
Arka baru saja sampai di rumah, Ia segera merebahkan tubuhnya dan hendak beristirahat. Namun baru saja Ia ingin memejamkan mata, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarnya.
Dengan malas, Arka kembali bangkit dari tempat tidur.
Arka berjalan, dan membuka pintu kamarnya. Arka terdiam, ketika Elin tengah berdiri di hadapannya.
"Ada apa?" Tanya Arka dengan dingin.
Tak sempat berkata apapun, tiba-tiba saja Elin memeluk Arka sembari menangis.
Arka terkejut, perasaanya yang sedari tadi marah dan kesal pada Elin, sontak langsung di buat terenyuh oleh sikap sang adik.
"Aa maafin, Elin. Elin tahu Elin salah, maafin Elin." Elin berucap sembari terisak.
Arka menghela nafasnya, seperti apapun kesalnya Ia pada sang adik, tetap saja Arka tak bisa melihat adiknya menangis bahkan sampai memohon maaf padanya.
"Udahlah, gak usah di bahas lagi." Arka mengelus punggung Elin.
"Tapi Elin masih gak tenang, masih kepikiran. Aku juga gak enak sama Teh Alena," ucap Elin.
Seketika Arka merasa tenang, karena hal itulah yang ingin di dengar oleh Arka.
__ADS_1
"Heem, Kamu harus minta maaf sama Alena karena Dia itu orang lain. Aa mungkin masih mudah maafin Kamu karena Kamu adik Aa, kalau Alena masih mending sekarang Dia yang malah merasa bersalah sama Kamu." Arka menjelaskan.
Elin mengangguk, Ia juga berniat untuk meminta maaf pada Alena secara langsung jika suatu hari Alena berkunjung lagi ke rumahnya.
"Kapan Teh Alena mau kesini lagi?" Tanya Elin.
"Emm, gak tahu. Soalnya rencananya Dia mau ngelamar kerja," jawab Arka.
Elin terdiam, Ia berharap jika Alena masih mau memaafkannya dan bisa menjalin hubungan lebih baik lagi bersama Alena dan Arka.
"Sekarang Kamu minta maaf sama Bapak sama Mamah, Mereka begitu itu karena ingin Kamu jadi anak yang lebih baik lagi. Apalagi Kamu itu perempuan, harus bisa jaga kehormatan Kamu, harga diri orang tua Kamu juga!" Arka masih berusaha menasihati adiknya itu.
Elin mengangguk, Ia juga merasa jika selama ini sikapnya memang kurang baik dalam bergaul.
***
Setelah kejadian itu, semua kembali seperti biasa. Elin pun sering mengirim pesan pada Alena, dan keduanya tampak lebih baik dari sebelumnya.
Hari itu, Alena mendapat panggilan kerja di sebuah PT yang bergerak di bidang tekstil. Alena mempersiapkan apa saja yang harus di bawa saat interview, Alena juga membawa botol untuk air minumnya.
"Gak Aku anter gak apa-apa?" Tanya Arka yang pagi itu memilih untuk membiarkan Alena memakai motornya, Arka harus kembali bekerja dan tidak bisa menemani Alena di hati pertama interviewnya.
__ADS_1
"Gak apa-apa, Aku bisa sendiri kok. Doain, ya!" Pinta Alena.
Arka mengangguk, "pasti! Kamu bawa motornya hati-hati!" Pinta Arka.
"Iya. Yaudah Aku berangkat, ya!" Seru Alena.
"Iya, sok." Arka menatap Alena yang telah pergi menjauh dari pandangannya.
Sesampainya Alena di pabrik baru, Ia segera menemui pos satpam.
"Pagi, Pak." Alena menyapa.
"Pagi, interview atau ngelamar?" Tanya salah satu satpam.
"Interview, Pak." Alena menjawab.
"Oh, yaudah tulis di buku nama, kepentingan sama nomor teleponnya!" Pinta satpam itu.
"Baik, Pak." Alena pun mencatat sesuai permintaan satpam.
Alena pun duduk di tempat yang di sediakan, ada beberapa orang juga yang sama akan mengikuti interview dengan Alena.
__ADS_1
"Semoga lancar, Ya Allah!" Alena terus berdoa sebab Ia merasa sangat gugup saat itu.