
Alena masih mencoba untuk mempercepat gerakan tangannya, sedikit demi sedikit Ia mulai memahami dan menemukan cara agar bisa mengikat lebih cepat.
Alena juga dengan hati-hati memperhatikan setiap label warna yang ada di dalam bungkusan, namun ada satu hal yang baru Ia temui dan terasa janggal.
"Loh, di buku katalog warna 550 itu kan merah redup, tapi ini kok warna merahnya agak terang. Apa salah warna, ya?" Alena bergumam.
Saat tengah memperhatikan warna benang yang menurutnya aneh, tiba-tiba Teh Jule datang untuk mengecek hasil pekerjaan Alena.
"Gimana Alena, udah bisa ngikat benangnya?" Tanya Teh Jule.
Alena menoleh, Ia mengulum senyum terlebih dulu.
"Alhamdulillah, Teh. Mulai bisa," jawab Alena.
Teh Jule tampak duduk di samping Alena, dan melihat hasil pekerjaan Alena.
"Wah, lumayan rapih, ya!" Puji Teh Jule.
"Makasih, Teh." Alena berucap.
"Gimana? Ada kendala?" Tanya Teh Jule.
"Emm, sejauh ini enggak ada kendala yang terlalu rumit sih. Cuma ini nemu benang yang kayaknya beda deh Teh, di dalam satu bungkus ini, kayaknya warna yang ini lebih terang!" Tunjuk Alena pada benang yang menurutnya berbeda.
__ADS_1
Teh Jule memperhatikan benang yang di tunjukan oleh Alena.
"Loh, iya. Ini udah ada yang Kamu iket dalam bentuk satu gross, gak?" Tanya Teh Jule. Satu ikat yang terdiri dari 12 bungkus benang di sebut satu gross.
Di dalam satu bungkus itu juga terdapat 12 pcs benang, yang di sebut juga satu lusin.
"Belum sih, Teh. Ini keranjang baru yang mau Aku ikat," jawab Alena.
"Oh, bagus. Jangan dulu di ikat, takutnya di dalam satu keranjang ini masih banyak yang kayak gini. Kita cari lagi!" Ajak Teh Jule.
Alena mengangguk, Ia pun kembali memperhatikan setiap warna dalam satu bungkus bersama Teh Jule. Alangkah terkejutnya Mereka ketika mendapati banyak warna yang tercampur dalam satu bungkus.
"Astaga, ini ada lagi." Teh Jule berucap.
"Ini juga, Teh." Alena kembali menemukan benang yang berbeda.
"Ya ampun, ini sih pasti masih banyak lagi. Kok bisa gini sih!" Seru Teh Jule.
"Kayaknya karena warnanya yang hampir menyerupai deh, Teh. Mungkin yang masukin benangnya kurang fokus, makannya kayak gini." Alena mencoba mengutarakan perkiraannya.
"Heem, bener. Saya kasih tahu dulu Bu Tini, deh. Yang keranjang inu pisahin, Len. Kita balikin ke produksi!" Pinta Teh Jule.
"Siap, Teh." Alena pun memisahkan keranjang yang terdapat warna yang bermasalah, Ia pun berinisiatif untuk mengecek keranjang berikutnya.
__ADS_1
Namun baru saja melihat dari atas permukaan, Alena langsung menemukan kejanggalan pada label warna benang tersebut.
Alena membuka buku katalog, dan benar saja dugaannya.
"Loh, warna hitam kan harusnya kode 500. Kok ini labelnya 550," gumam Alena.
Saat tengah meneliti, Teh Jula dan Bu Tini datang mendekati Alena.
"Mana, Len?" Tanya Teh Jule.
"Ini, Teh." Alena mendorong keranjang ke hadapan Bu Tini.
"Aduh. Ini mah kelihatan atuh beranya, muda tuanya. Kenapa QC produksi bisa kelolosan gini ih," ujar Bu Tini.
"Bu, maaf. Keranjang yang ini juga salah, deh kayaknya. Warna hitam kan harusnya kode 500, tapi disini labelnya 550." Alena memperlihatkan keranjang berikutnya pada Bu Tini dan Teh Jule.
Bu Tini menatap ke arah keranjang, Ia pun kembali menyayangkan masalah yang terjadi.
"Astaga, ini mah salah label. Ampun, Teh Jule telepon anak produksinya, suruh ambil balik barangnya!" Pinta Bu Tini. Teh Jule mengangguk, Ia pun berbalik dan menuju meja depan untuk menghubungi bagian produksi.
"Alena, hari pertama Kamu kerja Kamu udah bisa meminimalisir kesalahan. Bagus itu!" Puji Bu Tini.
Alena mengangguk, "terima masih, Bu."
__ADS_1
"Pertahankan ketelitian Kamu, ya! Itu modal yang sangat di butuhkan untuk kerja di bagian gudang, tentunya Kamu di pastikan lanjut training besok!" Seru Bu Tini.
Alena terkejut, Ia sangat bersyukur dengan apa yang di dapatnya hari ini. Ia kira tangan basahnya akan mempersulitnya dalam bekerja, namun di balik kekurangannya, Alena mendapatkan rezeki melalui jalan lain yaitu di bagian gudang dan ketelitiannya yang membuat Alena kemungkinan akan lulus training.