Assalamu'allaikum Jodoh!

Assalamu'allaikum Jodoh!
Tak Sabar


__ADS_3

Pagi-pagi, Arka dan kedua orang tuanya tengah membereskan rumah untuk menyambut kedatangan Alena dan keluarganya. Arka juga memberitahu keluarganya yang lain, seperti kakak-kakaknya, adik dari ayahnya yaitu Bi Imas juga saudara-saudaranya yang lain.


Di dapur, Elin membantu ibunya memasak.


Sementara Arka dan ayahnya, tengah menggelarkan karpet di ruang tengah.


Saat tengah bersiap, Bi Imas datang sembari membawa makanan mentah juga beberapa sayuran.


"Arka ini Bibi ada sayuran sedikit buat di bawa pulang Alena nanti, terus ini ada kerupuk tapi mentah, ada sedikit rengginang juga." Bi Imas memberikan bingkisan itu pada Arka.


Elin dan ibunya melirik dari arah dapur, Arka sangat berterima kasih karena Bi Imas sudah repot-repot menyiapkan oleh-oleh untuk Alena.


"Duh padahal gak usah repot-repot, Bi." Arka merasa tak enak.


"Gak apa-apa, gak sering juga. Mau jam berapa datengnya?" Tanya Bi Imas.


"Paling sebentar lagi juga sampai," jawab Arka sembari milirik ke arah jam dinding.


"Oh, yaudah Bibi mau beres-beres dulu di rumah. Nanti kalau dateng, kasih tahu, ya!" Pinta Bi Imas.


"Bibi mau ngapain emangnya? Ikut-ikutan ribet?" Tanya Elin dari arah dapur.

__ADS_1


"Ih, ya mau kenalan atuh sama keluarganya Alena!" Seru Bi Imas.


Arka menghela nafasnya, ketika mendengar pertanyaan yang di lontarkan Elin.


"Nanti Arka kasih tahu, Bi." Arka menimpali. Bi Imas pun keluar dari rumah, dan kembali ke rumahnya untuk bersiap.


"Ka, yang di bawa Bi Imas satuin ke yang Kita beli malem. Biar gak ketinggalan!" Pinta Ibu Arka.


Arka mengangguk, Ia memindahkan pemberian Bi Imas ke gundukan oleh-oleh yang Ia beli semalam dengan Ibunya.


"Mamah beli apa aja?" Tanya Elin.


"Ah cuma beli camilan kalua jeruk, terus kerupuk mie sama sambelnya, terus ada strawberry juga kebetulan Mamang Kamu lagi panen. Sama ada sayuran buncis, cabe, kembang brukol. Itu aja sih," jawab Ibu Arka.


"Ya kan banyak yang datengnya, masa mau seadanya malu. Lagian Arka juga ngasih uangnya lumayan buat belanja, ya Kita masakin yang enak atuh Lin!" Seru Ibunya.


"Emm." Elin tampak bungkam.


"Ke Alena aja, segala di sediain. Segala di bawain tiap main kesini, beda kalau sama pacara aku." Elin bergumam yang ternyata terdengar oleh ibunya.


"Ya pacar Kamu mah kan orang tetanggan, tiap hari ketemu. Kadang main ke rumah juga Mamah tawarin makan, panen dari kebun juga sering Kita kasih. Alena kan jarang main kesini, lagian di kampungnya kan gak kaya kampung Kita. Kamu kenapa, iri?" Tanya Ibunya.

__ADS_1


"Ada apa, Mah?" Tanya Arka yang datang tiba-tiba ke dapur.


"Hah? Enggak apa-apa, A." Elin menyahut, Ia takut jika ibunya memberitahu percakapan Mereka pada Arka.


"Nggak, Ka. Ini Elin tanya masaknya keburu gak, takutnya keluarga Alena keburu dateng!" Dalih Ibu Arka.


"Oh, kayaknya sih keburu. Aku coba telpon Alena dulu, ya!" Seru Arka.


"Ya udah Kamu telepon, gih!" Pinta Ibu Arka.


Arka pun meminjam ponsel Elin untuk menghubungi Alena.


Arka keluar dari rumah menuju teras, Ia pun segera menghubungi Alena.


"Halo, Len? Dimana?" Tanya Arka.


"Ini masih di jalan, Ka. Di depan stadion Si Jalak Harupat, macet soalnya ada pasar minggu gitu." Alena menjawab.


"Oh, ya udah kalau gitu. Hati-hati di jalan, ya!" Seru Arka.


"Iya." Alena pun menutup panggilan telepon dari Arka.

__ADS_1


Arka menghembuskan nafasnya, Ia tak sabar untuk bertemu Alena juga keluarganya. Arka masih tak menyangka, Ia akan menjalani momen bersejarah ini bersama Alena.


__ADS_2