
Sore hari, Alena harus lembur lebih dulu. Arka yang sedari tadi menunggu balasan Alena, tak berani jika harus menemui Alena di gudang. Ia enggan menjadi pusat perhatian, maka dari itu Arka memutuskan untuk menunggu Alena yang lembur di mesnya.
Sebelum bertemu dengan Alena, masih ada beberapa perempuan yang mencoba menghubungi Arka. Arka memilih untuk mengabaikannya, Ia sudah membuat keputusan tentang kejelasan hubungannya dengan Alena.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, saatnya Alena pulang. Sembari membereskan barang-barangnya, Alena teringat pada pesan yang di kirim oleh Arka.
"Aku samperin Dia dulu atau gimana, ya?" Gumam Alena.
"Hayoh! Kebiasaan nih, bengong mulu ih!" Seru Yusuf yang membuat Alena terkejut.
"Em, sebenernya Arka ngajak ketemu dulu. Katanya ada yang mau Dia bicarain," ujar Alena.
Yusuf merasa bingung, sebelumnya Ia memang tak tahu apa yang terjadi pada Alena dan Arka.
"Emang Kalian kenapa?" Tanya Yusuf.
Alena menghela nafasnya, Ia pun menceritakan semuanya pada Yusuf.
"Oh, hemm. Tapi menurut Aku nih, Len sebagai cowok. Arka itu terbilang anak yang baik sih, gak neko-neko, gak banyak gaya, gak tebar pesona ke setiap cewek tapi malah cewek-cewek yang banyak cari perhatiannya Dia. Soal chat cewek itu ke si Arka, ya memang sih itu di sebutnya teman tapi mesra, dan gak di benarkan juga apalagi TTMnya gak cuma ke satu cewek aja, tapi coba deh di teliti lagi sama Kamu. Kan Dia bilang tadi, Dia udah ngasih tahu ke semua TTMnya buat ngejauh dan berhenti berkabar, itu artinya Dia udah mutusin buat pilih Kamu. Artinya juga, kemungkinan Dia udah mutusin buat komit sama Kamu." Yusuf mengutarakan penilaiannya terhadap Arka.
Alena terdiam sejenak, "tapi kan Aku gak yakin Dia memang udah mutusin buat pilih Aku atau gimana, Dia gak bilang intinya apa. Kalau misalkan Dia juga mutusin buat berhenti berkabar sama Aku?" Alena pun merasa belum yakin dengan apa yang akan di bicarakan oleh Arka padanya.
"Emm, ya udahlah biar gak penasaran Kamu samperin aja. Toh gak akan lama juga, ini kan udah malem." Yusuf menyarankan.
Alena mengangguk, Ia pun memutuskan untuk menemui Arka.
"Ya udah yuk keluar! Kita bareng aja ke mesnya, Aku juga mau ke mes ngambil kunci motor!" Seru Yusuf.
"Kunci motor? Mau kemana?" Tanya Alena.
"Emm, kayaknya buat beberapa hari kedepan, Aku mau pulang pergi aja ke rumah. Kalau di mes, Aku malu, takut di ledekin nanti pas belajar shalat!" Seru Yusuf.
"Oh, ya udah gak apa-apa. Kamu emang harus punya tempat yang nyaman dulu buat mulai berbenah," ujar Alena.
Yusuf mengangguk, Mereka pun keluar dari area gedung dan berjalan menuju mes.
***
Sesampainya di mes, Arka tampak berdiri di depan pintu. Ia sepertinya tengah menunggu Alena, dan benar saja, Ia langsung sumringan ketika melihat Alena berjalan menghampirinya.
"Cup." Arka menyapa.
__ADS_1
"Euy. Masuk dulu ah, sok mangga di mulai diskusinya!" Seru Yusuf.
Yusuf pun memberi ruang pada Alena dan Arka, terlihat Alena berdiri sembari menyenderkan punggungnya pada dinding.
Arka menatap Alena, sedangkan Alena memilih menundukkan wajahnya dan tak berbicara sepatah katapun.
"Emm, maaf soal chat dari..."
"Gak usah minta maaf, lagian Aku gak berhak marah, sih. Cuma memang Aku aja mungkin yang kegeeran, Aku kira cuma Aku yang lagi deket sama Kamu, nyatanya nggak." Alena tersenyum getir.
"Aku akui, Aku emang salah. Ok, Aku juga Akui isi chat Aku sama Mereka emang nyaris kayak orang pacaran. Tapi Aku pastiin, Aku gak ada rasa sama Mereka." Arka menuturkan.
