
Sore hari, Alena dan keluarganya brrpamitan untuk pulang. Sejujurnya Arka masih ingin berbincang dengan Alena, namun Arka tak enak jika mengantarkan Alena pulang malam.
"Kita pulang dulu, ya, Mah, Pak. Makasih loh buat jamuannya," ucap Wa Haji.
"Iya sama-sama, nanti secepatnya Kami kabari soal kedatangan Kami untuk melamar Alena." Bapak Arka menuturkan.
"Iya, Kami tunggu. Kalau begitu Kami pamit, Assalamu'allaikum." Semua berpamitan, Arka mengantarkan Alena dan keluarganya ke tempat dimana mobil di parkirkan.
"Aku pulang, ya." Alena berucap pada Arka.
"Iya. Besok Aku kerja kok, kayak biasa aja tungguin biar berangkatnya bareng." Arka menuturkan.
"Iya." Alena masuk ke dalam mobil, Arka pun masih berdiam di tempatnya hingga mobil Alena melaju.
Arka kembali ke rumahnya, dan langsung di sambut kedua orang tuanya yang ingin mengajaknya berdiskusi.
"Ka, sini duduk!" Pinta Bapak Arka.
__ADS_1
Arka berjalan menghampiri orang tuanya, dan duduk di sebelah sang ayah.
"Kenapa, Pak?" Tanya Arka.
"Soal pertunangan, Kamu maunya kapan?" Tanya Bapak Arka.
"Kalau Arka gimana Bapak aja," sahut Arka.
"Minggu depan aja, gimana?" Tanya Ibu Arka.
Arka mengangguk, "boleh. Tapi sebelumnya Arka mau tanya dulu sama Mamah sama Bapak," ujar Arka.
"Emm, emang uangnya udah ada? Maksud Arka, kan selama ini setiap gajian, uangnya Arka kasih ke Mamah katanya kan kalau Arka suatu hari butuh, pasti ada. Ya sekarang kan Arka pasti butuh biaya buat beli cincin tuanangan, buat sekadar beli parcel buah masa Kita kesana cuma bawa cincin aja." Arka menjelaskan.
"Iya, Mamah ngerti. Pokoknya Kamu tahu beres aja," sahut Ibu Arka.
"Dan satu lagi, Arka setuju sih sama usul Neneknya Alena." Arka menuturkan.
__ADS_1
"Usulan yang mana?" Tanya Bapak Arka.
"Ya yang kalau nanti nikah, akad aja Arka gak apa-apa, kok. Yang pentingkan sah, urusan resepsi nanti lagi aja. Lagian emangnya Mamah udah siap sama biaya resepsi?" Tanya Arka.
"Ya gimana, Ka. Mamah bukannya apa-apa, tapikan niat Mamah sama Bapak itu baik gak mau beda-bedain anak. Kedua Kakak Kamu kan nikahnya juga ada resepsinya," ujar Ibu Arka.
"Iya, tahu. Tapikan biayanya itu juga hasil dari jual aset. Kak Ahmad, Mamah sama Bapak jual sawah. Teh Ani, Mamah sama Bapak jual mobil. Aku gak mau pas Aku nikah Mamah jual-jual lagi aset, atau lebih buruknya pinjem sana sini." Arka mengutarakan kekhawatirannya.
"Ya kalau soal minjam meminjam mah semua juga yang hajatan normal kayak gitu, Ka. Tapikan nanti ke bayar biasanya dari tetangga-tetangga yang ke rumah ngasih amplop," sahut Ibu Arka.
"Iya Arka tahu, tapi rezeki anak itu beda-beda. Gimana kalau yang Kita dapat gak cukup untuk bayar hutang? Itukan malah jadi beban setelah Aku menikah, Mah. Karena sedikit banyaknya, hutang bekas menikahkan Aku pasti bakal minta Aku bayarin juga, kan?" Arka menebak.
"Ya kalau itu Kamu harus ngerti juga, kan itu juga Kita lakuin buat Kamu." Ibu Arka masih kekeuh dengan pendapatnya.
"Itu yang Arka gak mau, selesai menikah, Arka gak mau di bebani dengan hutang. Karena setelah menikah, Arka punya tanggung jawab yang lebih besar yaitu menafkahi istri Arka!" Seru Arka.
"Sudah-sudah, jangan berdebat. Kita cari solusi soal itu nanti lagi. Sekarang Kita fokus untuk acara lamarannya aja dulu!" Pinta Bapak Arka yang menengahi perdebatan istri juga putranya.
__ADS_1
Arka menghela nafasnya, Ia sedikit merasa kesal dengan kekeras kepalaan ibunya.