
Alena hampir sampai, Ia langsung memberi kabar pada Arka.
"Len, parkir mobilnya dimana?" Tanya Ginanjar, menantu Wa Haji.
"Emm, di depan nanti ada mesjid. Di seberangnya ada lahan kosong samping kebun teh, parkir disitu aja, A!" Pinta Alena.
"Oh, iya." Ginanjar pun memarkirkan mobil di tempat yang di beritahukan oleh Alena.
Kebun teh yang Alena maksud berada di seberang jalan rumah Arka, tepatnya lahannya lebih tinggi dari rumah Arka.
Setelah mobil terparkir, Alena dan keluarganya turun.
"Seger banget udaranya," ucap Ibu Alena.
"Heem, cuaca panas tapi ada dingin-dinginnya juga. Enak," sahut Ibu sambung Alena.
Alena tersenyum, Ia merasa senang ketika Ibu kandung juga Ibu sambungnya dapat bepergian bersama terlebih hal itu menyangkut hal besar untuk Alena.
"Rumahnya dimana, Len?" Tanya Wa Haji.
"Ke bawah, Wa. Ya udah yu!" Ajak Alena.
Mereka pun harus berjalan menuju rumah Arka, hanya berjarak beberapa meter, Alena sudah melihat Arka yang tengah berdiri di teras menunggunya.
"Oh itu Arka!" Seru Nenek Alena.
Arka pun tersenyum menyambut kedatangan keluarga Alena.
__ADS_1
"Assalamu'allaikum," ucap keluarga Alena.
"Wa'allaikumsalam." Arka menyahut, tampak orang tua Arka keluar dari rumah di susul oleh kakak juga adik Arka.
Keluarga Alena tampak bersalaman, dan saling melempar senyum.
"Gimana di jalan tadi? Lancar?" Tanya Bapak Arka.
"Wah, jalannya hebat! Naik turun, tiap di tanya Alena jawabnya sebentar lagi!" Sahut Ginanjar.
"Haha, iya baru pertama kali ke daerah sini?" Tanya Bapak Arka lagi.
"Iya, Pak. Lumayan juga ya tanjakannya," sahut suami dari Wa Haji Lilis.
"Iya, Pak kesini tanjakannya memang lumayan memacu adrenalin. Tapi kalau udah biasa pasti ngerasanya biasa aja," ujar Bapak Arka.
Keluarga Arka pun masuk ke dalam rumah, dan duduk di tempat yang sudah di sediakan.
Terlihat Elin di bantu oleh Kakak perempuan Arka, menyiapkan suguhan pada keluarga Alena.
"Duh, ngerepotin Neng!" Seru Nenek Alena.
"Ah, gak repot, Bu. Maaf makanannya seadanya," sahut Teh Ani.
"Ah ini macem-macem makanannya, terima kasih loh." Nenek Alena kembali berucap.
"Silahkan di minum dulu, pasti haus, kan. Ini ada sedikit cemilan juga untuk mengganjal perut, di jalan kan lama pasti laper." Ibu Arka menuturkan.
__ADS_1
Keluarga Alena pun mencicipi hidangan yang telah di sediakan, Mereka juga tampak saling berbincang.
Saat Bapak Arka dan keluarga Alena berbincang, Alena memilih untuk ikut membantu Ibu Arka yang menyiapkan makan siang, tak lama Nenek Alena pun menyusul.
"Aduh, Mamah udah gak usah repot-repot siapin makan juga!" Pinta Nenek Alena.
"Ah, gak repot, Mah. Kan perjalanan lumayan jauh, pasti laper. Lagian juga disini emang gini adatnya, Mah." Ibu Arka menjelaskan pada Nenek Alena.
"Oh gitu, ya. Eh, iya. Sebelumnya Saya minta maaf kalau dateng kesininya dadakan," ujar Nenek Alena.
"Ah gak apa-apa, Mah. Justru malem ya itu Saya sama Bapaknya Arka emang ngobrolin pertemuan ini sama Arka, ya Kita juga udah pada ngertilah ya maksud pertemuan ini apa. Kita bahas soal Arka sama Alena," ujar Ibu Arka.
"Iya, Mah. Saya juga sebenarnya malemnya itu juga sempet nanyain ke Alena soal hubungan Mereka, maksudnya kan Mereka udah dewasa masa mau main-main terus." Nenek Alena menanggapi.
"Iya, Mah. Rencananya Mamah maunya gimana?" Tanya Ibu Arka pada Nenek Alena.
"Emm, kalau Saya mh gimana baiknya. Kalau bisa juga jangan di lama-lamain, Mah. Takut juga kan sama pergaulan anak zaman sekarang, ya walaupun anak-anak Kita pasti bisa jaga diri. Pasti tahu batasan, tapi apa salahnya kalau memang bisa segera di halalkan." Nenek Alena menuturkan.
"Iya Saya juga setuju kalau masalah itu, Mah. Alena maunya kapan?" Tanya Ibu Arka sembari menatap Alena.
"Emm, kalau Alena gimana Nenek aja, Mah." Alena menyerahkan semuanya pada sang Nenek.
"Kalau Saya, begini Mah. Alena kan kerja keras buat memenuhi kebutuhannya sama keluarga, istilahnya Alena itu tulang punggung keluarga. Nabung untuk masa depan seperti menikah juga hasil kerja kerasnya sendiri, gak ada yang bantuin. Kalau Saya mh maunya yang sederhana aja, kalau nanti akad juga ya udah maksudnya akad nikah aja gak usah ada resepsi. Selain menghemat, biaya untuk resepsi juga kan lebih baik di pakai untuk modal Alena dan Arka setelah menikah, misal Mereka mau buka usaha. Atau mungkin Mereka mau cari rumah walaupun ngontrak," ujar Nenek Alena.
"Ah masa acaranya akad nikah aja, Mah. Apa kata tetangga nanti, takut di kira hamil duluan kalau acaranya anyep!" Seru Ibu Arka.
Alena dan sang Nenek saling bertukar pandang, Mereka sempat merasa tak nyaman dengan penuturan Ibu Arka.
__ADS_1