelaskan.
Entah kenapa, bersama Arka Alena mudah untuk bercerita bahkan berkeluh kesah.
Begitupun Arka, sesekali Arka tampak memberikan perhatian pada Alena.
Hal kecil yang sering Arka lakukan adalah, mengelus pelan puncak kepala Alena setiap Ia melewati Alena yang tengah duduk di kursi makan di ruang karyawan.
Hal kecil itu membuat Alena nyaman, namun Ia tak berani menunjukan rasa nyamannya itu.
Beberapa minggu berlalu, ada hal yang membuat Arka sedikit menjauh dan tak lagi melakukan hal-hal yang biasa Ia lakukan pada Alena. Alena sempat bertanya-tanya, apa yang membuat Arka berubah.
Alena tak berani menanyakan langsung pada Arka, Ia tak ingin jika Arka menganggapnya kepedean.
Ketika itu, Arka tengah bekerja di mejanya. Tiba-tiba saja, seseorang seolah menyindirnya.
"Gila, ada yang langsung menikung nih. Gerak cepat!" Sindir seseorang yang tak lain ada Kakak sepupu dari Topan.
"Tahu ajalah sama yang bening-bening, pendatang baru tapi udah jadi inceran cewek-cewek!" Sindil Kakak sepupu Topan lagi.
Arka menghentikan kegiatannya sejenak, Ia mencerna perkataan dari Kakak sepupu Topan yang bernama Santo.
__ADS_1
Arka tak menimpali sindiran yang di tujukan padanya, Ia memilih untuk mengambil ponsel dan memasang earphone di telinganya.
Sementara itu, Alena tengah membantu bagian finishing yang pada saat itu sedang keteteran.
Alin dan Nur tak sanggup mengerjakan pekerjaan yang menumpuk berdua, maka dari itu Alena menyempatkan waktu untuk membantu.
"Yes!" Seru Alin sembari menatap layar ponselnya.
"Apa sih, Lin. Riweuh deh lagi kerja juga main hp terus!" Sindir Nur pada Alin.
"Hehe, maaf ya, Lena. Jangan bilangin ke Pak Iyan, ini soalnya Aku seneng banget. Akhirnya cowok yang Aku taksir nerima cinta Aku!" Seru Alin dengan antusias.
"Wah, masa sih? Kamu nembak siapa lagi? Bukannya Kamu deket sama Kak Bule?" Tanya Nur.
"Si Bule kan lagi di pindahin dulu ke pabrik cabang, jadi pasti amanlah. Lagian kan Dia juga punya istri, jadi gak salah dong kalau Aku juga punya sampingan. Hehe," ujar Alin.
"Janji Kalian jangan iri, ya!" Pinta Alin pada Nur dan Alena.
"Enggak lah, emang siapa?" Tanya Alena.
"Cowoknya itu adalah... Arka!" Jawab Alin dengan bahagia.
Alena terhentak, Ia terdiam seketika.
"Hah, serius Kamu Alin? Kamu pacaran sama Kak Arka dong sekarang?" Tanya Nur dengan tak percaya.
__ADS_1
"Iya. Barusan Kak Arka terima cinta Aku," sahut Alin.
Alena masih terdiam, dalam hatinya Ia merasakan sakit yang tak bisa di mengerti.
"Jadi ini alasan Kak Arka ngejauh? Tapi kenapa gak jujur aja? Kenapa tiba-tiba kayak gini?" Alena bertanya-tanya dalam hatinya.
"Len! Kenapa bengong?" Tanya Nur ketika melihat Alena yang tiba-tiba terdiam.
"Ah, nggak. Kaget aja sih, Kamu bisa banget punya pacar dua." Alena berdalih.
"Haha, udah gak aneh Dia mah!" Sindir Nur.
Alena masih merasa tak karuan, Ia meminta izin untuk masuk ke gudang pada Nur dan Alin.
Di dalam gudang, Alena menghela nafasnya. Mempertanyakan mengapa Ia merasa kecewa dengan sikap Arka, mungkin Alena merasa bahwa Ia cukup dekat dengan Arka dan Ia juga tahu alasan Arka untuk enggan berpacaran apalagi dengan teman satu tempat kerja.
Sore hari, saat bel pulang berbunyi. Semua karyawan tengah berbaris untuk keluar dari ruangan, tampak Arka yang ada di dalam barisan. Sementara Alena, Ia tak perlu berbaris dan bisa melewati satpam tanpa harus melakukan pemeriksaan.
Arka sempat menatap ke arah Alena, begitupun sebaliknya.
Namun kali ini, Alena kembali memalingkan wajahnya dari Arka dengan raut wajah kecewanya.
Bahkan ketika Arka berjalan di belakangnya, Alena enggan untuk menoleh sedikitpun.
"Ok, cukup. Dia memilih untuk menjauh, jadi Aku juga harus melakukan hal sama. Toh awalnya juga Kamu sama Dia gak saling kenal,kan?" Alena mencoba untuk bersikap sepeti awalnya, kembali bersikap dingin pada siapapun laki-laki yang mencoba mengakrabkan diri dengannya.
__ADS_1
Arka pun tampaknya tak berniat untuk menyapa Alena, atau bahkan menjelaskan mengapa Ia berubah.
Arka hanya enggan memancing permusuhan, Ia menerima cinta Alin hanya agar Topan percaya bahwa Ia tak bermaksud untuk menikung Alena darinya.