
Bapak mengajarkan Aku bagaimana cara menjalani kehidupan, namun Bapak lupa mengajarkan bagaimana cara hidup tanpa Bapak.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Hari itu, Alena menjalani pekerjaannya untuk terakhir kali. Ia membereskan pekerjaan yang belum selesai, Alena juga sebenarnya merasa sedih, namun mungkin ini memang yang terbaik untuknya. Saat hendak menuju kamar mandi, Alena melirik ke arah bagian produksi dimana Arka bekerja.
Alena sedikit menatap, Ia pasti akan sangat merindukan momen dimana Arka bekerja dengan fokus.
Saat keluar gerbang produksi, Alena berpapasan dengan Topan yang sepertinya baru saja keluar dari kamar mandi.
Alena mengulum senyum, dan menundukkan wajahnya.
Topan pun membalas senyuman Alena, Ia merasa sedih mendengar bahwa Alena akan berhenti bekerja.
Di dalam kamar mandi, Alena terdiam. Sejujurnya, Alena tak menyangka akan begitu perih dalam menjalani kehidupan menuju dewasanya.
Alena teringat pada sang ayah, Ia memejamkan matanya menahan tangis.
"Harus berliku dulu ya, Pak. Alena kuat kan, Pak?" Air mata Alena tak dapat tertahan, Ia menangis tanpa suara. Hal yang begitu menyesakkan, ketika harus menangis namun berusaha untuk tak ada siapapun yang mendengar.
Bagi anak perempuan, sosok ayah adalah pelindung terbaik untuknya. Sebenarnya hal ini tak hanya pada anak perempuan, anak laki pun sangat membutuhkan perlindungan ayahnya. Namun, bagi anak perempuan, sebagai laki-laki pertama di hidupnya, ayah menjadi figur yang sangat melekat pada hidupnya.
Alena segera membasuh wajahnya, Ia tak ingin ada seorangpun yang tahu jika Ia baru saja menangis.
Alena segera keluar, Ia kembali memasang wajah cerianya.
__ADS_1
Saat keluar dari kamar mandi, Alena kini berpapasan dengan Arka yang hendak masuk ke dalam kamar mandi.
Alena menatap, begitupun dengan Arka.
"Abis wudhu?" Tanya Arka yang melihat wajah Alena basah.
"Emm." Alena hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Arka.
Arka sejenak memperhatikan wajah Alena, tampaknya Ia tahu apa yang tengah di sembunyikan oleh kekasihnya itu.
"Abis nangis?" Tebak Arka.
Alena dengan cepat menggelengkan kepalanya, Ia menyangkal tebakan Arka.
"Nggak, tadi emang sengaja cuci muka. Gerah banget," dalih Alena.
"Nggaklah, ya udah Aku ke gudang lagi." Alena hendak berpamitan.
Arka mengangguk, Ia pun masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Alena kembali menuju gudang.
Saat masuk ke gudang, Alena mendapati Pak Iyan, Yusuf, Alin, Nur, Teh Neng, tengah berkumpul.
"Duh, rame banget. Ada apa nih?" Tanya Alena.
"Sini, duduk!" Pinta Pak Iyan.
__ADS_1
Alena pun duduk di antara teman-temannya, dan Ia terkejut saat teman-temannya memberikan kejutan berupa berbagai makanan dan minuman.
"Wah, ada acara apa nih?" Alena masih belum sadar bahwa itu di lakukan untuk Alena.
"Hari ini Kamu terakhir kerja, Kita bikin momen dulu. Biar ada kenang-kenangan masih," ujar Pak Iyan.
"Duh, repot-repot, Pak." Alena terharu dengan yang di lakukan teman-teman kerjanya.
"Gak repot lah, lagian udah biasa di repotin Kamu!" Ledek Yusuf.
Semua tertawa, Alena pun tak tersinggung dengan lelucon Yusuf.
"Ya udah hayu atuh makan ih keburu dingin!" Ajak Yusuf.
"Iya hayu, udah laper Kamu cup!" Seru Pak Iyan.
"Iya gak sabaran!" Timpal Alin.
"Emang boleh makan sekarang? Kan belum istirahat," ujar Alena.
"Halah, persetan dengan aturan itu. Pokoknya Kita sekarang senang-senang! Kalau Bu Novi marah, marahin balik!" Seru Yusuf.
"Duh kayak yang betul aja!" Seru Nur.
"Ya udah hayu atuh ih udah ngiler ini sama Mie nya!" Ajak Yusuf lagi.
__ADS_1
"Ya udah hayu," sahut Pak Iyan. Semua pun langsung menyantap makanan yang di belikan oleh Pak Iyan, sembari di selingin obrolan yang memacing gelak tawa.