
Hampir satu jam Arka berada di rumah Alena, kesan pertama yang Ia rasakan adalah nyaman dan merasa di terima dengan baik.
"Saya pulang dulu, Mah." Arka berpamitan pada Nenek juga Ibu Alena.
"Iya, sok. Kalau mau main kesini sering-sering, boleh. Tapi jangan pulang kemaleman, ya. Soalnya khawatir di jalannya, takut ada begal. Banyak tuh di berita yang jadi korban begal gitu, takut. Ya!" Saran dari Nenek Alena.
Arka menerima baik saran dari Nenek Alena, Ia pun pulang di antar oleh Alena hingga teras rumah.
"Maaf ya gak di suguhin apa-apa," ucap Alena.
"Gak apa-apa, dadakan juga, kan. Hehe," sahut Arka.
Alena tersenyum, "ya udah, hati-hati pulangnya, ya!" Seru Alena.
"Siap. Nanti kalau sampai Aku kabarin kok," ucap Arka.
"Iya, Aku tunggu."
Arka pun menghidupkan motornya, dan mulai melaju meninggalkan rumah Alena.
Setelah Arka pulang, Alena segera masuk kembali dan dengan cepat Ia mengambil ponselnya.
Alena membalas pesan dari Elin.
"Lin, maaf baru di bales. Kenapa, Lin?" Tanya Alena dengan baik.
Tak lama, Elin kembali membalas pesan dari Alena.
"Lagi sama A Arka, ya?" Tebak Elin.
__ADS_1
"Kalau tadi, iya. Kalau sekarang udah nggak, udah pulang. Kenapa emangnya, Lin?" Tanya Alena.
"Oh, pantesan. Chat Aku gak di bales, lagi sama Teteh ternyata." Elin membalas, namun Alena merasa Elin mengirim pesan dengan nada sinis.
"Oh, kalau itu emang kayaknya Arka gak buka hp, deh. Jadi mungkin gak tahu kalau Kamu chat Dia," ujar Alena.
"Heem kayaknya. Kalau dulu, A Arka itu selalu ada buat Aku. Kalau mau curhat, kalau mau pulsa. Cepet banget balesnya, gak kaya sekarang!" Elin kembali membalas.
Alena sempat terdiam membaca balasan pesan dari Elin, Alena merasa bahwa perubahan sikap Arka di sebabkan oleh dirinya.
"Emm, Aku gak tahu kalau soal itu." Alena bingung harus membalas apa untuk pesan Elin.
Beberapa menit, Elin tak lagi mengirim pesan. Alena pun membiarkannya, Ia menyimpan ponselnya.
Tak lama, Arka mengirim pesan bahwa Ia telah sampai di mes.
***
"Aku grogi, ih." Alena menuturkan.
"Kenapa grogi, biasa aja kali. Yuk!" Arka membawa Alena masuk ke rumahnya.
"Assalamu'allaikum," ucap Alena.
"Wa'allaikumsalam." Kedua orang tua Arka menyambut dengan ramah.
Tampak ada adik bungsu Arka yang juga menyapa Alena dengan baik, sedangkan Elin Ia terlihat tidak terlalu bersemangat.
Elin memilih keluar rumah ketika Alena berada di rumahnya, hal itu cukup membuat Alena canggung.
__ADS_1
"Itu adik perempuan Arka, emang gitu wataknya." Bapak Arka menuturkan.
"Oh, iya. Gak apa-apa, Pak. Udah kenal juga sebelumnya," ujar Alena.
"Oh, iya. Ya udah sok di cicipi, tadi Mamah bikin cemilan ini." Mamah Arka menyodorkan cemilan yang di buatnya untuk menyambut Alena.
"Oh, iya makasih, Mah. Jadi ngerepotin," ujar Alena.
"Ah, nggak. Lena ini anak ke berapa? Punya saudara berapa?" Tanya Mamah Arka.
Alena pun menceritakan perihal dirinya dengan keluarganya, terlihat orang tua Arka yang merasa haru mendengar perjalanan hidup Alena.
"Tapi Bapak ngerasa bangga loh, Kamu tumbuh dewasa tanpa bimbingan Bapak Kamu. Bapak aja kadang kewalahan ngedidik anak-anak Bapak, terutama Elin." Bapak Arka menjelaskan.
"Ya mungkin Elin kan masih dalam masa puber, sama kayak Aku juga sih, Pak. Tapi mungkin karena keadaan aja Aku emang harus bersikap lebih dewasa," ujar Alena, Ia berusaha untuk tak menyudutkan Elin.
Seharian Alena berada di rumah Arka, sampai sore hari Arka mengantarkan Alena pulang. Elin pulang ke rumah ketika Alena sudah tak ada di rumahnya, hal itu membuat kedua orang tuanya kesal.
"Dari mana Kamu, Lin?" Tanya Bapak Arka.
"Main di rumah si Ateu," jawab Elin dengan dingin.
"Kamu tuh kalau keluar rumah pakai baju yang bener, yang tertutup. Bukan malah celana pendek banget kayak gitu, pakai tengtop juga! Badan Kamu tuh besar, gak pantes pakai baju segala ketat kayak gitu!" Seru Bapak Arka.
Mendengar perkataan sang ayah, Elin merasa tersinggung.
"Bapak kenapa jadi ceramahin Aku? Biasanya juga Aku kayak gini, kenapa? Karena pacar A Arka yang sopan itu? Yang penampilannya alim itu?" Tanya Elin dengan kesal.
Ya, semenjak berhenti bekerja. Alena memutuskan untuk merubah penampilannya. Ia lebih sering memakai pakaian dres atau gamis modern ketika bepergian keluar rumah.
__ADS_1
"Emang Alena itu sopan anaknya, pekerja keras. Kamu itu harus bisa lebih baik lagi, dalam bergaul terutama. Jangan sering keluar malem!" Pinta Bapak Arka.
Elin marah, Ia masuk ke dalam kamar bahkan menutup pintu dengan keras.