
Selesai mengajak Alena berkeliling, Yusuf pun mengajak Alena untuk berkenalan dengan karyawan lain yang bertugas di sekitar gudang.
"Nah, ini Teh Neng. Dia biasanya bantu-bantu Pak Iyan buat ngatur kerjaan anak-anak lapangan, sama kaya Aku."
Alena saling berjabat tangan dengan Teh Neng, karyawan yang sudah lama bekerja dengan Pak Iyan.
"Hay, Teh. Aku Alena," ucap Lena dengan ramah.
"Hay, panggil Teh Neng aja. Kamu hati-hati sama si Ucup, Dia suka tiba-tiba sawan!" Ledek Teh Neng sembari tertawa.
"Ih, udah jangan di dengerin Alena. Orang stres Dia mah, hayu Kita kenalan sama yang lain lagi!" Ajak Yusuf lagi.
Kini Yusuf mengenalkan Alena pada Alin dan Nur, Mereka adalah teman Yusuf yang berusia tak jauh berbeda dengan Alena dan Yusuf juga.
"Heh, Alin, Nur, kenalin ada kawan baru, nih!" Seru Yusuf.
"Oh, iya. Halo, Aku Alin." Alin menjabat tangan Alena.
"Aku Alena," jawab Lena.
"Wih nama Kita hampir samaan," sahut Alin.
Alena tersenyum, kini Ia berkenalan dengan Nur yang ternyata sedikit pemalu.
"Nah kalau yang gak lepas dari masker ini, namanya Nur. Sok kenalan!" Pinta Yusuf.
Alena dan Nur pun berkenalan, tampaknya Nur memang tipikal perempuan yang pemalu. Sampai ketika berkenalanpun, Nur tak berani menatap mata Alena.
"Sekarang Kita masuk ke dalam, Kita ngobrol cantik di meja kerja Kamu, yuk!" Yusuf berjalan menuju gudang, dan duduk di kursi milik Alena.
Sedangkan Alena, Ia duduk di hadapan Yusuf yang tengah menjelaskan macam-macam pekerjaan harian yang akan di lakukan Alena, Ia juga akan membantu Alena dan berperan menjadi partner kerja Alena.
"Ini laptop baru, ya? Beruntung Kamu ih, baru masuk udah di kasih laptop sama Pak Iyan. Beda kalau sama cewek tulen mah," gerutu Yusuf.
"Emm, Kamu iri?" Tanya Alena.
"Hah? Iri? Nggak, Aku mah becanda aja. Hehe," Yusuf terkekeh.
"Oh, iya. Nanti suka ada orang dari bagian gudang lain, Dia biasanya suka minjem-minjem barang gitu dari gudang Kita. Nah karena sekarang ada Kamu, Kamu harus hitung dengan teliti berapa jumlah baranh yang Dia ambil. Soalnya Dia tuh rada-rada!" Yusuf mewanti-wanti.
"Rada-rada apa?" Tanya Alena.
"Rada-rada licik," bisik Yusuf.
Alena terdiam, Ia menghela nafasnya. Alena harus bisa berhadapan dengan seniornya, apalagi menghadapi senior yang di maksud oleh Yusuf.
"Galak gak orangnya? Aku takut ih," ucap Alena.
"Ah gitu we si Lita mah, tapi tenang. Kalau Dia macem-macem sama Kamu, aduin aja sama Pak Iyan. Di jamin gak akan berani aneh-aneh si Lita!" Pinta Yusuf.
Alena pun hanya menganggukkan kepalanya, Ia berharap bisa bekerja dengan tenang tanpa harus ada perselisihan antar karyawan.
"Eh biar kerjanya gak ngantuk, Kita dengerin musik aja, yuk!" Yusuf terlihat menyetelkan ponselnya ke laptop.
"Emang boleh kerja sambil dengerin musik?" Tanya Alena.
"Ya bolehlah, disini mah bebas. Asal kerjaan beres aja! Nih Aku punya lagu bagus, asik, pokoknya favorit Aku ini mah." Yusuf memilih satu lagu, yang membuat Alena sempat tak percaya.
Terdengar alunan musik yang seketika membuat Yusuf beranjak dari tempatnya, Ia berdiri di hadapan Alena dan melakukan suatu hal yang mengejutkan.
Yusuf berjoget, layaknya seorang girl band.
