
Seperti biasa, jam makan siang Alena selalu membawa bekal dan memakannya di ruang makan yang tenpatnya di lewati oleh para karyawan yang keluar dari area produksi.
Ketika itu Alena tengah memainkan ponselnya, makanan yang ada di depannya belum Ia cicipi sama sekali.
Alena menunggu semua karyawan keluar lebih dulu, Ia merasa tak enak jika makan saat masih banyak orang yang hilir mudik di dekatnya.
Saat tengah asik memainkan ponsel, tiba-tiba saja Alena terkejut karena seseorang mengelus puncak kepalanya dengan lembut.
"Makan, main hp terus!" Seru seseorang itu yang tak lain adalah Arka.
Alena menoleh, menatap Arka yang telah melewatinya. Arka kembali melakukan hal-hal kecil yang membuat Alena nyaman, hal kecil yang di anggap sepele namun sangat berkesan.
"Arka kok sikapnya berubah lagi? Apa karena Dia udah putus sama Alin? Tapi gak enak juga sama Alin," gumam Alena.
Alena segera menyantap makan siangnya, perasaannya saat ini begitu baik entah karena sikap Arka yang kembali seperti dulu atau karena hal lainnya.
***
Beberapa hari setelah itu, Arka semakin sering mengirim pesan pada Alena.
Hari itu, Alena harus pulang malam.
Ia berjalan dengan cepat keluar dari area pabrik, pada saat melewati mes karyawan, Arka memanggil Alena.
Alena menoleh, Ia menghentikan langkahnya dan menunggu Arka yang berlari ke arahnya.
"Pulang sekarang?" Tanya Arka.
__ADS_1
"Iya." Alena menjawab singkat.
"Oh, emm sebentar!" Pinta Arka, Ia kembali berbalik masuk ke dalam mes.
Alena tak bergeming, Ia masih berdiri di tempatnya. Tak lama, Arka kembali keluar dari mes sembari mendorong motornya menghampiri Alena.
"Len. Aku gak bisa nganterin pulang soalnya harus lembur, tapi kalau mau pulang bawa motor Aku aja. Biar cepet sama gak harus nunggu angkot!" Seru Arka.
Alena tak menjawab, Ia menatap ke arah Arka.
"Tapi masa Aku bawa motor Kakak," ujar Alena.
"Ya gak apa-apa, gak bakalan di bawa kabur juga kan sama Kamu?" Arka menggoda.
"Ya nggak lah, cuman kan maksudnya Aku gak enak aja pakai barang orang apalagi kayak motor gini. Ini kan barang besar," ujar Alena.
Arka menyodorkan kunci motornya pada Alena, Alena pun menerima.
"Naik!" Pinta Arka.
Alena menurut, Ia pun menaiki motor milik Arka.
"Eh iya, bentar!" Arka kembali berlari menuju mes, dan kembali lagi sembari membawa helm.
"Nih pakai!" Seru Arka sembari memakaikan helm pada Alena.
Alena terdiam, Ia mematung bahkan nyaris tak dapat berkutik.
__ADS_1
"Emm, makasih." Alena berucap canggung.
"Sama-sama. Hati-hati bawa motornya, kalau udah sampai rumah kabarin!" Pinta Arka.
Alena mengangguk, Ia pun menyalakan mesin motor dan berpamitan pada Arka.
"Aku pulang, ya."
"Iya." Alena menjalankan motor, dan terlihat di balin spion Arka yang masih berdiri menatapnya.
Malam itu, untuk pertama kalinya Alena pulang dengan mengendarai sepeda motor milik Arka.
Topan melihat apa yang di lakukan Arka pada Alena, hal itu membuat Topan geram dan dengan langkah tegas menghampiri Arka yang hendak kembali masuk ke mes.
"Arka!" Panggil Topan.
Arka menoleh, "iya. Kenapa?" Tanyanya.
"Kenapa? Heh, makin berani ya Lo deketin Alena." Topan berucap dengan nada sinis.
Dengan santainya, Arka menanggapi ucapan Topan.
"Kenapa emang? Alena single, Gua single. Masalahnya dimana?" Tanya Arka.
Topan semakin geram, "masalahnya Lo udah nikung temen Lo sendiri!" Seru Topan.
"Temen? Sejak kapan Kita temenan? Gua pindah kesini, Gua tahu Lo, tapi setahu Gua, Kita belum resmi temenan. Dan satu lagi. Gak ada temen yang main nyindir-nyindir temennya pakai perkataan gak pantes! Kayak cewek!" Seru Arka sembari berlalu meninggalkan Topan yang masih tak beranjak di tempatnya.
__ADS_1