"Kalau gak ada rasa, kenapa Kakak layani? Kenapa harus TTM gitu, kan kasihan. Perempuan itu semua sama, sama-sama ingin kejelasan setiap Mereka dekat dengan laki-laki manapun. Mungkin selama ini Mereka juga nunggu kejelasan dari Kakak," ujar Alena.
"Iya, Aku salah. Aku juga udah beresin masalah itu sama Mereka, dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Gak ada lagi TTM sama siapapun," ujar Arka.
Alena mengangguk, yang Alena tanggapi dari perkataan Arka barusan adalah Ia merasa Arka juga memutuskan untuk tak lagi dekat dengannya.
"Emm kalau gitu, udah selesaikan bicaranya?" Tanya Alena.
"Kok gitu?" Tanya Arka.
"Ya emang mau bicara apalagi? Kan barusan kata Kakak, Kakak udah mutusin buat gak TTM lagi sama siapapun, mungkin termasuk sama... Aku," tukas Alena.
"Iya, Aku mutusin buat gak berhubungan lagi sama perempuan manapun. Kecuali... Kamu," ujar Arka.
Alena terdiam, Ia kini refleks menatap ke arah Arka. Alena masih mencerna perkataan Arka, dan mempertanyakan arti dari perkataan Arka.
Alena tertawa kecil, dan beralih menatap Arka dengan serius.
"Jangan ngeluarin kata-kata yang bikin Aku berekspetasi tinggi, Kak!" Pinta Alena.
Arka yang sedari tadi berada di samping Alena, beralih berdiri di depan Alena. Satu tangannya menopang tubuhnya, kini wajah Arka sedikit condong mendekati wajah Alena.
"Kamu gak percaya sama Aku?" Tanya Arka sembari menatap mata Alena.
Alena yang tak dapat bergerak, hanya bisa menatap Arka tanpa dapat berucap sepatah katapun.
"Len. Jujur, sebelumnya Aku gak biasa kayak gini sama perempuan manapun. Aku gak terbiasa menyatakan perasaan lebih dulu, tapi sama Kamu, Aku gak tahu kenapa. Aku pastiin cuma Kamu perempuan yang Aku pilih untuk berkomitmen!" Seru Arka.
Alena menelan salivanya dengan susah payah, jantungnya begitu berdekat lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
"Kamu mau berkomitken sama Aku?" Tanya Arka.
Alena yang masih gugup, hanya bisa menganggukkan kepalanya. Arka tersenyum melihat jawaban Alena, Ia pun mengelus lembut puncak kepala Alena dan berdiri sedikit menjauh dari Alena.
Alena yang sedari tadi tak dapat bernafas, sontak langsung merasa lega dan menghembuskan nafas panjangnya.
"Kenapa? Grogi, ya?" Ledek Arka sembari menertawakan ekspresi tegang Alena.
"Ih, apaan sih!" Gerutu Alena.
"Emm, udah jam segini. Aku harus pulang!" Seru Alena.
Arka melirik ke arah jam yang melingkar di tangannya.
"Oh, iya. Ya udah, Kamu bawa motor Aku lagi." Arka masuk ke dalam mes, dan memberikan kunci juga helm pada Alena.
Arka langsung memakaikan helm pada Alena tanpa di minta, Ia pun membantu menyalakan mesin motor.
"Naik!" Pinta Arka.
Alena tersenyum, Ia pun menaiki moto Arka dan hendak berpamitan.
"Aku pulang, ya!" Seru Alena.
"Emm, bentar!" Arka berdiri tepat di depan motor, Ia menempelkan tubuhnya pada bagian depan motornya.
"Jadi sekarang Kita... Resmi, nih?" Tanya Arka sembari tersenyum.
Alena pun ikut tersenyum, dan menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Asik... Ya udah nih!" Arka menyodorkan tangannya pada Alena.
Alena mengerutkan keningnya, Ia bingung mengapa Arka mengulurkan tangannya.
"Apa nih?" Tanya Alena.
"Sun tangan!" Seru Arka sembari tertawa kecil.
"Haha, ya ampun. Cium tangan itu cuma sama orang tua, dan... Suami. Kalau sekarang, belum deal!" Seru Alena.
Arka mengangkat alisnya, Ia mengerti dengan pernyataan Alena. Arka pun beralih dengan kembali mengelus puncak kepala Alena yang telah di pasang helm olehnya, "hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut! Kalau udah sampai, kabarin!" Pinta Arka.
__ADS_1
"Siap!" Seru Alena. Alena pun mulai melajukan motor, dan Arka masih menatap punggung Alena hingga Ia keluar dari gerbang pabrik.
Malam itu, Arka telah memutuskan untuk berkomitmen dengan Alena. Dan malam itu, keduanya resmi jadian.