
Alena sampai di gudang, Ia duduk dengan perasaan campur aduk. Kecewa, sedih, sakit hati, semua kini Ia rasakan. Ia kira, Arka akan menjadi laki-laki yang akan Alena jadikan pelabuhan terakhir, nyatanya memilih pasangan hidup tak semudah yang di bayangkan.
Saat tengah terdiam, Alena terkejut ketika Teh Neng tiba-tiba masuk dan menegurnya.
"Heh, pagi-pagi udah ngelamun! Hati-hati ke sambet setan!" Seru Teh Neng.
Alena menghela nafasnya, Ia tak menimpali candaan Teh Neng pagi itu.
"Kenapa sih? Pagi ini ada beberapa orang yang kelihatannya galau banget," ujar Teh Neng.
"Emang siapa yang lagi galau?" Tanyw Alena.
"Tuh, si Ucup. Dateng pagi buta, langsung nyungseb di sudut sana!" Teh Neng menunjuk Yusuf yang tengah meringkuk di sudut ruangan yang ada di luar gudang.
Alena menatap ke arah Yusuf, Ia penasaran dengan apa yang terjadi pada Yusuf.
"Dia kenapa?" Tanya Alena.
"Emm tadi sih denger sepotong-potong ceritanya, katanya Dia semalem mimpi. Mimpinya itu bikin Dia galau," ujar Teh Neng.
"Mimpi?" Alena mengerutkan keningnya, mimpi apa yang sampai membuat Yusuf berubah seperti itu.
Yusuf si periang dan aktif, kini murung bagai tak memiliki semangat hidup.
"Kalau Aku samperin, kira-kira gimana?" Tanya Alena pada Teh Neng.
"Emm, coba aja. Tanya baik-baik, soalnya Dia sampai nangis sesenggukan juga!" Seru Teh Neng.
Alena terdiam, Ia memutuskan untuk menghampiri Yusuf dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Alena berjalan perlahan mendekati Yusuf, dan duduk di belakangnya.
"Cup." Alena menepuk pelan bahu Yusuf.
Yusuf pun tampak bangun, dan duduk di sebelah Alena sembari menundukkan wajahnya. Terlihat jelas raut wajah Yusuf yang sembab, Alena begitu penasaran dengan apa yang membuat Yusuf seperti itu.
"Kenapa? Mau cerita gak?" Tanya Alena dengan hati-hati.
Yusuf tampak menyeka air matanya, Ia mulai berkata sembari memainkan jemarinya yang terlihat gemetar.
"Len. Semalem Aku mimpi," ucap Yusuf.
"Iya, mimpi apa?" Tanya Alena dengan lembut.
"Malem tuh, Aku mimpi kalau Aku ada di kuburan..." Yusuf berbicara dengan terbata-bata, tangisnya kembali pecah.
Alena mengusap lembut punggung Yusuf, dan membiarkan Yusuf untuk menenangkan dirinya lebih dulu.
Yusuf mengangguk, "terus di dalam mimpi, semua kelakuan buruk Aku tuh kayak di lihatin gitu. Aku takut, Len." Yusuf berucap.
"Aku inget dosa-dosa Aku, takut mati, takut siksaan, takut..."
"Ssttt, udah. Kamu jangan jadi parno gitu!" Pinta Alena.
Yusuf tampak terdiam, Ia masih meundukan wajahnya yang terlihat pucat.
"Cup. Mimpi itu bunga tidur, kalaupun itu sebuah firasat atau apapun namanya, ya mungkin ini cara Allah buat kasih hidayah sama Kamu. Allah sayang sama Kamu, Allah tegur Kamu dengan baik, loh. Allah cuma kasih Kamu teguran lewat mimpi, mungkin ini juga saatnya Kamu taubat. Kamu perbaiki, Kamu jauhi apa yang memang gak seharusnya Kamu jalani. Lakuin hal-hal sebagaimana fitrah seorang laki-laki, kembali ke jalan yang benar yang di ridhoi Allah." Alena berusaha menasehati tanpa menyudutkan Yusuf.
"Iya, Len. Aku mau tobat, Kamu bantuin Aku, ya!" Pinta Yusuf sembari menatap Alena dengan dalam.
__ADS_1
Alena terhentak, "Aku bisa bantu apa, Cup? Kalau Aku bisa, Aku pasti bantu kok."
Yusuf terdiam sejenak, "ajarin Aku sholat taubat!" Pinta Yusuf.
"Shalat taubat? Cup, bukan Aku gak mau ngajarin, tapi kalau Kamu mau Aku bisa beliin Kamu buku panduan shalat. Di buku itu Kamu bisa belajar shalat apapun," ujar Alena.
Yusuf mengangguk, "mau, Len. Tolong beliin bukunya, nanti Aku ganti uangnya!" Seru Yusuf.
"Udah, gak usah ngomongin soal uang dulu. Yang penting sekarang Kamu berbenah diri, mulai jauhi hal-hal yang di larang." Alena menuturkan.
"Iya. Satu lagi, sekarang Aku harus cari cara supaya bisa lepas dari si Andi. Kamu mau bantuin Aku?" Tanya Yusuf.
Andi adalah laki-laki yang dekat dengan Yusuf, Andi juga sama seperti Yusuf yang memiliki perasaan yang seharusnya tidak pernah ada di antara Mereka.
"Aku harus apa?" Tanya Alena.
"Bantu Aku putusin si Andi!" Pinta Yusuf.
Alena terkejut, "putusin cowok? Gimana caranya?" Tanya Alena.
Yusuf tampak berpikir, lalu Ia mengatakan apa yang bisa Alena lakukan.
"Pura-pura jadi pacar Aku! Aku bakal bilang ke si Andi kalau Aku udah punya pacar, terus nanti Kamu telepon deh si Andi."
Alena tak menjawab, ini hal yang tak pernah Ia bayangkan sebelumnya. Alena haris berhadapan dengan seorang pria, dimana Ia harus bisa membuat pria itu menjauhi Yusuf.
"A-aku takut," ucap Alena.
"Gak usah takut, Dia orang jauh. Gak bakal mungkin Dia nyusulin ke sini, Aku mohon!" Yusuf tampak memohon pada Alena.
__ADS_1
Alena tak bisa membiarkan Yusuf terus menerus berada dalam jalan yang salah, dan Alena pun berusaha untuk menyetujui permohonan Yusuf.