
Alena dan tiga orang lainnya yang juga di terima bekerja, masih menunggu di pos satpam untuk arahan selanjutnya.
Tak lama, telepon yang ada di ruangan satpam berbunyi.
Setelah itu, seorang satpam keluar dan meminta Alena juga yang lainnya untuk mengikutinya.
"Sekarang Kalian semua ikutin Saya. Saya akan antar Kalian ke bagian masing-masing!" Seru satpam itu.
Alena dan yang lainnya mengangguk, Mereka pun berjalan menyusuri setiap gedung yang ada di pabrik.
"Sambil jalan sambil Saya kasih tahu, yang sedang Kita lewati ini gedung TFO. Gedung kosong, semetara di pakai untuk bahan baku. Nah yang di seberang itu, gedung khusus staff." Satpam menerangkan.
Mereka masih berjalan, dan satpam kembali menerangkan.
"Nah sebelah kiri, gedung rajut. Yang di depan Kita ini gedung benang jahit, kalau Kalian akan Saya antar ke gedung khusus pemintalan benang bordir." Satpam kini membawa Alena dan yang lainnya ke sebuah gedung pemintalan benang bordir.
"Bu!" Sapa satpam kepada salah satu staff yang ada di gedung tersebut.
"Ya, Pak. Ini yang mau training?" Tanya Staff bernama Nova.
"Iya, Bu. Kalau gitu Saya pamit!" Seru Pak satpam.
__ADS_1
"Iya sok!" Seru Bu Nova.
Bu Nova meminta Alena dan yang lainnya untuk masuk ke ruangannya, di dalam sana Bu Nova menerangkan beberapa hal terkait benang bordir.
Dan setelah menerangkan beberapa hal, Alena dan yang lainnya di antar menuju lapangan produksi.
"Nah, disana lapangan produksi. Ada beberapa mesin satu mesin terdiri dari 16 spindel, nanti Kalian akan di ajarkan oleh Teh Ika."
"Teh Ika, ini yang mau training. Tolong di bantu!" Pinta Bu Nova, Teh Ika pun mengiyakan.
Bu Nova meninggalkan lapangan dan kembali ke kantornya, sementara Alena dan yang lainnya kini tengah mendapat penjelasan dari pengawas lapangan, Teh Ika.
"Nah, disini produksinya benang bordir. Khusus pemintalan, Kalian harus belajar dulu cara mengikat benang putus terlebih dulu. Begini caranya, perhatikan, ya!" Pinta Teh Ika.
"Nah, begitu. Bisa? Coba sekarang giliran Kalian!" Seru Teh Ika.
Alena dan yang lainnya mengambil seutas benang dan mulai mencoba mengikat sesuai yang di contohkan Teh Ika.
Alena tampak kesulitan sebab jari-jari tangannya mulai basah karena gugup, dan memang selama ini telapak tangan dan kaki Alena kerap kali basah bahkan ketika tidak sedang gugup sekalipun.
"Kamu kenapa?" Tanya Teh Ika yang melihat Alena kesulitan.
__ADS_1
"Licin, Teh." Alena menjawab seadanya.
"Licin?" Teh Ika meraba tangan Alena.
"Tangan Kamu suka basah?" Tanya Teh Ika.
Alena mengangguk.
"Oh kalai tangan basah gak bisa di tempatin di produksi," ujar Teh Ika.
"Oh, gak bisa. Kenapa kalau boleh tahu, Teh?" Tanya Alena yang mulai khawatir tidak berlanjut training.
"Iya soalnya Kita kan mainannya benang yang belum di bungkus, otomatis tangan Kita langsung bersentuhan dengan benangnya tanpa penghalang. Nah kalau tangan basah takutnya kena debu jadi kotor kan, nanti nempel ke benangnya bisa jadi gak lolos QC." Teh Ika menjelaskan.
"Oh, gitu ya Teh. Jadi Saya gimana dong, Teh?" Tanya Alena, tangannya semakin basah karena kini Ia tengah sangat cemas.
"Emm, sebentar. Saya harus nemuin Bu Nova dulu untuk kasih tahu soal Kamu, selagi nunggu Kalian coba lagi aja ngikat benangnya. Kecuali Kamu, ya!" Seru Teh Ika.
Alena mengangguk, Ia sudah putus asa saat itu.
Teh Ika pun pergi menuju ruangan Bu Nova, ruangan yang berdindingkan kaca itu membuat Alena dapat melihat dengan jelas ketika Teh Ika menemui dan berbicara dengan atasannya.
__ADS_1
"Ya Allah, semoga ada keringanan. Semoga ada bagian lain yang mau terima Aku," ucap Alena dalam hatinya.