
Tubuh saling bersandar
Ke arah mata angin berbeda
Kau menunggu datangnya malam
Saat kumenanti fajar
Sudah coba berbagai cara
Agar kita tetap bersama
Yang tersisa dari kisah ini
Hanya kau takut kuhilang
Perdebatan apapun menuju kata pisah
Jangan paksakan genggamanmu
Izinkan aku pergi dulu
Yang berubah hanya
Tak lagi kumilikmu
Kau masih bisa melihatku
Kau harus percaya
Kutetap teman baikmu
***
Sudah beberapa hari, Alena tak menjawab panggilan bahkan pesan dari Topan.
Hari ini sepulang bekerja, Alena memutuskan untuk mengajak Topan berbicara perihal kelanjutan hubungan keduanya.
Sore itu, Alena duduk di bangku yang terletak di teras mes karyawan.
"Aku seneng, akhirnya Kamu mau bicara lagi sama Aku." Topan sudah sangat antusias karena Alena akhirnya mau bertemu dengannya.
"Kak. Sebelumnya Aku mau minta maaf karena udah gak ada kabar sama gak pernah nyapa kalau ketemu," ucap Alena.
"Iya gak apa-apa. Gimana, katanya mau ada yang Kamu omongin. Kita mau bahas apa?" Tanya Topan.
"Iya, Aku mau bicarain tentang kelanjutan hubungan Kita. Aku rasa... Aku gak bisa lanjut, Kak." Alena berucap.
Topan terdiam, Ia menatap dengan rasa tak percaya.
"Bentar. Gimana sih maksudnya, gak bisa lanjut gimana? Len, Aku sayang banget loh sama Kamu. Kamu gak mungkin kan..."
"Kak. Maaf, Aku gak bisa. Mungkin ini terdengar klise, tapi memang kenyataannya Kakak itu terlalu baik. Terlalu banyak berjuang sendirian," sela Alena.
"Len. Aku gak masalah kok kalau harus berjuang terus buat Kamu," tukas Topan.
"Kak, tapi Aku gak bisa. Aku udah berusaha buat sayang sama Kakak, tapi... Gak bisa. Aku gak mau bikin Kakak sakit hati lebih dari sekarang," jawab Alena.
Topan membungkam, Ia masih tak terima dengan keputusan Alena.
"Nggak, Aku gak mau putus. Coba Kamu berusaha lebih keras lagi, Aku yakin Kamu bisa buka hati Kamu buat Aku!" Pinta Topan.
"Kak. Gak akan ada kebahagiaan kalau salah satu dari Kita menjalaninya dengan terpaksa," ujar Alena.
__ADS_1
Alena berdiri, Ia hendak beranjak dari tempatnya.
"Aku rasa, Aku udah selesai. Aku harap, Kakak bisa jauh lebih bahagia setelah ini."
"Gak ada yang merasa baik-baik aja setelah perpisahan!" Seru Topan sambil terduduk lesu.
"Aku tahu, tapi Aku yakin suatu hari Kakak bakal dapatkan orang yang jauh lebih baik dan bisa membalasa rasa sayang Kakak dengan tulus. Aku pamit," ucap Alena.
Alena pun pergi, perasaannya lega walau Ia tahu ada hati yang patah karena keputusannya. Setidaknya, Alena memberi kesempatan untuk Topan mencari perempuan lain yang jauh lebih baik dari pada harus dengannya.
Kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup ini datang silih berganti. Setiap hari Kita bisa bertemu dengan orang baru dan berpisah dengan orang lama. Kadang tak semua pertemuan berakhir bersama-sama selamanya, ada yang berakhir dengan perpisahan yang tentunya menyakitkan.
Perpisahan selalu ditemui semua orang, sedih memang berbicara tentang perpisahan terlebih dengan orang sebelumnya memberi kesan baik di hidup Kita. Entah itu dengan orang tua, kerabat, sahabat, rekan kerja maupun kekasih.
Setiap perpisahan dan kata selamat tinggal bukanlah akhir dari sebuah kehidupan, bahkan terkadang perpisahan itu memberikan banyak pelajaran untuk Kita bisa lebih baik lagi.
***
Satu minggu setelah hubungannya dengan Topan berakhir, Alena melanjutkan kehidupannya seperti biasa. Ada beberapa hal yang hilang di hari-harinya, seperti hal-hal sepele yang Topan lakukan secara berulang.
Namun, lambat laun Alena mulai terbiasa.
Saat itu, ada perubahan besar-besar di lapangan produksi. Untun pertama kalinya, pabrik tempat Alena bekerja menerima bahan baru untuk di jahit. Jika sebelumnya Mereka terbiasa berhadapan dengan bahan-bahan kasar dan keras, kini Mereka di hadapkan untuk menjahit bahan yang lembut seperti kain untuk kemeja.
"Len. Kamu tolong cek time semua proses, tentukan target perjamnya. Setiap orang memegang satu proses, setiap proses akan berbeda target perjamnya. Kamu bisa kan bantuin lapangan dulu?" Tanya Pak Iyan.
"Bisa, Pak." Alena pun di beri alat dan kelengkapan lainnya seperti buku target yang di lengkapi nama karyawan juga proses yang di kerjakan, tak lupa Alena kini harus selalu membawa stopwatch untuk mempermudah pekerjaannya.
"Mulai dari belakang, proses paling dasar terus lanjut ke depan hingga finishing, ya!" Perintah Pak Iyan.
"Siap, Pak." Alena pun segera menuju line, Ia memulai menghitung waktu target perorangan.
Alena sudah berjalan hampir setengahnya, kini Ia harus berhadapan dengan Topan yang juga ikut ke dalam line baru di lapangan.
