
Sesampainya di depan gang rumah, Arka menepikan motornya. Alena segera turun, Ia menatap Arka yang masih menundukkan wajahnya.
"Udah jangan murung terus! Selama Aku gak kerja, kan Kamu bisa main ke rumah. Hehe," ujar Alena, yang berusaha tak terlihat sedih di depan Arka.
Arka menghela nafasnya, rasanya Ia masih tak percaya Alena akan keluar dari pekerjaannya.
"Mau masuk dulu, atau langsung ke pabrik lagi?" Tanya Alena.
"Emm gak semangat kerja juga!" Seru Arka.
Alena menatap, Ia mengelus lembut bahu Arka.
"Jangan gitu. Inget loh, minggu depan bayar cicilan motor!" Ledek Alena.
Arka tertawa kecil, saat seperti itupun Alena malah terlihat lebih tegar daripada Arka.
"Ya udah Aku ke pabrik lagi, tapi kalau jadi nanti sore Aku ke rumah." Arka menuturkan.
"Hah? Seriusan Kamu mau main ke rumah?" Tanya Alena.
"Iya." Arka menjawab dengan yakin.
Alena tampak senang, "ya udah, Kamu balik ke pabrik. Makan, terus lanjut kerja kaya biasanya!" Pinta Alena.
Arka menganggukkan kepalanya, Ia pun berpamitan pada Alena dan kembali melajukan motornya.
Setelah melihat Arka yang melaju jauh, Alena menghembuskan nafas panjangnya.
Ia masih berdiri di tempatnya, mangingat bagaimana Ia di permalukan di depan banyak orang.
Alena berbalik badan, dan berjalan menyusuri gang rumahnya.
Sesampainya di rumah, Alena mendapati Ibu dan Neneknya yang tengah bersantai di teras rumah.
"Loh, kok udah pulang, Len?" Tanya Nenek Alena.
__ADS_1
Alena menarik nafas panjang, Ia bersiap untuk menceritakan apa yang menimpa dirinya hari itu.
"Emm, Aku... Mau berhenti kerja, Nek, Bu." Alena menuturkan.
Nenek dan Ibu Alena terkejut, "kenapa berhenti? Ada masalah?" Tanya Ibu Alena.
Alena mengangguk lemas, Ia pun menceritakan semuanya.
"Loh, gak bisa gitu dong! Kamu kan gak terbukti ngambil uang perusahaan, kenapa si Ibu itu main pecat aja?" Sang Nenek tak terima atas apa yang di lakukan manager kepada Alena.
"Udahlah, Nek. Lagipula sekalipun suatu hari Aku terbukti gak bersalah, Aku gak mau balik kerja disana. Aku udah di permalukan di depan banyak orang!" Seru Alena.
"Hemm, ya sudah gak apa-apa. Kamu cari aja kerjaan yang baru, mulai bikin lamaran kerja lagi!" Pinta sang Ibu.
"Iya, Bu. Alena masuk dulu, mau istirahat." Alena berpamitan, Ia pun masuk ke dalam rumah dan berlanjut masuk ke dalam kamar untuk merebahkan tubuhnya.
Sementara itu, saat situasi masih panas. Yusuf, dan beberapa staff masih ada di ruangan Bu Novi. Tiba-tiba pesuruh yang di percaya Bu Novi untuk berbelanja kebutuhan produksi datang, Ia membawa beberapa belanjaan yang di pinta oleh Bu Novi.
"Siang, Bu. Maaf, Emet telat. Macet tadi," ucap Ahmad yang biasa di panggil Emet.
"Ada. Ini kembaliannya!" Seru Emet.
Bu Novi seketika terdiam, Ia baru ingat kalau Bu Novi menyuruh Emet untuk belanja namun Ia tak ingat saat Ia memberikan uang untuk berbelanja.
"Bentar. Met, Kamu belanja uangnya dari mana? Perasaan Saya belum kasih, tadi kan Saya kasih daftar belanjaan tapi Saya gak ingat buat kasih uangnya karena harus meeting!" Seru Bu Novi.
"Oh, itu. Iya tadi Emet gak bisa nunggu Ibu soalnya takut terlalu siang tambah rame di jalannya, jadi Emet minta ke Yoman!" Jawab Emet, Yoman adalah salah satu staff kepercayaan Bu Novi yang hampir membantu semua pekerjaan Bu Novi.
"Yoman? Dia ambil uang dari mana? Coba panggil Yoman kesini!" Pinta Bu Novi.
Yusuf mulai menemukan titik terang, Ia merasa bahwa akan ada hal yang dapat membuktikan bahwa Alena memang tak bersalah.
Tak kunjung lama, Yoman datang bersama Emet.
"Iya, Bu. Ada apa?" Tanya Yoman dengan santainya.
__ADS_1
"Man. Kamu kasih uang belanja ke Emet?" Tanya Bu Novi.
"Heeh, tadi si Emet maksa minta uang buat belanja soalnya kalau nunggu Ibu lama." Yoman menuturkan.
"Terus Kamu pakai uang siapa buat belanja?" Tanya Bu Novi.
"Ya uang yang buat belanja kebutuhan produksi atuh, masa uang Aku!" Seru Yoman.
"Kamu ngambil uang dari brankas?" Tanya Bu Novi.
Yoman mengangguk, "iya. Kan biasanya juga gitu, kenapa sih? Ini juga si Ucup, sama yang lain ngapain pada disini?" Tanya Yoman yang belum mendengar apa yang tengah terjadi.
"Ok, intinya semua sudah jelas. Faktanya Alena memang gak bersalah!" Sela Yusuf.
"Alena? Emang kenapa si Alena?" Tanya Yoman.
Yusuf menceritakan semuanya pada Yoman, terlihat Bu Novi yang seperti bersalah pada Alena.
"Kenapa gitu? Kan Aku yang hitung uang buat si Alena waktu sabtu kemarin, kan Ibu juga ada pas Aku sama si Alena hitung uangnya!" Seru Yoman.
Bu Novi menutup wajahnya, Ia semakin bersalah pada Alena.
"Iya, duh. Aku lupa, beneran sumpah demi Tuhan." Bu Novi berucap.
"Tuhkan, kata Aku ge apa. Gak mungkun si Alena nilep uang perusahaan, kalau udah gini kasihan si Alena jadi korban fitnah!" Seru Yusuf.
"Saya gak maksud fitnah, Cup!" Sahut Bu Novi.
"Tapi nuduh!" Sela Yusuf dengan kesal.
"Ya udah atuh tinggal panggil si Alena, terus minta maaf!" Pinta Yoman.
"Telat! Si Alena udah pulang, kayaknya juga gak bakalan mau kerja lagi!" Seru Yusuf.
Yusuf begitu kesal pada Bu Novi, gara-gara kesalahpahaman ini Alena sampai pulang bahkan berniat untuk berhenti bekerja.
__ADS_1