Dengan di iringi lagu dari Girl's Generation berjudul Baby Baby, Yusuf berjoget dengan lincah.
tteollineun mam gomaun mam
gadeuki damaseo jel
yeppeun pojang soge
__ADS_1
(jeonhago shipeunde)
anil kkeoya useul kkeoya
eongttunghan sangsang ttaemune
mael miruneun babo
(wae na gatjanke)
neul utteon moseup
niga nae mam humchin geon
jeongmallo neomu maldo an dweneunde
Please baby baby baby geudaega nae ane
neomudo gipi deureowa
boilkka ireon nae sujubeun gobaek
Baby baby baby salmyeoshi dagaga
jageun moksoriro gakkai
neoman deullige malhae julkke
dapttapan mam mianhan mam
eonjenga jeonhae jul mael
ssayeo ganeun seonmul
(jeonhago shipeunde)
anil kkeoya shireul kkeoya
isangeun jeolttae anya
(geureomyeon eojjae)
neul unneun moseup
ni mam humchigo shipeo
jeongmallo neomu deullyeojugo shipeo
Please baby baby baby geudaega nae ane
neomudo gipi deureowa
boilkka ireon nae sujubeun gobaek
Baby baby baby salmyeoshi dagaga
budeureon nunuseumeuro
neoye mame seumyeo gal kkeoya
sashil neodo alkkeol
dagagaji motaneun nal
eoneusaenga nayege
neo dagaogo inneungeol
pogeunhan geu pumeuro
__ADS_1
nal kkok ana jweo Oh
Please baby baby baby geudaega nae ane
neomudo gipi deureowa
boilkka ireon nae sujubeun gobaek
Baby baby baby salmyeoshi dagaga
jageun moksoriro gakkai
neoman deullige malhae julkke
Please baby baby baby naega geudae ane
sojunghan sarangmaneuro
gadeuki chaeweo noko shipeungeolyo
Baby baby baby ijeneun geudaeye
nugudo bureopji aneul
gajang yeppeun yeoja chinguya
Baby baby baby.
Alena tertawa, namun seketika Ia menahan tawanya karena takut mengganggu orang lain.
"Astaga. Kamu jago banget dance nya, Cup." Alena memuji.
"Ya iyalah, Kamu tahu gak Aku siapa? Panggil Aku Jesica!" Pinta Yusuf dengan percaya dirinya.
Alena menahan tawanya, baru kali ini Alena memiliki teman lelaki yang begitu menggilai musik korea.
"Tuhkan bener, si Ucup mah suka tiba-tiba jadi penyakitnya!" Seru Teh Neng yang tiba-tiba masuk ke dalam gudang.
"Ih apa atuh Kamu teh, sirik wae! Hayu mending juga joget bareng Aku!" Ajak Yusuf.
Teh Neng menolak, Ia malah ikut menertawakan Yusuf yang ternyata memiliki masalah dengab kepribadiannya.
Saat tengah melihat Yusuf dan Teng Neng tertawa, tiba-tiba saja masuk seorang keryawan laki-laki yang hendak meminta aksesoris tambahan untuk barang yang tengah di produksi.
"Punten, boleh masuk?" Tanya karyawan yang bernama Topan.
"Masuk we Topan, biasanya juga gak minta izin dulu Kamu mah. Kenapa sekarang sok imut gitu?" Ledek Ucup yang seketika berhenti berjoget karena malu.
"Ya kan sekarang mah ada Teteh admin, ya Teh?" Tanya Topan pada Alena.
Alena tersenyum, sembari menganggukkan kepalanya.
"Ada butuh apa, Kak?" Tanya Alena dengan ramah.
"Oh, ini Saya butuh kancing." Topan menuturkan.
Alena mengangguk, Ia berdiri dan berjalan menuju rak yang berisi kancing.
"Berapa banyak, Kak?" Tanya Alena.
Topan terlihat berjalan mendekati Alena, bukan menyebutkan jumlah kancing yang di butuhkan, Topan malah mengajak Alena berkenalan.
"Aku Topan. Nama Kamu Alena, kan?" Tanya Topan.
Karena tak ingin memberi kesan buruk, Alena pun menyambut tangan Topan yang terulur.
"Iya, Aku Alena."
"Hih, ke gudang teh Kamu mah mau ngajak kenalan bukan minta kancing, kan? Ngaku!" Seru Yusuf.
__ADS_1
"Sirik aja, Cup. Kan sambil menyelam minum air," sahut Topan.
Alena hanya diam, Ia tak mempermasalahkan sikap Topan selagi masih di batas kewajaran.