Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Keputusan Bulat


__ADS_3

Pagi hari, Alena berpamitan pada sang Nenek juga Ibunya untuk pergi ke tempat kerjanya. Alena juga membawa berkas lamaran, untuk Ia kirim melalui pos.


Kali ini, Alena berangkat menggunakan angkutan umum.


Alena telah memberi kabar pada Arka, dan Arka pun tampaknya senang menyambut Alena datang kembali.


Alena turun dari angkot, Ia membayar ongkos dan berjalan menuju pabrik.


Ketika berada di depan gerbang, Alena terkejut melihat Arka yang tengah duduk di atas motor.


"Loh, ngapain disini?" Tanya Alena.


Arka tersenyum lebar, "nungguin Kamu. Tadinya mau nungguin Kamu di depan pas turun dari angkot, tapi malu masih pakai kolot!" Seru Arka sembari terkekeh.


Alena mengernyit, Arka masih belum memakai pakaian kerja. Bahkan Arka menunggu Alena hanya menggunakan kaos dan celana pendek di atas lulut, tapi hal itu membuat Alena sedikit terhibur di pagi hari.


"Ya udah masuk! Pakai baju yang bener!" Pinta Alena.


"Ya udah naik!" Pinta Arka.


"Ya ampun, ketimbang dari gerbang ke mes aja masa Aku mesti naik motor. Aku jalan ajalah," sahut Alena.


"Ya gak apa-apa kali, Aku udah nungguin juga!" Seru Arka.


Alena menghela nafas, "ya udah deh, hayu!" Serunya. Alena pun naik ke atas motor, dan Arka membawa Alena menuju mes terlebih dulu.


"Mau di dalem?" Tanya Arka.


"Nggak usah, Aku duduk di teras mesjid aja. Sambil mau berjemur," jawab Alena.


"Oh, ya udah. Aku ke dalem ganti baju dulu." Arka pun masuk ke dalam mes, dan bersiap-siap dengan seragam kerjanya.


Sementara itu, Alena duduk di teras mesjid bersama beberapa orang karyawan yang juga tengah berjemur.

__ADS_1


"Len." Yanto menyapa dan duduk di sebelahnya.


"Tumben dateng pagi, Pak?" Tanya Alena, Yanto memang terbiasa datang mepet. Kali ini, Ia mendapati Yanto yang datang setengah jam sebelum bel masuk.


"Heem. Emm, kabarnya Kamu mau resign?" Tanya Yanto.


Alena mengangguk, "iya, Pak. Kenapa?" Tanya balik Alena.


"Kok kenapa? Kata Ucup kan udah jelas Kamu gak salah! Kenapa masih mau resign?" Tanya Yanto yang berharap Alena mau kembali bekerja.


Alena tersenyum tipis, Ia mengingat bagaimana Ia di permalukan di depan banyak orang.


"Aku emang gak salah, otomatis semua orang juga percaya kalau Aku gak ngambil uang perusahaan. Tapi bukan itu masalah intinya, Pak. Coba Bapak bayangin, Bapak di permalukan di depan banyak orang, di maki, di fitnah, ujung-ujungnya terungkap kalau semua hanya salah paham. Masalah salah pahamnya beres, tapi sakit hatinya? Harga diri yang udah di injek-injek di depan banyak orang, gimana? Aku masih muda, Pak. Masih bisa kok cari tempat dimana Aku di hargai, walaupun memang harus ada proses yang Aku lalui lebih dulu." Alena menuturkan.


Yanto terdiam, apa yang Alena katakan memang ada benarnya. Ia juga tak mungkin untuk memaksa Alena bertahan, sedangkan hal itu menyangkut kenyamanan Alena dalam bekerja.


"Hemm, ya udah kalau itu emang keputusan Kamu. Bapak cuma doain yang terbaik! Semoga dapet kerjaan yang jauh lebih baik," ucap Yanto.


Tak berselang lama, Arka keluar dari mes.


"Hey." Arka menyapa.


"Ka. Rame di produksi?" Tanya Yanto, Ia memang jarang main-main ke lapangan karena Ia di tempatkan di bagian sample.


"Ya lumayan lah, Mang. Mamang sendiri gimana di sample, kalau turun barang baru jangan mode yang ribet-ribetlah!" Pinta Arka sembari bercanda.


"Haha, kalau model itu mah sesuai permintaan Bos!" Seru Yanto.


"Eh iya, bentar lagi Kalian pisah tempat kerja dong!" Lanjut Yanto.


Wajah Arka berubah murung, Ia memang masih berharap Alena mau bertahan dan kembali bekerja.


"Ya udah, masuk yuk!" Ajak Arka.

__ADS_1


Alena mengangguk, Ia pun berpamitan pada Yanto untuk masuk ke area produksi lebih dulu.


"Duluan, ya, Pak." Alena berpamitan.


"Iya, sok!" Seru Yanto.


Setelah berada di gudang Alena segera menemui Bu Novi, dan Arka pun harus segera mulai bekerja.


Di dalam ruangan, terapat Yusuf, Pak Iyan, Bu Novi, juga Yoman dan Emet.


Semua di jelaskan secara rinci, dan di akhir pembahasan Bu Novi mengucapkan maaf pada Alena.


"Iya, Alena maafin, Bu. Toh semua orang juga punya kesalahan, kan." Alena berusaha untuk berbesar hati.


"Emm jadi, Kamu mulai kerja lagi aja seperti biasa." Bu Novi menuturkan.


Alena menggelengkan kepalanya, "maaf, Bu. Alena memutuskan untuk berhenti," ucapnya.


"Hah, kok gitu, Len!" Yusuf tak terima.


"Len, coba di pikirin lagi. Kita masih butuh Kamu loh disini!" Pinta Pak Iyan.


Alena kembali menggelengkan kepalanya, Ia tetap pada keputusannya.


"Nggak, Bu, Pak, Cup. Aku udah mutusin buat keluar, dan nyari pengalaman di tempat baru." Alena menuturkan.


Semua terdiam, tak ada yang bisa memaksa Alena sekalipun itu Arka.


"Tapi Kamu masih mau kerja hari ini? Terakhir?" Tanya Bu Novi.


"Mau dong, Bu. Aku juga kan harus tanggung jawab sama kerjaan Aku, Aku harus beresin dulu semuanya biar nanti gak bikin repot orang yang gantiin Aku!" Seru Alena.


Bu Novi mengangguk, dan berterima kasih atas pertanggung jawaban Alena. Berkali-kali, Ia juga kembali meminta maaf pada Alena.

__ADS_1


__ADS_2