
Sepulang bekerja, Alena bermaksud untuk langsung pulang ke rumah. Ia menolak ajak Yusuf, untuk mampir ke sebuah warung bakso bersama Teh Neng, Alin, dan Nur.
Untuk beberapa minggu ini, Alena harus berhemat agar bekalnya cukup hingga gaji pertamanya di dapatkan.
Alena tak sadar ketika tengah berjalan, ternyata ada seseorang yang mengikutinua sejak dari parkiran motor di area pabrik.
Lena menoleh, ketika suara klakson berbunyi dan bahkan sebuah motor berhenti tepat di hadapannya.
"Hey," sapa si pemilik motor yang tak lain adalah Topan.
"Oh, iya. Kenapa, Kak?" Tanya Alena.
"Engga, Kamu mau langsung pulang?" Tanya Topan.
Alena tahu jika Topan hanya berbasa basi, namun Alena tetap berusaha untuk bersikap ramah.
"Iya, Kak. Kakak juga mau pulang, ya?" Tanya Alena.
"Nggak, Aku kan tinggal di mes pabrik. Pulang ke rumah setiap gajian aja." Topan menuturkan.
"Oh, gitu." Alena tak kembali bertanya, pasalnya Ia tak tahu harus membicarakan apa.
"Mau Aku anter pulang, gak?" Tanya Topan.
"Oh, gak usah. Aku bisa pulang sendiri kok, Kak." Alena menolak dengan halus.
"Ini macet loh jalanannya, Len. Kan semua karyawan pabrin bubar barengan, pasti lama susah nyari angkot." Topan masih berusaha.
Alena melihat sekitarnya, memang jalanan industri saat itu tengah padat merayap di akibatkan karyawan pabrik pulang secara bersamaan. Dan satu kendala untuk Alena setiap harinya, yaitu Ia selalu susah untuk menyebrang jalan.
"Emm, Aku bisa naik angkot, Kak. Tapi kalau gak merepotkan, Aku mau minta di sebrangin aja, bisa?" Tanya Alena.
"Oh, bisa banget. Ya udah yuk naik!" Pinta Topan dengan semangat.
__ADS_1
Alena mengangguk, Ia pun naik ke atas motor dan berterima kasih karena Topan mau membantunya menyebrang jalan.
Benar saja, jalanan saat itu macet parah.
Topan berhasil menyebrang jalan, namun Ia tak kunjung menepikan motornya dengan alasan jalanan tengah ramai.
"Kak, Aku berhenti disini aja!" Pinta Alena.
"Oh, iya bentar, Len. Ini kendaraannya padat banget, susah buat ke pinggir. Kita jalan aja dulu sampai agak lengang, ya!" Seru Topan.
Dengan terpaksa, Alena pun mengiyakan seruan Topan.
Namun, sudah berjalan agak jauh Topan tak kunjung menurunkannya.
"Kak. Kapan berhentinya?" Tanya Alena.
"Tanggung, Len. Udah sampai sini juga, sekalian aja Aku antar ke rumah, ya?" Tanya Topan.
Alena menghela nafas, Ia pun akhirnya di antar pulang oleh Topan.
***
"Makasih, loh Kak. Jadi sampe depan gang rumah gini," ucap Alena.
"Iya, gak apa-apa. Seneng bisa nganterin Kamu." Topan terlihat senang karena memang Ia berniat mengantar Alena pulang sedari awal.
Alena dan Topan saling diam, Alena hendak masuk namun Topan masih diam di tempatnya.
"Kak kalau mau pulang sekaran boleh, kok." Alena tak tahu harus berbicara apa lagi.
"Oh, iya. Aku pulang deh, sampai ketemu besok ya!" Topan pun menyalakan motornya, lalu melajukan kembali motornya.
Alena menghembuskan nafas panjang, akhirnya Ia dapat segera pulang ke rumahnya.
__ADS_1
"Hemm, kirain mau di suruh ke rumahnya dulu." Topan bergumam, Ia ternyata berharap bisa tahu rumah Alena dan bisa berbincang lebih lama dengan Alena.
Namun Alena sendiri, Ia belum pernah membawa pria ke rumahnya. Maka dari itu, Alena tak berpikiran untuk mengajak Topan singgah ke rumahnya lebih dulu.
***
Sementara itu, Ezra tampak tengah sibuk dengan kegiatan barunya. Ezra bekerja di sebuah PT, namun Ia mendapatkan pekerjaan dengan tiga shift.
Hari ini, Ezra mendapat giliran masuk siang. Semenjak bekerja pun, Ezra dan Alena jarang berkomunikasi. Karena ketika Ezra sedang tidak bekerja, Alena malah tidak dapat di hubungi karena Alena sibuk dengan pekerjaannya juga atau ketika Ezra mengirim pesan di malam hari, Alena malah telah tertidur pulas.
Di malam hari semenjak Alena bekerja, Ia selalu tidur lebih awal. Alena sering merasa kelelahan, maka Ia tak pernah lagi bergadang hingga larut malam.
Namun malam itu, Alena mendapatkan pesan dari nomor yang tak di kenal.
Ketika Alena membuka pesan itu, ternyata pesan itu berasal dari Topan.
"Ini siapa?" Tanya Alena.
"Hay, Len. Ini Aku, Topan. Maaf ganggu, udah tidur, ya?" Tanya Topan.
"Oh, Kak Topan tahu dari mana nomor Aku?" Tanya Alena yang merasa tak pernah memberitahu nomornya pada Topan.
"Oh, iya maaf Aku minta nomor Kanu ke si Ucup." Topan menjawab.
Alena menghela nafasnya, entah kenapa Alena merasa risih karena Topan terus-terusan mendekatinya secara terang-terangan.
"Oh, gitu. Ada apa, Kak?" Tanya Alena.
"Enggak. Cuma pengen chat'an aja sama Kamu, boleh?" Tanya Topan.
"Oh, gitu. Tapi maaf, Kak. Aku udah ngantuk, takutnya chat Kakak gak kebales sama Aku." Alena berbicara seadanya.
"Oh, gitu ya. Ya udah deh, maaf udah ganggu, ya." Topan menuturkan.
__ADS_1
Alena hanya membaca pesan Topan, tampa berniat membalasnya. Alena bukan tak ingin di dekati oleh laki-laki, namun Ia belum berniat untuk berpacaran dan memilih untuk fokus dengan pekerjaannya.