"Iya." Topanpun mulai bekerja sesuai arahan Alena, hingga detik terakhir Alena meminta Topan untuk menghentikan pekerjaannya beberapa saat.
"Cukup! Aku hitung dulu target perjamnya, Kakak boleh lanjut lagi!" Pinta Alena.
Tak menjawab ucapan Alena, Topan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Targetnya 85 pcs/ jam ya, Kak!" Seru Alena.
"Iya." Topan menjawab singkat.
Alena tak menghiraukan sikap dingin Topan, Ia kembali melanjutkan menghitung target pada karyawan lainnya.
Tiba saatnya Alena menghitung waktu target Arka, Alena melakukan hal yang sama berulang-ulang.
Namun hendak berganti meja, Arka berucap sesuatu yang membuat Alena menghentikan langkahnya sejenak.
"Putus, ya, Len?" Tanya Arka.
Alena terdiam, Ia menatap sekilas ke ara Arka.
"Sampe juga ke telinga Kakak, ya? Tahu dari mana?" Tanya Alena.
"Siapa yang gak tahu kabar patah hati lelaki tampan macam Topan? Semua juga udah tahu kali," sindir Arka.
Alena menghela nafasnya, Ia tak berlama-lama berbincang dengan Arka. Alena kembali melanjutkan pekerjaannya, setelah selesai Alena bisa duduk sejenak menunggu hingga wakt penulisan target kembali di lakukan setiap satu jam sekali.
Di lapangan, Alena belum mendapat meja sendiri. Alena sempat bingung harus duduk dimana, namun Ia melihat sebuah kursi kosong dan membawanya ke dekat meja Arka.
"Ngapain duduk disini?" Tanya Arka.
__ADS_1
"Kenapa emangnya? Gak boleh? Aku bingung harus duduk dimana, sama yang lain belum kenal semua." Alena menjawab.
"Meja kelima dari di belakang Aku, kenal sama Kamu. Kenapa gak disana?" Tanya Arka.
Alena menoleh, meja yang di maksud Arka adalah meja jahit Topan.
"Hemm. Udah sih disini juga gak akan ganggu yang kerja kok," ucap Alena.
Arka tak menggubris, Ia kembali melanjutkan pekerjaannya.
Alena diam-diam memperhatikan wajah Arka, Ia teringat dengan seseorang yang wajahnya mirip dengan Arka.
"Kak, wajah Kakak itu mirip banget sama Kakak kelas Aku di SMK. Kakak kembarannya, ya?" Tebak Alena dengan asal.
"Ngawur!" Seru Arka.
Alena tertawa kecil, Ia tak melanjutkan perbincangannya dengan Arka sebab tak sengaja Alena melirik ke arah Topan yang menatapnya dengan sinis.
Alena pun memilih untuk diam, dan hanya memainkan pulpen yang ada di tangannya.
"Kenapa jadi pendiam banget?" Tanya Arka yang sadar akan perubahan sikap Alena.
"Nggak. Kepo banget," jawab Alena.
"Makannya kalau kerja itu fokus kerja, jangan di selingi pacaran! Apalagi dama yang satu tempat, susah!" Seru Arka.
"Emangnya Kak Arka gak punya pacara? Bisa-bisanya ngomong kayak gitu!" Seru Alena.
"Ya nggak, lah. Aku kan udah punya anak istri, masa pacaran lagi!" Tukas Arka.
Alena mengangkat wajahnya, Ia ingat dengan pernyataan Topan waktu tempo hari.
"Kakak bohong, ya? Dih, ngaku-ngaku udah punya anak istri. Maksudnya apa?" Tanya Alena.
"Bohong apa?" Arka mengelak.
"Udah, gak usah pura-pura. Aku tahu kali, Kakak itu belum nihak apalagi punya anak!" Seru Alena.
Arka tertawa kecil, Ia tak menyangka jika Alena akan mengetahui bahwa Ia berbohong.
"Hemm, ketahuan deh." Arka berucap.
"Kenapa bohong?" Tanya Alena.
"Biar gak ada yang naksir!" Seru Arka dengan percaya diri.
"Dih, emang disini banyak yang naksir Kakak? Kepedean banget jadi orang!" Ledek Alena.
"Dih, gak tahu Kamu. Banyak kali yang ngecengin Aku, cuma ya belum mau berkomitmen aja!" Seru Arka.
"Belum mau berkomitmen, tapi ada cewek yang terang-terangan deketin, di ladenin. Di PHPin! Iya, kan?" Tebak Alena lagi.
"Kok tahu?" Tanya Arka sembar tertawa.
Alena mengernyit, "dih berarti Kakak nih banyak deket sama cewek, tapi gak mau ngasih status yang pasti. Parah banget sih!" Hardik Alena.
"Bukan salah Aku juga, siapa suruh Mereka ngedeketin, nelponin, chat berulang-ulang. Kasihan kan pulsa Mereka habis sia-sia, kalau di bales kan setidaknya gak rugi-rugi amat!" Tukas Arka.
"Hemm, terserahlah!" Alena tak bisa menerima cara berpikir Arka dengan cara berpikirnya.
Diam-diam, Arka memperhatikan Alena menggunakan ujung matanya. Arka menilai bagaimana Alena bersikap, dan bagaimana Alena berpikir. Arka menilai, Alena berbeda dengan perempuan kebanyakan yang mencoba mendekatinya di awal-awal perkenalan. Sedangkan Alena, Ia hanya bersikap sebagaimana Ia bersikap dengan teman baru yang di kenalnya tanpa ada unsur terselubung.
"Agak lain nih perempuan!" Seru Arka dalam hatinya.
__ADS_1