
Setelah melihat keberadaan Ezra, Alena memutuskan untuk segera pulang. Ia mempercepat larinya, Alena tahu bahwa Ezra mungkin saja melihatnya. Alena sudah memutuskan untuk tidak berurusan dengan masa lalunya lagi, Arka sudah lebih dari cukup untuknya saat ini.
Sementara itu, Ezra yang masih berada di tempatnya merasa yakin bahwa yang Ia lihat adalah Alena.
"Hey. Kenapa ngelamun?" Tanya seorang perempuan yang tengah bersama Ezra.
"Emm, nggak. Aku tadi kayak lihat Alena," jawab Ezra dengan jujur.
Perempuan itu terdiam, "Alena mantan Kamu itu?" Tanya perempuan yang bernama Fadillah.
Ezra mengangguk, rupanya perempuan yang tengah bersama Ezra itu mengetahui tentang siapa Alena.
"Sama siapa Dia kesini?" Tanya Fadillah.
"Kayaknya sendirian, deh." Ezra menjawab seadanya.
__ADS_1
"Emm, jadi sekarang Kamu mau apa? Mau susul Dia?" Tanya Fadillah.
Ezra terdiam, dalam hatinya Ia sangat ingin untuk menyusul Alena. Namun di sisi lain, tak mungkin Ia meninggalkan Fadillah yang datang bersamanya itu.
"Emm, nggak. Mungkin bukan waktunya buat ketemu lagi," ujar Ezra.
Fadillah tak menanggapi, Ia paham dengan apa yang di rasakan Ezra saat itu. Statusnya dengan Ezra memang tanpa kepastian, namun Ezra pun tak menolak ketika Ia memanggil Ezra dengan sebutan 'yang'.
Sejujurnya, Fadillah sangat ingin meresmikan hubungannya dengan Ezra. Namun, selama dekat dengannya, Ezra sering kali membahas tentang kisahnya bersama Alena.
Alasan Ezra tak memberi kabar pada Alena adalah dikarenakan Ia kembali ketahuan berkabar dengan Alena oleh sang Ayah, sang Ayah berkata akan menghubungi Alena jika Ezra tak memutus hubungan dengan Alena, dan Ezra tak mau jika hal itu terjadi.
Awalnya Ezra mengira bahwa sang ayah melarang karena mementingkan pendidikannya, namun akhir-akhir ini Ezra mengetahui bahwa sang ayah menginginkan Ezra dekat dengan perempuan yanh sederajat dengan keluarganya.
Ya, hampir semua keluarga Ezra bergelar sarjana. Sementara Alena, Ia malah harus mengubur mimpinya untuk dapat berkuliah.
__ADS_1
Sesampainya di rumah, Alena segera membersihkan tubuhnya. Setelah itu, Alena mengecek ponselnya yang Ia tinggal di rumah selama berolahraga.
Alena merasa senang karena Arka mengirimnya pesan, Alena segera membuka pesan dari pacarnya itu.
"Hey, lagi apa? Aku lagi di villa, nih. Jadi bisa ngabarin Kamu." Isi pesan Arka.
"Ya, satu jam yang lalu. Arka masih di villa gak, ya?"
Alena segera membalas pesan Arka, Ia berharap pesannya dapat di terima oleh Arka saat itu juga.
"Hey, maaf baru balas. Aku abis pulang olahraga, hpnya gak Aku bawa. Masih di Villa?" Balas Alena.
Beberapa menit berlalu, tak ada balasan dari Arka. Pesannya pun masih belum terkirim, Alena menghela nafasnya.
"Kayaknya udah balik ke rumah deh," gumamnya.
__ADS_1
Kali ini, Alena merasakan bagaimana menjalin hubungan dengan keterbatasan sinyal. Walaupun senin besok Ia bisa bertemu dengan Arka di tempat kerja, namun Alena merasa waktu berjalan dengan lambat ketika Ia tak berkabar bahkan tak bertemu dengan Arka.
Sedangkan di rumah, Arka tengah bertanya-tanya mengapa Alena tak membalas pesannya. Untuk pertama kali, Arka merasa tak tenang karena tak dapat mendengar kabar Alena. Tak seperti hubungannya dengan perempuan lain, Alena begitu mudah menarik perhatian Arka bahkan semua perempuan yang mendekatinya bak hilang di telan bumi ketika Ia mempublikasikan hubungannya dengan Alena.